Banner Bawah

Refleksi Politik Farel Prayoga

Admin - atnews

2022-09-06
Bagikan :
Dokumentasi dari - Refleksi Politik Farel Prayoga
Slider 1

Oleh : Nyoman Subanda
Kalau kita menyimak isi berita baik media masa maupun media sosial, mungkin Farel Prayoga merupakan orang yang popular saat ini di luar Ferdy Sambo, beserta kasus dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Hampir semua orang di Indonesia terutama yang senang berita atau penggiat media sosial pasti kenal nama Farel Prayoga. Kenal wajahnya, kenal suaranya yang khas, bahkan mungkin kita penasaran akan latar belakang dan kegiatan rutinitas seorang Farel Prayoga. Iya, Farel adalah fenomena. Tidak seorangpun memungkiri hal itu. Setelah dengan tenang, tampil di mimbar istana presiden ketika perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus 2022 yang lalu. 

Berkat aksi panggungnya yang memesona di hadapan presiden dan jajaran petinggi-petinggi negara tersebut, akhirnya nama Farel terus viral di berbagai media sosial dan juga termuat di berbagai media masa. Intinya, Farel Prayoga ngetop, mengagumkan, dapat sambutan dimana-mana, serta seabrek predikat lainnya yang layak disandangkan pada anak kecil yang namanya Farel Prayoga.

Terus apa hubungannya Farel Prayoga dengan politik? Farel memang tidak berpolitik, bukan juga tokoh politik, dan juga tidak boleh berpolitik karena masih anak-anak yang saat ini baru berumur 12 tahun dan masih duduk di kelas enam SD. Tapi dari fenomena Farel Prayoga ini, ada pelajaran penting dan hikmah yang dapat kita petik. 

Paling tidak ada tiga poin yang merupakan refleksi politik dari Farel Prayoga. Pertama, Farel Prayoga adalah panggung popularitas. Setelah tampil di istana dan viral dimana mana, Farel Prayoga diundang oleh berbagai tokoh, tidak sedikit pejabat publik mulai dari menteri, gubernur, bupati, mengundang Farel Prayoga walau hanya untuk berbincang-bincang atau ngobrol-ngobrol santai dengan berbagai kemasan. 

Para artis papan atas juga tidak ketinggalan untuk mengundang dan mengajak Farel untuk show di berbagai tempat, walaupun ada juga artis yang nyinyir dan akhirnya juga manggung bareng. Tidak ketinggalan pengusaha-pengusaha termasuk pengusaha besar dari Kalimantan juga mengundang Farel, bahkan sampai menjemput dan mengantar Farel pulang ke Banyuwangi dengan jet pribadi. Intinya Farel adalah panggung popularitas. Para tokoh dari berbagai profesi akan terangkat lagi popularitasnya melalui panggung Farel. 

Ketika elektabilitas seorang tokoh ingin naik, maka panggung Farel salah satu media. Ketika rating seorang artis mulai turun atau popularitasnya mulai memudar, maka pergunakanlah panggung Farel untuk mendongkraknya kembali.

Para tokoh-tokoh yang sudah popular dan ingin tambah popular, atau tidak popular dan ingin jadi popular, maka panggung Farel salah satu medianya. Mereka mengundang Farel untuk show, diajak ngobrol dengan berbagai atas nama. Ada atas nama kepedulian, atas nama kesejahteraan, atas nama pemberdayaan, dan berbagai atas nama yang mencerminkan kehormatan dan citra baik untuk seorang tokoh. Kedua, Farel adalah magnet netizen. Netizen merupakan refleksi masyarakat kebanyakan, karena hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia menjadi netizen karena menggunakan media sosial. Dengan menempel Farel Prayoga, seseorang akan memiliki magnet gaya tarik dan daya sinar yang memancar ke seluruh penjuru. 

Karena ada magnet dan menyatu dengan magnet Farel, maka seorang tokoh akan ikut bersinar dan bercitra bagus di mata netizen. Karena bercitra dan bersinar, maka muncullah acceptability. Ketiga, Farel adalah simbol kepedulian. Dengan menyayangi Farel, maka kita akan peduli dengan orang miskin, dengan memberikan bantuan kepada Farel, kita juga peduli kepada kemiskinan, dengan mengundang dan memberikan kesempatan Farel manggung, maka kita memberi ruang kerja dan memberdayakan orang miskin. Melalui Farel, kita bisa membangun citra sebagai orang yang peduli, orang yang aware terhadap kemiskinan, dan juga simbol pejuang kemanusiaan. 

Melalui Farel seorang tokoh bisa mengukir prestasi kepedulian, melalui Farel seorang tokoh bisa membangun citra positif di mata publik, melalui Farel seorang tokoh bisa kampanye dengan kemasan kemanusiaan.

Dari tiga poin di atas, hikmah apa yang kita bisa ambil dari fenomena Farel? Pertama, nampaknya kita hanya mampu berebut panggung tidak menciptakan dan membangun panggung sendiri. Kedua, k ita hanya bisa memanfaatkan magnet orang lain, tetapi tidak bisa menciptakan dan menggali magnet dalam diri. Ketiga, kepedulian itu abstrak, kepedulian itu hanya jalur, bukan tujuan. Kepedulian itu demi kita, bukan demi dia. Kepedulian itu di mata netizen, bukan di hati yang peduli. (*)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Gubernur  Modernisasi Sistem Jasa Transportasi Konvensional

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng