Gianyar (Atnews) - Diah Mutiara Sukmawati Soekarnoputri, putri Presiden Pertama RI Sukarno telah selesai menjalankan ritual pindah ke agama Hindu atau Sudhi Wadani di Bale Agung Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, pada Selasa (26/10).
Dalam acara itu, disaksikan secara langsung oleh Putranya, Muhammad Putra Al Hadad dalam ritual upacara pindah agama Sukmawati.
Nenek Sukmawati, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben merupakan penduduk asli Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali yang beragama Hindu.
Sukmawati harus melewati proses yang panjang untuk berpindah agama ke Hindu. Setelah 66 tahun melakukan pencaharian, Sukmawati akhirnya memilih agama Hindu. Sebelumnya sudah mendapatkan persetujuan dari keluarga besarnya, termasuk putra-putrinya sampai saudara-saudaranya seperti Megawati Soekarnoputri dan Guntur Soekarnoputra.
Ia diketahui memang sudah bertahun-tahun mempelajari kitab suci Hindu. Selain itu, ada satu sosok penting yang diduga menjadi pendorongnya untuk masuk Hindu. Tokoh yang dimaksud adalah Arya Wedakarna.
Arya Wedakarna merupakan Presiden The Sukarno Center di Tampaksiring yang juga anggota DPD Dapil Bali.
Pengaruh dan bekal menjadi Hindu tidak terlepas dari pengaruh kita suci Veda Bhagavadgita yang mudah dipahami.
Selain itu, uraian Ramayana dan Mahabrata yang sudah dikenal dunia. Dirinya merasa terkesan dengan cerita Ramayana dan Mahabrata dalam bentuk komik.
"Ada seorang penulis komik Ramayana dan Mahabrata, saya suka sekali dan merasa heran akan karya itu, bermacam-macam karakter kehidupan," ungkap Sukmawati.
Hal itu disampaikan kepada awak media ketika press conference Sudhi Wadani di The Sukarno Center Tampaksiring, Gianyar, Selasa (26/10) yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70.
Ia juga bergelar Ratu Niang Sukmawati menambahkan, kisah Ramayana dan Mahabrata memberikan bekal untuk tahu Hindu zaman dahulu.
Bahkan mempengaruhi penulisan cerita untuk film bukan cerita novel atau saja penulis puisi.
"Tulisan itu untuk film bukan novel. Meksipun itu memng belum terwujud," ujarnya.
Kecintaan terhadap budaya Indonesia, khususnya Bali tidak terlepas dari pengaruh Nenek Sukmawati dan ayah kandungnya Sukarno.
"Kita sebagai warga Negara Indonesia harus tahu budaya asli daerah. Semakin banyak tahu semakin banyak pengetahuan yang diperoleh yang merupakan kekayaan bangsa," imbuhnya.
Begitu pula, dalam memahami agama Indonesia yang memiliki beragam. Hal itu telah tertuang dalam dasar negara Pancasila agar selalu mengedepankan persaudaraan dan toleransi.
"Mayoritas tidak boleh angkuh kepada minoritas, kedepankan toleransi dan persaudaraan bagi seluruh rakyat di kepulauan Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, Arya Wedakarna menambahkan, Sukmawati dikatakan kembali ke Agama Leluhur (Sanatana Dharma).
Keputusan itu diambil memang sudah dipertimbangkan dan telah mendapatkan persetujuan dari keluarah dan putra-putrinya.
Dikatakan pula, Sukmawati tengah menyiapkan garapan kesenian kolosal yang akan jadi kejutan bagi masyarakat Bali.
Dalam acara seremonial itu, Sukmawati juga menandatangani dokumen-dokumen pindah agama yang nantinya berhubungan dengan Dinas Catatan Sipil.
Setelah acara seremonial selesai, Sukmawati mengikuti upacara ritual Sudhi Wadani yang dilakukan secara terbatas dengan protokol kesehatan ketat. (GAB/ART/001)