Tangsel (Atnews) - Parahyangan Jagat Guru (PJG) merupakan Pura yang semangat pembangunannya untuk Hindu Center bagi seluruh Umat Hindu baik untuk persembanhyangan, pendidikan dan kegiatan ekonomi Banjar Tanggerang Selatan (Tangsel), Banten.
Pura PJG diresmikan pada tanggal 10 Oktober 2010 untuk melayani umat dalam meningkatkan srada dan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) yang saat ini diempon lebih dari 300 KK di Banjar Tangsel.
Umat Hindu disana begitu kompak dalam melaksankan pujawali yang jatuh setiap enam bulan setiap Redite Ukir. Persembahyangan rutin juga dilaksanakan setiap Purnama, Tilem dan hari suci besar Hindu lainnya.
Uniknya lagi, Pujawali Prahyangan Jagat Guru yang dibangun oleh para perantau umat Hindu dari berbagai daerah, khususnya dari Bali. Untuk itu, pujawali menggunakan Dresta Hindu Bali.
Namun pengempon pura pun memfasilitasi umat Hindu Masyarakat Jawa dan Banten yang tergabung dalam Paguyuban Majapahid dan Sunda Wiwitan dengan mengangkat tradisi Drestanya masing masing.
Hal itu sebagai bentuk toleransi dan kebersamaan dalam perbedaan namun memiliki tujuan yang sama. Diharapkan dapat ikut serta dalam mewujudkan moderasi beragama dan Tahun Toleransi 2022 yang dicanangkan oleh pemerintah.
"Persembahan ini dilakukan secara bersamaan dengan dresta masing-masing. Ini mencerminkan kebhinekaan Hindu yang patut dirawat dan dijaga sehingga umat bisa melakukan bhakti dengan tenang, nyaman dan tulus," kata Sesepuh Parahyangan Jagat Guru IGN Alit Putra asal Kerambitan Tabanan di Tangsel, Minggu (10/4).
Hal itu disampaikan Alit Putra yang didampingi Anggota Badan Musyawarah Banjar Tangsel I Gede Raka Subawa yang juga Pendiri dan Mantan Sekretaris Banjar Tangsel, ketika piodalan Redite Ukir.
Pada kesempatan itu hadir Direktur Pendidikan Hindu Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kemenag I Gusti Sunarta yang memberikan dharma wacana dan Bimas Hindu Banten Drs Suanrto M.Pd H.
Mengingat masih pandemi, pemedek cukup banyak maka diatur kedatangannya. Ada lima gelombang yang dimulai dari jam 11.00 WIB. Pemedek yang sembahyang sudah disiapkan makan yang diatur dari enam banjar secara bergilir. Tradisi itu terus berjalan secara turun temurun.
Pantauan Atnews, penataan taman pura pun ditata rapi dan kebersihan dan kesucian dijaga dengan baik. "Sandal pemedek disediakan tempat sehingga masuk areal pura tanpa sandal. Ini wujud kami jaga kesucian pura karena sandal sebagai alas kaki tentunya kotor, tidak elok kalau dibawa masuk ke areal suci pura. Pintu masuk areal itupun dijaga pecalang," ungkapnya.
Komunikasi dengan lingkungan sekitar berjalan dengan baik. Pengempon pura sering melakukan kegiatan bakti sosial, termasuk dengan umat lainnya.
Sementara itu, Raka Subawa yang juga Wakil Ketua PHDI Banten menambahkan, pura itu diperuntukan untuk semua umat Hindu (Hindu Center).
"Kita tidak terkotak-kotak, tetap rukun dan kompak. Bahkan umat Hindu asli Jawa dan asli Banten pun merasa nyaman ikut pujawali," ujar Raka Subawa, Pendiri KMHDI Delegasi Jabar dan mantan Peradah Tangsel.
Sementara itu, Bimas Hindu Banten Suanrto mengatakan, pujawali di pura tersebut sebagai wujud implementasi pelestarian budaya dan dresta Hindu di Nusantara.
"Sebenarnya dresta yang berbeda-beda mengacu pada desa kala patra. Dresta setempat sesuai budaya masing-masing," ujarnya.
Menurutnya, sesajen bentuknya berbeda baik Dresta Bali, Mojopahit, Sunda Wiwitan. Tetapi konsep persembahannya sama baik ditujukan kepada para dewa, leluhur maupun para bhuta kala.
Selain sesajen yang berbeda, pakaian yang digunakan umat pun berbeda sesuai dengan budaya masing-masing. Untuk itu, perbedaan itu dijadikan pemersatu umat dan kebhinekaan Hindu di Nusantara. Ini merupakan contoh moderasi beragama dan kerukunan saat Pujawali XIII PJG dengan melibatkan semeton dari Bali, Paguyuban Majapahid dan Sunda Wiwitan dibawah kepemimpinan Kelian Banjar Tangsel Bapak I Wayan Nariasa.
Selain itu, Direktur Pendidikan Hindu Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kemenag Gusti Sunarta merasa gembira atas pelaksanaan pujawali sebagai implementasi dari ajaran Veda.
"Pujawali Parahyangan Jagat Guru perwujudan kitab suci Veda, implementasi dari teori-teori dogma," ungkapnya.
Diharapkan pula, umat selalu menjaga keharmonisan agar bisa menjalankan sradha dan bakti dengan baik.(ART/001)