Banner Bawah

Tim Gabungan Telusuri Perjalanan Resimen Mahasiswa Ugrasena

Admin - atnews

2022-03-01
Bagikan :
Dokumentasi dari - Tim Gabungan Telusuri Perjalanan Resimen Mahasiswa Ugrasena
Slider 1

Bangli (Atnews) - Tim Gabungan Penerbitan Buku Perjalanan Resimen Mahasiswa Ugrasena melacak  berapa situs prasasti Ugrasena dan tempat suci Pura Puncak Penulisan dan Pura Dalem Balingkang di Bangli, Senin (28/2).
Bertepatan dengan peringatan Israj Miraj dan merayakan upacara melasti memperingati mengadakan perjalan mengakhiri Tahun Caka Nyepi Tahun Saka 1943 selama 3 hari ( 28 Februari - 2 Maret) dan sambut Maha Siva Ratri (1 Maret 2022).
Penelusuran yang dilakukan oleh Tim Gabungan yang dibentuk terdiri dari Korps Menwa Urgasena (KMU), Monumen Perjuangan Bangsal (MPB), Media Online Atnews dan Siliwangi News.
"Kami mohon doa restu dan syukur serta  diskusi ringan," kata Ketua Harian MPB Bagus Ngurah Rai yang didampingi Direktur Utama Atnews I Wayan Artaya.
Rombongan mulai dari Monumen Resimen Mahasiswa Ugrasena di kawasan MPB, Dalung Badung menuju  beberapa lokasi di kabupaten di Bangli.
Agenda tersebut bertujuan meperkenalkan beberapa  tempat situs lokasi kerajaan Ugrasena kepada Generasi Baru, khususnya dikalangan Menwa Ugrasena.
Selanjutnya, pihaknya dalam memperingati HUT ke-58 Menwa dapat diagendakan kunjungan di beberapa lokasi dimaksud.
Oleh karena, nama Menwa Ugrasena tidak terlepas dari perjalanan sejarah keberdaan Raja di Bali. 
Dimana Ugracena merupakan ayah dari Raja Udayana yang berjaya di Bali, perjuangan dan semangat inilah yang hendak ditanamkan pada setiap kalangan Menwa.
Dalam pemberian nama Ugracena oleh  prof IB Mantra ketika itu menjabat sebagai Rektor Universitas Udayana tahun 1964.
Dalam wawancara khusus Th. 1983, ketika Prof IB Mantra sebagai Gubernur Bali menjelaskan tentang pemberian nama  Ugrasena kepada Bagus Ngurah Rai ketika menjabat sebagai Kasmenwa Ugrasena Bali (Repoter RRI dan juga Team penerbitan Bulettin Resimen Mahasiswa).
Dimana Ugracena merupakan ayah dari Raja Udayana yang berjaya di Bali, perjuangan dan semangat inilah yang hendak ditanamkan pada setiap kalangan Menwa,” katanya.
Ditinjau dari segi arti kata Ugrasena berarti pemimpin tentara yang kuat dan hebat sehingga ditakuti atau mengerikan bagi musuh - musuhnya.
Untuk itu, Ugrasena bergelar Sang Ratu Sri Ugrasena berarti pemimpin atau raja mulia kuat dan gagah perkasa ditakuti atau mengerikan bagi musuh - musuhnya.
Hal itu sebagai sifat ideal bagi raja dalam ajaran Hindu (Gde Puja MA, Tjokorda Rai Sudarta 1997). 
Sang Ratu Sri Ugrasena adalah seorang raja di Bali, yang diperkirakan memerintah antara 915-942 (atau 837-864 Saka).
Pusat pemerintahannya ialah di Singhamandawa. Raja Ugrasena mengeluarkan prasasti-prasastinya tahun 837-864 Ç (915-942 M). 
Sedikitnya ada sembilan buah prasasti yang dikeluarkan, dan semuanya berbahasa bahasa Bali Kuno. Prasasti-prasasti yang dimaksud adalah prasasti Srokadan (837 Ç), Babahan I (839 Ç), Sembiran AI (844 Ç), Pengotan AI (846 Ç), Batunya AI (855 Ç), Dausa, Pura Bukit Indrakila AI (857 Ç), Serai AI (858 Ç), Dausa, Pura Bukit Indrakila BI (864 Ç), Gobleg, Pura Batur A.
Masa pemerintahan Raja Ugrasena kira-kira sezaman dengan Mpu Sindok dari Wangsa Isyana di Jawa Timur. Ia tercatat mengeluarkan beberapa prasasti yang berhubungan dengan berbagai kegiatan rakyatnya, antara lain mengenai pemberian anugerah, perpajakan, upacara keagamaan, pembangunan penginapan dan tempat persembahyangan untuk peziarah.
Disamping itu, Ugrasena merupakan nama Raja Mathura, sebuah kerajaan yang dihuni kaum Yadawa, Wresni, dan Bhoja.
Ugrasena dipilih oleh kaum Yadawa sebagai Raja berdasarkan kecakapannya di bidang peperangan dan sikapnya yang tenang terhadap isu politik dari dalam dan luar negeri. 
Ugrasena menikahi Ratu Padmawati dan merupakan ayah Kamsa. Oleh karena kekuatan Kamsa yang luar biasa, Ugrasena mengumumkannya sebagai putera mahkota Mathura, dan menjamin dirinya sebagai penerus kerajaan setelah Ugrasena pensiun atau wafat. Setelah itu, Ugrasena juga mengangkat Kamsa sebagai panglima perang pasukan Mathura.
Namun, oleh karena sikap Kamsa yang suka bermusuhan dan kekejamannya terhadap prajurit dan penduduk Mathura, pergeseran pun terjadi yang mengakibatkan perdebatan apakah Kamsa tidak akan diangkat sebagai raja. 
Tetapi, sebelum rakyat memberontak dan berubah pikiran, Kamsa menggulingkan kekuasaan ayahnya dengan dukungan dari mertuanya, Raja Jarasanda dari Magadha beserta angkatan perangnya yang besar. Setelah serangan tersebut, Kamsa memenjarakan ayahnya dan mengurungnya di ruang bawah tanah yang dalam selama beberapa jangka waktu.
Setelah kematian Kamsa di tangan Krsna, Ugrasena diangkat menjadi Raja Mathura dan wilayah kekuasaannya sangat luas selama beberapa lama. Putra mahkota di bawah pemerintahan keduanya adalah ayah Krsna, Basudeva.
Pada kesempatan itu, pihak juga mengungkapkan dalam rangka HUT ke-54 Menwa Ugracena Bali, Prof. Mantra diberikan penghargaan yang langsung diterima istri almarhum Ny. Badri Mantra, bersama sang anak yang juga Wali Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra di Griya Seba Sari, Denpasar, Kamis (27/9/2018).
Alm. Prof. Dr IB Mantra, selain berjasa di bidang keagamaan, seni budaya, ekonomi dan pembangunan, gubernur pencetus LPD di Bali ini juga memiliki peran dalam perjalanan Resimen Mahasiswa (Menwa) di Bali.
Menurutnya, Prof. Mantra yang juga Duta Besar Indonesia untuk India merupakan salah satu tokoh yang memiliki dedikasi terhadap keberadaan Menwa di Bali. Menwa sendiri mulai memasuki Bali dan berkembang pertama di Universitas Udayana ketika Prof. Mantra menjadi rektor.
“Saat beliau (Prof. Mantra, red) menjadi Rektor Unud, saat itulah Menwa mulai diterapkan di Bali yakni di Unud, bahkan nama Ugracena itu dicetuskan oleh Prof. Mantra," ungkapnya. 
Ia mengatakan, penghargaan itu merupakan wujud rasa terima kasih kepada almarhum atas dedikasi dan jasa pemikirannya yang digunakan hingga kini.
Sementara itu, Ketua Umum Monumen Perjuangan Bangsal, Dr. Bagus Ngurah Putu Arhana, juga mengatakan bahwa sejak pembangunan monumen Menwa di Museum Perjuangan Bangsal, tak lepas dari dedikasi dan pemikiran Prof. Mantra.
Dengan berdirinya monumen yang telah berdiri sejak 29 September 1964 lalu, menjadi tonggak perkembangan Menwa di Bali. (GAB/*/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Bule Tunggang Langgang Selamatkan Diri Saat Gunung Agung Mendadak Erupsi

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng