Banner Bawah

Indonesia dan Pangkalan Militer Asing

Admin - atnews

2022-03-09
Bagikan :
Dokumentasi dari - Indonesia dan Pangkalan Militer Asing
Slider 1

Oleh Gede Pasek Suardika 
Betapa pentingnya Indonesia bagi AS dan Sekutunya. Sehingga Indonesia saat ini tanpa disadari telah dikelilingi banyak Pangkalan Militer mereka.
Hal ini bisa dimaklumi, ketika jaman kegelapan di Eropa dulu, bumi Nusantara telah gemah ripah loh jinawi dengan segala kekayaan alamnya. Di tengah kelaparan yang memuncak di abad 12, 13, 14 banyak ekspedisi Eropa datang ke Asia Tenggara utamanya Nusantara untuk mencari tanah harapan.
Mereka disambut dengan gembira sebagai tamu dan akhirnya memulai perdagangan. Kebutuhan pangan dan lainnya di Eropa pulih dengan cepat. Mereka pun akhirnya maju pesat dan berkat kelengahan dan pujian, Tanah Nusantara dijajahnya sampai ratusan tahun. Warga Nusantara diadu domba terus menerus dengan politik Devide et Impera. 
Sehingga wajar walau Indonesia telah merdeka, tetapi upaya melepas mandiri Indonesia akan ditolak mereka. Mereka telah mendapatkan banyak kemakmuran dari tanah Nusantara hingga sekarang.
Berbagai cara mengikat Indonesia, tentu termasuk memberikan efek khawatir. Namun yang pasti, jika terjadi perang dengan AS dan NATO maka Indonesia sudah dikurung. Bahkan beberapa kali rayuan untuk membangun Pangkalan Militer di Indonesia sudah dilakukan AS namun masih ditolak Indonesia. 
Pertanyaan sederhana, dengan kemajuan teknologi saat ini, mampukah alutsista kita menghadapi mereka .? Karena ini bukan lagi era perang gerilya atau era bambu runcing.
Era perang dengan serangan udara rudal balistik, roket jarak jauh dan serangan dengan Drone dan lainnya. Penggunaan satelit dalam perang dan lainnya. Belum lagi jika kapal induk mereka  bergerak di daerah kepulauan kita menjadi pangkalan perang terapung.
Jadi wajar jika saat ini Indonesia sebagai salah satu negara besar di dunia kesulitan untuk lepas dari pengaruh AS dan NATO. Tentu beda dengan bacaan geopolitik Russia yang sudah dipepet pangkalan militer AS dan NATO. Di Polandia, Estonia, Rumania dll. Sehingga jika Ukraina dibangun hal yang sama maka jarak ibukota Moscow dengan batas wilayah Ukraina tempat pangkalan militer AS dan NATO sangat dekat. Menjaga ibukota adalah menjaga negara. Sebab jika ibukota jatuh maka negara itu kalah. 
Sebagai negara besar tentu ini mengkhawatirkan Russia sebagai rival utama AS di dunia. Pilihannya adalah taklukan dulu sebelum kuat mengurungnya. Apalagi perlakuan neo Nazi di Ukraina terhadap etnis keturunan Russia sangat diskriminatif. Kasus Crimea, Donbass sehingga mereka memilih lepas dari Ukraina. Apalagi Russia punya pasukan dan senjata yang sama canggihnya dengan AS dan Sekutunya. Jangan sampai mereka kuasai Eropa Timur lalu melemahkan Russia. Perang pun terjadi. 
Di Indonesia, kita pernah alami kasus Tim-tim. Dimana awalnya ketika Portugis pergi, Indonesia masuk dengan sokongan Barat juga, namun ketika diketahui ada sumber energi besar di tengah laut, maka mereka berubah menekan dan akhirnya Timtim pun lepas dari Indonesia. AS dan Sekutu lewat Australia kini memiliki pengaruh besar di Timor Leste.
Saat itu F16 kita diembargo sehingga nyaris jadi besi tua tidak bisa terbang dan harus kanibal. Alasannya melanggar HAM. Padahal pesawat itu kita beli bukan hibah. Membeli mahal tapi tidak bisa dipakai.
Pengalaman itu kemudian Indonesia beralih ke Sukhoi Russia. Bahkan dibayar dengan komoditi pangan seperti ketan pun Russia mau demi bantu pertahanan Indonesia. Sampai sekarang masih digunakan menjaga pertahanan udara Indonesia.
Kini, Gerakan Papua Merdeka sedang dimainkan. Semua juga bisa baca siapa saja Asing yang bermain. Selain Freeport yang mengkeruk emas perak tembaga, ada cadangan Uranium terbesar di dunia disana. Sangat ngiler untuk bisa dikuasai. Lihat saja kondisi geopolitik Papua Nugini saat ini ketika menjadi negara yang dikurung oleh kepentingan AS dan Sekutunya. Kekayaannya dikeruk. 
Namun kini rencana pembelian Sukhoi yang sudah berjalan akhirnya gagal dan Indonesia beralih ke Rafale Perancis. Konon desas desus ada tekanan juga dari AS agar ambil pesawat di sekutunya jika tidak mau F 16 akibat trauma masa lalu. Bagi AS, jangan sampai terlalu banyak ada jejak saingannya Russia di Indonesia.
Perlu kekuatan dan nyali besar untuk mau membangkitkan Nusantara kita seperti masa lalu. Seperti dimana kekuatan Maritim Nusantara mampu kuasai lautan, bahkan hingga ke Cina India Madagaskar Afrika Selatan. Apalagi dengan kondisi Masyarakat Indonesia yang mudah diprovokasi dan diadu domba dengan politik identitas. 
Masih kuatkah politik bebas aktif kita...? 
*)Gede Pasek Suardika, Politisi dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN).

Baca Artikel Menarik Lainnya : Mandirikan Ekonomi Daerah, Bangkitkan Semua Inovasi

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius