Oleh Jro Gde Sudibya
Menyimak berita di medsos akhir-akhir ini tentang tumpukan permasalahan sosial yang sedang menimpa Bali, permasalahan yang sebetulnya malu untuk diungkapkan di ruang publik, karena kearifan Tetua Kita mengajarkan dan menteladankan, setiap persoalan kecil semestinya dicarikan penyelesaian secara bijak, jangan menjadi membesar, karena penyelesainnya menjadi semakin rumit, berkepanjangan dan bisa menimbulkan dendam yang tidak produktif dan memerosotkan kualitas kehidupan bagi " penderitanya ".
Timbul pertanyaan reflektif berupa, kenapa tumpukan permasalahan sosial ini terus membesar, di tengah tempat dan masyarakat yang oleh banyak orang dari banyak belahan dunia sebagai tempat yang damai, memberi ketenangan, inspirasi rokhani pada masyarakatnya yang tampak dari luar rukun, toleran, guyub, menghargai tamu dan rasa berkesenian yang tinggi?.
Jawaban atas pertanyaan ini, yang masih tentatif sifatnya, bisa berupa: pertama, masyarakat paternalistik dengan orientasi panutan, mulai kehilangan panutannya, terutama dilanggarnya etika dan moral dari berbagai pihak yang semestinya punya swadharma untuk menjadi panutan.
Kedua, perubahan deras masyarakat, transformasi sosial akibat industri pariwisata berciri kapitalistik selama empat dasa warsa terakhir, berhadapan dengan sistem nilai masyarakat yang basisnya sosialisme religius, berbasis keyakinan niskala dalam masyarakat yang menjungjung tinggi kebersamaan paras - paros. Terjadi konflik yang melahirkan kegugupan budaya, yang tidak dikelola dengan baik, dengan " limbah " prilaku yang beraneka ragam.
Terjadi anomali di tengah masyarakat, kekacauan peran yang melahirkan anomie, ketegangan sosial berkepanjangan.Ketiga, pandemi Covid -19 yang nyaris merobohkan tatanan ekonomi Bali, yang sebelumnya industri pariwisata menjadi bantalan penyelamat sementara bagi krisis kebudayaan, menjadi pemicu dari ketegangan sosial masyarakat yang telah lama mengalami kegugupan budaya. Ketiga, " produksi " wacana Ajeg Bali, oleh sebagian kalangan dinilai sebagai pengakuan bawah sadar sebagian masyarakat karena kekalahan dalam persaingan ekonomi - soal waktu saja menunggu kekalahan politik - tetapi sebagian dari Kita tidak mau mengakuinya, bahkan ada kecendrungan lari - eskaptasi - dari inti persoalan dengan " memproduksikan " wacana kearifan lokal, tetapi sulit dilaksanakan di lapangan.
Tantangan Bali di kekinian yang tidak mudah, tetapi kalau kita menyimak wacana kalangan muda Bali yang terdidik dan profesional yang konstruktif dan terus berkarya dalam diam, masa depan Bali agaknya tidaklah terlalu suram, kalau nantinya mereka memegang estafet kepemimpinan.
*) Jro Gde Sudibya, salah seorang pendiri dan sekretaris Yayasan Kuturan Dharma Budaya.