2019-12-03 11:22:00

Seminar Balingkang Mencari Benang Merah Hubungan Bali-Tionghoa

Politik Oleh: Atmadja

Tabanan, 3/12 (Atnews) - Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati yang dikenal Cok Ace mengharapkan Seminar Balingkang dapat memperkuat dan menemukan "benang merah" hubungan Bali dengan Tionghoa yang telah berakulturasi budaya sejak lama. 
"Banyak sekali budaya Tiongkok dirasakan paling dominan mempengaruhi Bali dibandingkan dengan negara-negara lain, " kata Cok Ace di Tabanan, Selasa (3/12).
Hal itu disampaikan ketika membuka Seminar Balingkang yang mengusung tema "Melalui Kajian Etnografi Balingkang Memperkokoh Hubungan Tionghoa-Bali, Menuju Harmoni Budaya dan Religi" yang selama dua Hari, tanggal 3-4 Desember.
Kegiatan itu diawali dengan penampilan Barong Landung, Barong Sai, Barong Ket Dan Tarian Pis Bolong yang diselenggarakan oleh Paiketan Krama Bali bersama Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI)  Bali serta Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI).
Apalagi masyarakat Bali khususnya Hindu telah memiliki hubungan emosional dengan masyarakat Tionghoa sejak zaman dulu. Berbagai pengaruh budaya Tionghoa telah diterima oleh masyarakat Hindu di Bali. 
Pengaruh kebudayaan Tionghoa terhadap sistem religi dan upacara keagamaan di Bali yang dilihat dari adanya pemujaan terhadap Ratu Gede Subandar dan Ratu Ayu Subandar, pemujaan terhadap Ratu Tuan di Desa Renon dan pemujaan terhadap Barong Landung di beberapa desa di Bali Tengah (Badung, Denpasar, dan Gianyar) serta penggunaan pis bolong (uang kepeng) sebagai sarana upacara di Bali.  
Tetapi dalam bentuk lainnya seperti tempat pemujaan Dewi Kwan Im dan Ratu Ngurah Subandar.
"Seminar ini merupakan salah satu wujud dari Suksma Bali dimana kita berima kasih kita pada sesama," ujarnya. 
Jiwa wirausaha dan entertainment telah  diwariskan dari Tionghoa. 
Apabila nanti ada perbedaan pandangan terkait sejarah yang ada, dicari titik temu bersama sehingga seminar ini berguna dalam  mempererat hubungan Tionghoa dan Bali sebagai modal pembangunan menuju Bali Era Baru.
Untuk itu, kedepannya hubungan yang telah dibina sejak dulu hendaknya tetap dijaga, dipelihara bahkan ditingkatkan, bukan membuat masalah baru setelah seminar itu digelar.
Kegiatan itu juga untuk mengetahui secara lebih mendalam sejarah keberadaan masyarakat Tionghoa di Bali sehingga tergali banyak informasi sejarah untuk dapat diketahui bukan saja oleh masyarakat Bali tetapi juga masyarakat dunia. 
Maka dari itu, pemerintah akan kembali menggelar kembali Festival Balingkang pada 8 Februari 2020 di Kintamani.
Sementara itu, Ketua Panitia Prof I Nengah Duija akan menuangkan dalam bentuk Bukit yang nantinya dapat membangun kesadaran kolektif orang Bali terhadap hubungan Tionghoa-Bali mengenai hubungan sejarah, kuktural, ekonomi, dan politik.
Serta mengembangkan hubungan diplomatik antara Bali dan Tionghoa dalam bidang sejarah kebudayaan dan religi, karena kedua ini memiliki akar sejarah yang panjang di Bali maka perlu ada kajian etnografi yang lengkap tentang Balingkang terkait sejarah, budaya dan religi itu sendiri.
Begitu juga memberikan gambaran komprehensif hubungan Tionghoa-Bali terkait Raja Sri Maharaj Jayapangus dan Kang Cing Wey  putri Raja Chung Kang di Tiongkok (Dinasti Sung) 
Dengan melibatkan 100 dari berbagai profesi dan lembaga dengan narasumber Ahli Arkeologi Prof I Wayan Ardika (Fakuktas Ilmu Budaya Unud) - Balingkang Perspektif Apigrafi Bali, Ahli Kebudayaan Prof Sulystyawati - Perspektif Arsitektur.
Ahli Sejarah Dr. I Nyoman Wijaya, M.Hum (FIB Unud) -  Perspektif Sejarah Hubungan Tiongkok dengan Bali, Dr. Eng. I Wayan Kastawan, ST., MA. -  Perspektif Kajian Balai Arkeologi.
Ahli Agama Ida Sri Bhagawan Putra Natha Nawawangsa Pemayun (Perspektif Kosmologi Siwa – Budha), Ahli Sastra Babad Dr. Ida Bagus Rai Putra, M.Hum
(Kajian Sastra Babad), Dr. I Wayan Wisnu (Perspektif Lontar Purama).
Pemerhati Budaya Gst. Ngurah Paramartha (Perspektif Folklore), Iwan Pranajaya (Perspektif Tradisi Lisan), Kadis Kebudayaan Provinsi Bali (Balingkang Dalam Strategi Kebudayaan Bali-Tiongkok), Balai Arkeologi Denpasar (Perspektif Kajian Balai Arkeologi)
Kepala Museum Bali (Perspektif Permuseuman Bali), Balai Bahasa Bali
(Perspektif Kajian Bahasa Bali), Kepala Gedong Kirtya (Perspektif Koleksi Lontar Gedong Kirtya), Konjen RRT : Ahli sejarah dari Tiongkok Sejarah Persebaran Budaya Tiongkok – Nusantara/Bali.
  Tokoh Lokal  Jero Gede Batur Duuran dan Alitan (Persepsi Masyarakat Batur), Jero Mangku Kodi (Pemangku Dalem Balingkang)
- Perspektif Religiusitas Siwa-Budha, Bendesa Desa Adat Pinggan (Persepsi Masyarakat Pinggan).
Tokoh Sejarah Tionghoa Wirya Subrata (Orin Tjin Boen) dan The Bun Tjauw.
Moderator  Ir. Anak Agung Putu Agung Suryawan Wiranata, M.Sc. Phd, Dr. I Gede Suwindia, MA (IHDN), Wayan Juniarta dan Ni Wayan Jemiwi Jero. (ART/02)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Trotoar di Jalan Jendral Sudirman Karangasem Rusak Parah