Kendari (Atnews) - JMA DR.Ir. I Ketut Puspa Adnyana, MTP. kelahiran pada tahun 1959 di Desa Pujungan tersebut memulai pendidikan di Sekolah Dasar Nomor 1 Pujungan, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan di Kendari, Jumat (5/11).
Kemudian melanjutkan SMP Negeri Pupuan Tahun 1973 dan tamat SMA Negeri I Singaraja tahun 1979. Karena dari keluarga petani kopi di lembah barat Gunung Watukaru ia melanjutkan pendidikan pada Fakultas Pertanian Universitas Mataram tamat tahun 1984.
Lelaki yang mengaku gemar menekuni Bhagawad Gita sejak SMP tersebut melanjutkan pendidikan S2 pada Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Gajah Mada pada Magister Perencanaan Kota dan Daerah tamat dengan predikat Cum Laude tahun 1995 atas bea siswa Canadian Internasional Develeopment Agency (CIDA), yang batal ke Kanada karena memburuknya hubugan Indonesia Canada saat itu.
Lelaki penggemar babi guling tersebut melanjutkan pendidikan S3 pada Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada dengan menekuni Geografi Manusia tamat tahun 2003 dengan predikat Cum Laude.
Judul Penelitian untuk menulis Disertasi “Perubahan Pemanfaatan Ruang Dalam Perspektif Masyarakat Adat Bali Studi Kasus Padangsambian Denpasar” sebagai promotor Profesor Emiritus Ida Bagus Mantra, Ph.D yang berasal dari Griye Timpag Tabanan. Melalui penelitian untuk disertasi ia mendalami tata ruang tradisional Bali (Asta Kosala Kosali), tradisi, dretha, dengan sangat dalam dan mewawancarai dan berdiskusi dengan pada undagi dan sangging serta ahli babab, dengan tebal disertasi 618 halaman.
Pria yang gemar menulis kisah kisah pendek Itihasa dan Purana (Majalah Sradha dan Media Hindu) tersebut memulai karir PNS di Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 1985 sebagai Penyuluh Pertanian Spesialis. Kemudian karirnya terus menanjak menjadi pejabat struktural pada Bappeda Kabupaten Dati II Kendari, Bappeda Provinsi Sulawesi Tenggara, 4 kali dalam Jabatan Utama Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara sebagai Kepala Biro (Biro Pembangunan, Biro Bina Program) dan Asisten (Administrasi Prekonomian, Administrasi Umum Keuangan dan Pegawai) termasuk jabatan strategis. Berdasarkan Keputusan Presiden RI diangkat menjadi Widyaiswara berskala Nasional pada tahun 2018, dan melakukan Orasi Ilmiah dan dikukuhkan sebagai Widyaiswara Ahli Utama (Guru Bangsa) pada tahun 2019 di Auditorium Kementerian Agama RI Thamrin Jakarta.
Pria yang tercatat sebagai anggota Maha Semaya Ki Mantri Tutuan Pratisentane Sire Dalem Mangori tersebut terlibat aktif dalam Majelis Tertinggi Agama Hindu Indonesia (Parisada Hindu Dharma Indonesia) baik di Kabupaten, Provinsi maupun di Pusat. Ketua PHDI Provinsi dua periode 2005-2010, 2011-2015. Kemudian pada Mahasabha XI menjadi Wakil Sekretaris Sabha Walaka, dan akhirnya pada Mahasabha XII terpilih menjadi Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat Masa Bhakti 2021-2026.
Lelaki yang mudah tersenyum dengan postur tubuh berimbang tinggi dan berat badannya itu, cukup unik karena kedua alisnya telah berwarna putih.
Ia melaksanakan Diksa Ekajati dengan nama Jero Mangku Agung I Ketut Puspa Adnyana, di Griye Amertha Sari Desa Tampabulu Kecamatan Poleang Timur Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara, dengan nabe Ida Pandita Nabe Rsi Bhagawan Gunaraksa, yang juga tercatat sebagai anggota Maha Semaya Ki Mantri Tutuan Pratisentane Sire Dalem Mangori. Menurutnya yang paling berkesan dalam keterlibatannya dalam pembinaan Umat Hindu adalah ketika ditunjuk selaku Ketua Pelaksana Harian Utsawa Dharma Gita ke X Tahun 2008 di Sulawesi Tenggara. Terkesan karena seluruh panitia diterima di Istana Negara Jakarta, berhubung Presiden tidak hadir di Kendari.
Selama menjadi Ketua PHDI Provinsi Sulawesi Tenggara telah berhasil melaksanakan kegiatan kegiatan keagamaan yang bertarap Nasional seperti UDG X Tahun 2008, Pesamuhan Agung PHDI Pusat Tahun 2008. Membangun dan melengkapi sarana dan prasarana dengan bantuan APBD Provindi dan Kabupaten/Kota. Memfasilitasi dalam pembiayaan dari APBD Provinsi pelaksanaan Munas KMHDI Tahun 2017.
Pria yang memiliki hobi mengkoleksi buku bestseller tersebut mengaku sangat penting untuk membangun networking dengan pemerintah dan mendudukan warga Hindu pada berbagai lini untuk membangun kemartabatan Hindu Indonesia, termasuk di pemerintahan dan lembaga perwakilan rakyat.
Menurut pria yang sering diapanggil JMA (Jro Mangku Agung) tersebut yang mendalami Geguritan Sucita-Subidi mengaku menjadi Pemimpin Agama harus iklas dan lascarya, sebab sering mendapat stigma negatif dan fitnah.
Misalnya dalam proses pilkada sering didatangi oleh Bakal Calon Kada, menghadiri acara acara internal ataupun eksternal, apakah sampradaya ataupun perkumpulan lain, dicantumkan nama sebagai penasehat bahkan penanggungjawab sebuah organisasi tanpa memberitahu terlebih dahulu. Sebagai Pembina umat tentu saja, tidak boleh diskriminatif dalam melakukan pembinaan sepanjang didukung oleh ketentuan dan susastra Veda.
Pria yang mengaku sehat dalam arti tidak memiliki keluhan kolesterol, darah tinggi, diabetes, asam urat tersebut mengisahkan bahwa dirinya terus berupaya taat dan lurus dalam mentaati ketentuan sebagai Pejabat Utama di Provinsi. Hal tersebut sangat penting karena selaku Pembina umat Hindu.
Pria yang humoris dan kadangkala galak tahun itu Tahun 2015 Lulus Seleksi Calon Sekretaris Jenderal KPK dari sejumlah besar peserta. Disamping itu, pria yang bercita cita untuk melanjutkan ke Diksa Dwijati tersebut, pernah sebagai PNS Teladan Terbaik se Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 1987.
Sebagai penutup, dalam pelatihan dan pendidikan struktural pria yang pernah sebagai pemimpin teater tersebut telah mengikuti Diklatpim Tingkat III (1997), Diklatpim Tingkat II (2011) dan Diklatpim Tingkat I (2013) yang jarang bisa dicapai oleh PN. (z/ART/001)