Banner Bawah

Renungan Bhisma Menjelang Kematiannya: Pilihan yang Egois

Artaya - atnews

2021-12-01
Bagikan :
Dokumentasi dari - Renungan Bhisma Menjelang Kematiannya: Pilihan yang Egois
Slider 1

Oleh Jero Mangku Agung I Ketut Puspa Adnyana
Om Om sujud di kaki padma Hyang Pamamakwi, Betara Betari, Leluhur dan Rsi Rsi Agung  hamba memohon restu dan pengampunan karena menrasikan kembali ajaran Veda. Memohon petunjuk dan ampunan kepada Maharsi Vedawiyasa agar ten keneng pastu lan updrawa sebagai pemupul ajaran Veda. Om Siddhirastu Astu Tat Astu Swaha.
Pada masa Mahabharata, tidak ada yang lebih unggul dan trengginas daripada Dewabratha, yang kemudian dikenal sebagai Bhisma atau Putra Gangga. Sang awatara Rama Bhargawa, yang dikenal dengan nama Rsi Parasurama tidak mampu menandingi kedasyatan Bhisma. Bhisma belajar dari para dewa, karena sejak bayi sampai remaja digembleng di planet swah, alam para dewa.  Rsi Bhisma sering dipanggil Bhisma yang Agung. Sungguh sebuah panggilan yang menggetarkan.
Namun ketika perang berlangsung, pahlawan gagah perkasa itu terkapar dan memejamkan matanya. Sesekali Nampak tetesan darah mengalir di batang panah bersamaan dengan ego yang menyertainya, sisa sisa sari pati makanan dari Hastinapura yang dilindunginya. Kini ia menerawang jauh ke belakang dan melihat ibunya, Dewi Gangga tersenyum pahit. “Engkau anakku yang perkasa, ketika engkau mengambil keputusan untuk meninggalkan istana demi cintamu pada ayahmu, engkau tidak meminta pertimbangan Ibu. Kini engkau meratapi nasibmu di hadapanku dengan harapan mendapat kasihku. Aku adalah ibumu, tidak akan pernah lupa mengasihimu. Namun ibu boleh menghayal, meskipun kini tidak berguna. Sejarah wangsa Kuru yang engkau banggakan itu, akan berbeda bila engkau tetap menjaga hakmu sebagai pangeran Hastinapuru dan Putra Mahkota. AH…aku tidak mau bicara lagi”, kata Dewi Gangga mengusap usap kepala anaknya. Air mata Dewi Gangga membasahi dahi Bhisma, yang ia rasa nehtar abadi. Bhisma menitikan air mata, namun air mata itu Nampak merah.
“Ibu ampunilah anakmu ini. Berilah restu kepadaku”, kata Bhisma. Dewi Ganggan tersenyum, dan kembali mengusap dahi anaknya.
“Restu apa yang engkau butuhkan lagi anakku, bukankah Sri Wisnu dalam wujud Sri Krihna telah membebaskan dirimu. Engkau beruntung anakku. Ibumu ini memohon sejak aku ada di bumi ini untuk kembali ke kahyangan pun belum dipenuhiNya. Tenangkanlah hatimu.:, setelah berkata Dewi Gangga gaib. 
Bhisma memandang langit. Ia memuja Siwa Raditya memohon kesejukan atas sinarnya yang terang dan panas. Ia merasa sejuk dan kemudian tertidur lelap. Ia tidak mendengar lagi dentingan senjata yang beradu, sementara darah terus menetes menelusuri batang panah sujud kepada Dewi Pertiwi. 
Matahari senja dengan sinar keemasan menerobos Kurukesetra, pertanda perang usai. Prajurit Hastinapura terdengar bersorak sorai menandakan kmenangannya pada hari ini. Sementara prajurit Pandawa yang dipimpin Dresthajumna Nampak berjalan menunduk dan letih.
Bhisma terbatuk batuk, dari bibirnya Nampak darah merembes. Lalu sehelai kain putih mengusapnya. Bhisma terkejut.
“Engkau Karna anakku…. Mendekatlah”, kata Bhisma. Karna mendekat dan menundukkan wajahnya seraya berkata: “Ampun paduka Bhisma yang Agung…meskipun engkau membenci diriku aku tetap memandangmu sebagai orang tua yang harus dihormati. Ampun paduka…..”,
Bhisma tertawa dan Nampak dadanya meloncat loncat sehingga darah lebih bergegas mengalir.
“Jiwa kesatrya sejatimu menunjukkan sikapmu yang murni anakku.. Bukan kesatrya kalu tidak memiliki sikap seperti ini. Itulah sebabny sejak kamu melangkah ke medan Gurukul, aku mengenal dirimu sebagai seorang kesatrya”, kata Bhisma tetap tersenyum.
“Bila paduka mengetahui asal muasalku mengapa paduka diam saat itu. Bila itu terjadi tentu perang besar ini tidak akan terjadi paduka..”.
“Engkau salah Karna, karena aku tahu maka aku diam. Bila perang ini tidak terjadi, kebaikan tidak akan muncul. Perang ini muncul untuk membangun kesadaran baru, untuk membangun dunia dan manusia. Jangan engkau pernah mengira Brahman membiarkan hal buruk terjadi pada kemuliaan ajaranNya. AKu menunggu sejak lam hal ini terjadi”, kata Bhisma. Karna diam dan Nampak berpikir keras.
“Aku dating untuk memohon restu kepadamu paduka untuk memenangkan perang demi Hastinapura”, kata Karana pada akhirnya. Nampak Bhisma mau tertawa tetapi terhalang batuk batuk yang semakin keras. Karna membantu Bhisma dengan memijat lengannya.
“Aku merestuimu Karna, tetapi bukan untuk kemenangan. Kemenangan itu ada dimana ada Sri Krishna, penguasa kemenangan. Karena itu engkau harus berperang dengan sungguh sungguh, untuk mengabadikan namamu sebagai pahlawan sejati yang dikenang sepanjang masa.”, kata Bhisma perlahan tetapi jelas terdengar.
“Apa artinya paduka?”, kata Karna. Namun Bhisma tidak menjawab Nampak matanya perlahan terpejam dan diam. Tetesan darah perlahan dari lukanya dan mengalir di batang panah menyembah Dewi Pertiwi. Karna perlahan bangkit tidak ingin membangunkan Bhisma yang mulai lelap dalam peristirahatannya.
Ketika kemudian Karna melangkah semakin jauh, terdengar terikan burung gagak yang bergerombol memetong jalannya. Karna menghentikan langkahnya dan menyebah ke arah terbangnya burung itu. Karna sudah meras tertembak panah dasyat di lehernya, namun ia terus melangkah ke kemahnya. 
Dalam hidup ini ada dua hal penting rasa syukur dan penyesalan. Yang pertama membangun kedamaian, dan yang kedua membangun kepedihan. Itulah beban Bhisma. Bhisma bersyukur karena akhirnya bebannya tanggal dan ia melenggang. Penyesalannya yang terlambat disadarinya, keputusan dan janji yang keliru tidak pernah ia bisa perbaiki. Para penganut romantisme akan memandang Bhisma sebagai pahlawan cinta. Para ksatriya memandang Bhisma sebagai pahlawan perang. Para Brahmin memandang Bhisma sebagai manusia yang sempurna. Hanya Sri Krishna yang jujur menjadikan Bhisma sebagai contoh kesalahan dalam memahami swadharma. Bukan Bhisma yang seharusnya berkorban, tetapi Raja Sentanu. Untuk membangun masa depan sebuah generasi baru orang tua harus berkorban. Karena masa depan milik generasi baru.
Bhisma terus merenungkannya dan akhirnya ia sadar bahwa tindakan tidak mementingkan diri sendiri atau mencari keuntungan diri sendiri adalah jalan yang benar. Janjinya untuk melindungi Hastinapura tampak sumir dan angkuh. Memang angkuh, keluh Bhisma, lalu ia tertawa dan bersyukur atas restu Sri Krishna yang membebaskannya dari beban. Kesadaran itu muncul hanya kurang dari satu detik, hanya sekejap. Kesadaran itu tiba pada saat keangkuhannya memuncak dan menanyakan kesalahannya. “Engkau telah keliru memahami kebenaran sejati Bhisma yang agung. Tindakanmu seharusnya diarahkan untuk kesejahteraan masyarakat dan bukan untuk keluargamu”. Belum pernah dalam hidup Bhisma merasakan dadanya bergejolak dalam menghadapi musuh, namun kata kata Sri Krishna mematikannya.
Konflik memang diciptakan untuk membangun tatanan baru. Tanpa konflik tidak ada kebaruan. Sebuah tananan kehidupan yang lebih sesuai dan seimbang dengan masanya. Karena itu sebuah konflik harus dimaknai sebagai sesuatu hal yang penting dalam kehidupan. Konflik pasti memiliki jawaban untuk memecahkannya. Kalaupun tidak, kadangkala dengan melupakannya…ia hilang dengan sendirinya. Sayangnya manusia terlalu usil untuk memikirkannya. Bhisma lalu tersenyum dan menghembuskan nafas terakhirnya tepat masa Uttarayana menapak. Rahayu. (*)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Tandai Pembukaan Bulan Bahasa Bali, Koster Nyurat Lontar Bersama Seribu Pelajar dan Mahasiswa

Terpopuler

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Wabup Buleleng Gede Supriatna Resmikan Kantor Perbekel Desa Alasangker, Tekankan Pelayanan Masyarakat Meningkat

Wabup Buleleng Gede Supriatna Resmikan Kantor Perbekel Desa Alasangker, Tekankan Pelayanan Masyarakat Meningkat

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

Sorotan Restaurant Dharma Uluwatu, PHK Sepihak hingga Dugaan Pelecehan Simbol Agama

Sorotan Restaurant Dharma Uluwatu, PHK Sepihak hingga Dugaan Pelecehan Simbol Agama