Bangli (Atnews) - Dampak pandemi Covid-19 benar-benar telah menyebabkan perkembangan sejumlah desa wisata di Kabupaten Bangli kian lesu. Terbukti, dari 31 Desa Wisata yang telah ditetapkan melalui SK Bupati Bangli, yang sampai kini masih mampu bertahan hanya 7 desa wisata saja.Sisanya, rata-rata mati suri. aktif.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bangli, I Wayan Sugiarta saat dihubungi Selasa (15/02)
Disampaikan pula,sisanya sebanyak 24 desa wisata lainnya kondisinya kini cukup memprihatinkan dengan kata lain benar-benar lesu bahkan ada obyek DTW dibiarkan begitu saja hingga rumput liar tumbuh subur.
"Beberapa memang masih ada jalan. Tapi dengan kondisi seperti sekarang dimana-mana pasti lesu. Sehingga masyarakat kita juga tidak intens mengelola "ujarnya.
Meski demikian, salah satu desa wisata yang paling eksis ditengah gempuran badai pandemi saat ini adalah desa wisata Penglipuran.
"Untuk desa wisata Tembuku juga masih menggeliat. Termasuk di Desa Tamanbali, mereka kini menyiapkan rencana untuk penataan lebih lanjut Taman Bali Raja serta telah membentuk Pokdarwis. Mereka mengambil hikmah positif dari pandemi ini, untuk menyongsong era baru,"jelasnya.
Sementara, kondisinya benar-benar lesu salah satunya wisata di Guliang Kangin. Selain itu, untuk DTW di Pura-Pura, karena lebih didominasi kunjungan wisatawan mancanegara, untuk sekarang walau dibuka pun tidak akan ada yang berkunjung”katanya.
Disinggung upaya untuk pengembangan kembali desa wisata yang kondisinya terpuruk tersebut, pihak Disparbud Bangli mengaku tetap meningkatkan upaya promosi dan pengembangan SDM yang ada.
"Memang dengan keterbatasan yang ada, ketika semua lesu yang berdampak pada PAD kita dan juga dana kita juga tak seperti sebelumnya. Tapi, kita selalu bergerak dibidang promosi dan pengembangan SDM tetap didanai untuk desa wisata menyasar Pokdarwis," ucapnya (Anggi/001)