Oleh Jro Gde Sudibya
Industrialisasi, modernisasi dan globalisasi adalah ciri kemajuan di zaman kita, masyarakat Bali telah mengalaminya terutama dalam 4 dasa warsa terakhir, terutama yang digerakkan oleh "mesin " pertumbuhan industri pariwisata. Kita bisa mengetahuinya dengan baik, sebut saja ratio economic benefit dengan sosial cost-nya. Perubahan sosial, akibat transformasi ekonomi bagian dari ke seharian kita, dengan segala suka dan dukanya.
Bagi yang cerdas mengelola perubahan mereka bisa menjadi pemenang, bagi yang gagal, mereka menjadi The Losser, pihak yang kalah dan menjadi pecundang.
Dalam konteks ini, menarik untuk disimak, sebuah artikel di Kompas, Minggu, 6 Februari 2022, yang mengulas: kota-kota yang menarik untuk dihuni, ditempati, tempat nyaman untuk berkarya adalah kota-kota yang bercirikan: terbuka, toleran, ada dan lahir suasana yang mendorong kreatifitas berkreasi dan berkebudayaan bagi penghunimya. Kota-kota dengan inovasi dan invensi tinggi pada sebagian warganya. Menurut artikel di atas, Bali memenuhi syarat untuk kualifikasi tersebut.
Pernyataan yang tidak lagi baru, dalam 4 dasa warsa terakhir terjadi migrasi luar biasa ke Bali, dengan 2 kategori: ruralisasi, orang-orang kota besar, metropolitan tinggal di Bali dan urbanisasi, orang-orang dari perdesaan dan kota-kota kecil "menyerbu" Bali. Bali, selama 40 tahun menjadi "melting pot" interaksi: penduduk lokal, migrasi rural dan urban, dengan seluruh konsekuensi ekonomi, sosial dan kulturalnya. Hanya saja, sangat disayangkan tidak ada hasil riset yang dipublikasikan terhadap risiko melekat dari "melting pot" ini.
Culturul Studies yang ada, yang diniatkan oleh Bapak pendirinya, semestinya melakukan kajian mendalam dan kemudian dipublikasikan terhadap cultural shock yang terjadi akibat "melting pot" di atas.
Tantangan yang dihadapi Bali, dengan kota-kotanya terus bertumbuh, migrasi akan berlangsung lebih deras, pertama, pengambil kebijakan, melakukan rumusan kompromi, rekonsiliasi, antara konflik kepentingan, trade off: industrialisme, modernisme globalisme dengan nilai dan prinsip-prinsip dasar Kebudayaan Bali. Kedua, kebijakanan pengaturan ruang, RUTR dan detail tata ruangnya, dilaksanakan secara konsisten, dengan rule of law yang ketat tanpa kompromi.
Ketiga, dirumuskan secara matang dengan visi ke depan, design kota di masa depan, berbasis sastra Taksu Bali, lengkap dengan wiweka merespons perubahan.
Keempat, penyiapan kualitas SDM Bali tidak bisa lagi ditunda, untuk cerdas merespons perubahan, resilensi, daya tahan mental menghadapi perubahan. Harus segera lahir sebut saja " the authentic netizen digital ". Sehingga "Silicon mini" yang akan diresmikan di Pulau Serangan, berupa sekolah berbasis IT kerja sama dengan MIT, rencananya diresmikan bulan Oktober 2022, dengan perangkat industri dan paket pengembangan skema bisnisnya, memberikan kesempatan kepada putra-putri terbaik Bali di bidang IT, mengenyam kesempatan emas pendidikan, riset dan skema bisnisnya.
*) Jro Gde Sudibya, ekonom dan pengamat ekonomi.