Oleh Jro Gde Sudibya
Acarya Agni Yogananda (walaka Putu Alit Bagiasna) meninggal, Kamis, 24 Maret 2024 di Rumah Sakit Bali Mandara, sekitar pukul 02.00 wita. Kepergiannya patut dikenang, sebagai mana ungkapan: the great man has spirit longer than his life.
Meninggal pada usia 65 tahun, tetapi kalau disimak perjalanan kehidupannya dalam 40 tahun terakhir, sarat dengan nilai-nilai perjuangan dalam spektrum luas, pembaruan keagamaan Hindu, penegakan hukum dan HAM, perlawanan terhadap kekuasaan yang cendrung korup, pemberdayaan Desa Pakraman dan sejumlah isu lainnya yang bersinggungan dengan kepentingan masyarakat Bali.
Rekan Putu Alit adalah pembelajar agama Hindu sangat baik, seperti pengakuannya, berkesempatan belajar banyak dari Ibu Gedong Bagoes Oka, Rsi Ananda Kusuma, IB.Oka Puniatmadja, Wyn.Soerpha dan banyak lagi tokoh Hindu lainnya di era tahun 1970-an dan seterusnya. Latar belakang keluarganya di Klungkung yang sarat dengan idealisme, "mempersubur" pengetahuan dari tokoh-tokoh di atas.
Setelah aktif bersama selama 30 tahun di Forum Penyadaran Dharma , dengan sejumlah rekan, menyebut beberapa: rekan senior Prof. Ngurah Bagus (Alm.), dan rekan Ketut Ngastawa, Made Suandi, ada beberapa catatan dari prilaku ajeg Acharya dalam menyikapi dinamika kemasyarakatan yang datang silih berganti.
Menyebut beberapa, pemikiran, sikap dan perbuatannya yang berhubungan dengan Dharma, Seva dan Prema.
Bagi Acharya, Dharma/kebenaran tidak cukup hanya diwacanakan, tetapi diperjuangkan secara konsisten dengan penuh keberanian at all cost. Kepalsuan, agenda penuh kemunafikan dan harmoni semu, selalu dilawan oleh Acharya tanpa kompromi. Sebagai Gandhian, kebenaran harus terus diperjuangkan untuk realisasi.
Pelayanan (seva) bagi Acharya mesti melekat dalam batin manusia, dilakukan secara total, penuh pengabdian, penyerahan diri total, totally surounder, jauh dari perhitungan untung rugi, pamrih, untuk tugas-tugas kemanusiaan dan kemulyaan nilai-nilai kemanusiaan.
Tentang Prema, cinta dan kasih sayang mesti berpusat pada kecintaan manusia pada Tuhan, memotivasi manusia untuk berkarya, karya-karya nyata buat kemanusiaan.
Sebagai tokoh pembaru keagamaan di Bali, tetapi mengenal dengan baik akar sejarah sosial masyarakatnya, sudah tentu ada penolakan dan salah pengertian. Acharya dan teman-teman pembaharu tetap tidak surut langkah, selalu menggunakan Viveka (kecerdasan pembeda ) yang sering Acharya ucapkan.
Acharya Agni Yogananda, contoh pembaharu agama yang pantang menyerah, satu bulan lalu penulis menjenguk beliau di Batubulan, 15 menit pertama kondisinya sangat lemah, nyaris tidak samggup bicara, tetapi setelah diajak berdiskusi tentang idealismenya, konsistensi perjuangannya, ekspresi wajahnya berubah, bangkit harapan dan nada dan intonasi suaranya jelas, seakan-akan harapannya bangkit kembali.
Tetapi Tuhan menghendaki lain, di zaman Kaliyuga yang penuh "kegilaan" ini, barangkali tempat terbaik untuk Acharya di Sorga sana, "menikmati" apa yang tertulis dalam Bhagavad Gita, kualifikasi insan manusia Stitha Prajna, Tri Guna Tirha, insan manusia yang mampu keluar (beyond of) Tri Guna.
Selamat jalan Acharya, kami dan banyak teman akan selalu mengenang keteladanan Anda.
Rahayu.
*) Jro Gde Sudibya, Ketua FPD ( Forum Penyadaran Dharma ).