Oleh Jro Gde Sudibya
Bung Karno wafat 21 Juni 1970 di Jakarta, 52 tahun lalu, jenazahnya diberangkatkan dari Jakarta disaksikan Pak Harto, Bu Tien dan ribuan pelayat lainnya menuju Blitar tempat peristirahatan terakhir " Putra Sang Fajar ".
Sebagai negarawan - a great man -, timbul pertanyaan apa yang diwariskan Soekarno buat bangsa dan negara dan juga buat kemanusiaan.
Untuk mengenang 52 tahun wafatnya, pantas disimak legacy Soekarno pada beberapa aspek kehidupan.
1. Pesan humanisme universal bagi dunia.
Sebagai pemimpin gerakan non blok - non align movement - di tengah lingkungan perang Dingin: Blok Barat Kapitalis dan Blok Timur Komunis, mampu mengkosolidasikan kekuatan bangsa-bangsa Dunia Ketiga, mampu menyelenggakan Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Hasil konferensi ini, memberikan inspirasi dan motivasi pada banyak negara untuk memperjuangkan kemerdekaannya, dan kemudian merdeka. Retorika dan pesan politiknya: "kemerdekaan adalah hak segala bangsa" memotivasi, "menyihir" kalangan nasionalis terutama di belahan Afrika untuk memperjuangkan kemerdekaannya.
2. Pemikiran Visioner buat Bangsanya.
Di tengah tekanan dominasi Barat yang Kapitalis dan Timur yang Komunis, Soekarno mencerahkan bangsanya dengan holistiksitas ajaran Tri Cakti: berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Pemikiran yang sampai hari tetap relevan di tengah-tengah kekuatan global yang multi polar. Tantangannya, Tri Cakti sebagai ajaran bisa " jatuh " sebagai jargon politik kosong, karena tidak ada keseriusan dalam pelaksanaanya.
3. Perlawanan terhadap Ketidakadilan Struktural.
Soekarno sejak muda, pada usia 20an, secara serius menulis di Suluh Indonesia tentang berbagai isu: ketimpangan sosial, ketidakadilan ekonomi yang kemudian sampai pada puncak pemikiran Marhaenisme. Marhaenisme sebagai ideologi ekonomi kerakyatan, dimana Si Marhaen, wong cilik mampu menguasai alat-alat produksi, sehingga meminjam istilah Soekarno dalam bahasa Perancis "exploitation d"lome parlome", penghisapan manusia oleh manusia lainnya tidak terjadi.Pemikiran Soekarno tentang Marhaenisme, mengingatkan kita akan bahaya dari ketidakadilan struktural yang melahirkan kemiskinan struktural. Kemiskinan yang lahir dari ketidakadilan struktural di bidang politik, ekonomi dan bahkan kebudayaan. Pada dasarnya Marhaenisme sebagai ideologi ekonomi kerakyatan untuk melawan ketidakadilan struktural.
Tetapi realitasnya, ketidak adilan struktural semakin menguat, ketimpangan pendapatan semakin lebar dan ketidakadilan sosial semakin menjadi-jadi.
Dalam realitas kehidupan di atas, SPIRIT SOEKARNO menjadi tetap penting dan relevan, sebagai batu penjuru perumusan kebijakan publik , bukan sebatas jargon politik kosong tanpa makna dan terjebak mengkultuskan Soekarno (tindakan yang sangat "dibenci" oleh negarawan ini).
*) Jro Gde Sudibya, ekonom dan pengamat ekonomi.