Klungkung (Atnews) - Pemilik Usaha KamasanBali I Made Sukma Swacita mengharapkan Anggota DPD Dapil Bali Made Mangku Pastika memperjuangkan produk kerajinan uang kepeng mengandung Panca Datu dijadikan suvenir dalam ajang KTT G20 di Bali.
Perusahaan yang berdiri sejak tahun 2004 sudah menjadi langganan pemerintah dilibatkan menyiapkan suvenir dalam ajang-ajang bergengsi di Pulau Dewata, misalnya KTT APEC dan ajang internasional lainnya.
KamasanBali memiliki karya unik dalam melestarikan warisan leluhur, memproduksi uang kepeng dengan desain aksara Sa, Ba, Ta, A, I yang merupakan unsur dari Panca Aksara. Selain itu KamasanBali juga memproduksi berbagai kreasi logam untuk pasar kerajinan.
"Untuk kami berharap dari Bapak Mangku Pastika dari DPD dapat memberikan dukungan, sehingga dari Kemenparekraf cepat memberikan keputusan dari surat yang kami kirimkan," kata Sukma Swacita ketika menerima kunjungan anggota DPD Made Mangku Pastika di Klungkung, Senin (2/5).
Mangku Pastika hadir didampingi Tim Ahli Nyoman Baskara, Ketut Ngastawa dan Nyoman Wiratmaja dalam rangka reses yang nengusung tema "Pengerajin Pis Bolong: Sebuah Pemberdayaan UMKM".
Ia pun mengakui pada masa pandemi, terjadi penurunan permintaan pasar, tetapi bahan baku naik tiga kali lipat dari harga Rp39 ribu menjadi Rp85 ribu per kilo.
Namun usahnya tetap berjalan meskipun ada pengurangan tenaga kerja dari 40 orang menjadi 25 orang. Pekerja berhenti memang karena beberapa faktor baik kendala umur dan ada yang wanita menikah.
Selama ini, produk-produknya pun sering diminati wisatawan manca negara, khususnya datang dari Eropa, didominasi oleh negara Perancis. Mereka biasanya membeli patung maupun rumah-rumah tradisional.
"Memang pada masa pandemi belum ada kunjungan signifikan dari wisman, masih mengandalkan penjulan dalam negeri dan memaksimalkan dari Bali sendiri," ujarnya.
Sukma Swacita didampingi Andhika Prayatna mengaku, pihaknya baru saja berhasil mengirim pesanan pembuatan Jineng dari Kaori Group pada HUT ke-12 dibuat dari 4000 uang kepeng panca datu yang unik dan limited edition.
Uang Kepeng Panca Datu dimaksud merupakan uang logam dengan bentuk bulat pipih berlubang segi empat ditengahnya yang terbuat dari logam perak (putih), tembaga (merah), emas (kuning), besi (hitam) dan kuningan (warna-warni).
Bentuk dan ukuran mengikuti Asta Kosala Kosali, yakni aturan tata letak ruangan dan bangunan layaknya fengshui dalam budaya China
Sementara itu, Mangku Pastika mangku akan memperjuangkan produk KamasanBali tetap digunakan suvenir KTT G20.
Apalagi pihaknya juga pernah memesan secara khusus sepasang pratima (arca) dari KamasanBali yang distanakan di Parmath Niketan Ashram Wilayah Rishikesh, Uttarakhand, India.
Pratima tersebut sudah diupacarai oleh para maharesi disana dan kini dilakukan pemujaan secara rutin. Pratima itu distanakan bersamaan pada melaspas pembangunan Padmasana oleh Ketua Dharma Adhyaksa PHDI Pusat Ida Pedanda Nabe Gede Bang Buruan Manuaba sekitar tahun 2019.
Selain itu, Mangku Pastika yang juga Presiden World Hindu Parisad (WHP) menghadiahkan prasasti Padmasana kepada pemerintah Uttarakhand. Pembangunan padmasana dan pemberian prasasti juga dilakukan di Cuttack, Odisha.
Hal itu dalam mengingatkan hubungan dan perjalanan leluhur umat Hindu, sejatinya banyak peninggalan Hindu yang ada di Bali dibawa oleh leluhur dari India.
Bahkan dalam menandai kebangkitan hubungan Bali dan Odisha, Mangku Pastika menghadiahkan Prasasti Padmasana Kalinga Bali untuk tempatkan di Maritime Museum Cuttack sebagai tempat ibadah.
Kehadirannya waktu itu didampingi Ida Rsi Putra Yaksa Daksa Manuaba (sewaktu Walaka Agus Indra Udayana. Kunjungan ke Odisha merupakan agenda penting untuk mengetahui hubungan Bali dan Odisha.
Di Bali, seperti lukisan Kamasan sama persis dengan Gaya lukisan klasik Odisha, tenun ikat dan Geringsing dll.
Maka dari itu, kedepan bersama menapak jejak Maha Rsi Markandeya yang banyak melahirkan Karya di Odisha dan peranan besarnya membangun peradaban Hindu di Jawa dan Bali.
Apalagi Rsi Markadeya menanam Panca Datu di Pura Besakih yang sampai sekarang tetap menjadi bagian terpenting bagi umat Hindu ketika membangun tempat Suci. Panca Datu menjadi hal terpenting yang menjadi dasarnya.
Ada beberapa artefak budaya yang tampaknya selamat dengan sedikit perubahan dari fase kontak paling awal antara kedua daerah.
Begitu pula Seni bela diri, wayang kulit 87 Indonesia, setara di Odisha dan Andhra Pradesh. Begitu pula kebiasaan mengunyah paan (daun sirih dengan kacang pinang, biasanya dengan sedikit kapur dan bahan lainnya).
Namun, daun dan kacang terus memainkan peran budaya yang penting dan digunakan dalam banyak upacara. Termasuk Budaya makan nasi yasa di Bali mereka masih menggunakan kacang sahur serta sayur mentah dan menemukan penduduk desa tua mengunyah base (daun sirih).
Dikatakan pula, uniknya prasasti Padmasana Kalinga Bali yang dihadiakan kepada pemerintah Odisha ini bukan terbuat dari logam maupun batu biasa, tapi terbuat dari larva Gunung Agung Bali yang pernah mengalami erupsi di tahun 1963. Konon aliran larva Gunung Agung saat itu sama sekali tidak merusak kuil yang dibangun oleh Rsi Markandeya.
Dua prasasti tersebut merupakan simbol kembangkitan kembali hubungan kerja sama yang sempat terabaikan.
Lawatan ke Odisha yang dilakukan dari tanggal 5 s/d 8 September 2019 merupakan upaya napak tilas jejak leluhur masyarakat Bali yang telah mewariskan dasar kuat sejarah peradaban Hindu di Pulau Dewata dengan nilai-nilai “mendem Panca Datu” (menanam secara spiritual) di Pura Agung Besakih, Kabupaten Karangasem. Pura terbesar yang ada di Bali.
Mangku Pastika juga menjelaskan bahwa perjalanan Rsi Markandeya, sang pendiri Pura Agung Besakih diyakini berasal dari tanah Odisha. Keberadaan Pura Besakih hingga detik ini menjadi spirit bagi kehidupan masyarakat Hindu hingga bisa lestari sampai dengan saat ini.
Lawatan Mengku Pastika bersama rombongan memperkokoh Indonesia-India Sangam Initiative yang dilahirkan pada tahun 1997 untuk menjadi wadah kerja sama budaya.
Melalui inisiatif ini sudah banyak digelar program pertukaran budaya sekaligus akademis antara Bali dengan bebarapa kota di India seperti di Bhubaneshwar, Rishikesh, Delhi dan Gujarat, salah satunya “Kalinga Bali Sangam” yang bekerja sama dengan Aryabhatta Trust dan Kalinga International Youth Foundation.
Pertunjukkan tarian tradisional Bali yang akan ditampilkan di setiap kota yang dikunjungi membawa pesan bahwa kedekatan budaya kedua bangsa bukan sesuatu yang baru tapi sudah sejak zaman leluhur, sehingga memberikan edukasi komprehensif kedekatan budaya Indonesia dan India, selain juga menyebarkan nilai-nilai persahabatan universal. (GAB/ART/001)