Karangasem (Atnews) - Warisan turun-temurun Desa Adat Duda, Selat Karangasem kembali menggelar warisan tradisi siat api (perang api) di Karangasem, pada Tilem Sasih Kawolu nemu Kajeng Kliwon, Selasa (1/2).
Tradisi unik itu yang digelar setiap tahun sekali sebagai sebuah rangkaian upacara Usaba Dalem Desa Adat Duda.
Perbekel Desa Duda Timur mengatakan, tradisi siat api merupakan rangkaian Ritual Upacara "Metabuhin' di Desa Adat Duda yang dilanjutkan dengan ritual "Metek-tek Prus" yang dimana para peserta mengeluarkan kata-kata "Waaalung.... walung...walung..., Kelod Kauh ngalih be cicing, meratakan batu lempeh" bertujuan untuk ngulah Kale/Nyomya Kala atau menetralisir kekuatan jahat dari Desa Adat Duda.
Tradisi tersebut juga bertujuan untuk mengendalikan emosi dalam diri masing-masing Krama. Secara filosofis juga merupakan pembersihan Buana Agung dan Buana Alit.
Peserta yang ikut ambil bagian dalam Tradisi tersebut yakni Krama Desa Adat Duda, diikuti dari Pecalang, Sabha Yowana se-Desa Adat Duda. Siat Api yang dibagi menjadi dua pasukan, yaitu kelompok timur dan barat.
Pasukan Siat Api kelompok timur yang dipimpin langsung oleh Perbekel Desa Duda Timur. Kelompok Barat yang dipimpin oleh Kepala Desa Duda karena keduanya merupakan Krama Adat Duda. Tradisi Siat Api tersebut yang diwasiti oleh Jero Bendesa Adat Duda.
Pelaksanaan tradisi yang dimulai pada sore hari menjelang malam/ sandikala, bertempat di perbatasan Desa Duda Timur dengan Desa Duda tepatnya di atas Tukad Sangsang.
Sarana yang digunakan untuk Siat Api yaitu menggunakan danyug/prakpak (daun kelapa kering yang di ikat) yang disulut api dan selanjutnya saling adu antar Krama yang sebelumnya sudah dibagi kedalam dua kelompok, yang dibedakan dengan ikat kepala yaitu berwarna poleng dan merah.
Begitu sengitnya pertempuran siat api sehingga tidak terasa ada suasana permusuhan. Setelah tradisi siat api usai semu peserta kembali tertawa riang, saling berpelukan, sehingga suasana permusuhan hilang setelah tradisi siat api tersebut usai. (Z/ART/YON/001)