Denpasar (Atnews) - Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Dr. H. Amir Yanto, S. H, M.M, M.H bersama Kepala Kejaksaan Tinggi Bali, Ade T. Sutiawarman, SH., MH mengunjungi Museum Agung Bung Karno di Denpasar, Rabu (2/11).
Kedatangannya disambut baik Ketua Yayasan Perpustakaan Bung Karno dan Pendiri Museum Agung Bung Karno Gus Marhaen dengan penuh kekeluargaan.
Gus Marhen pun penyerahan buku yang berjudul "Djaga Djangan sampai Revolusi Indonesia bisa Didjegal Orang dan buku Dibawah Bendera Revolusi Jilid 1 dan 2".
Sekaligus penandatanganan prasasti oleh Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Dr. H. Amir Yanto, S. H, M.M, M.H..
Museum Agung Bung Karno tetap komitmen menjaga warisan generasi muda untuk mengingat perjuangan para pendiri bangsa demi tegaknya NKRI.
Upaya itu dalam mewujudkan Indonesia adil dan makmur menuju generasi emas 2045. Persatuan dan keanekaragaman budaya bangsa Indonesia menjadi dikenal dunia.
Museum merupakan cermin dan jati diri sebuah bangsa. Apalagi Museum Agung Bung Karno menyimpan literasi pikiran-pikiran Pendiri Bangsa, sangat penting untuk memperkuat jati diri dan karakter bangsa, khususnya bagi generasi muda.
Selain itu, Museum Agung Pancasila tersimpan pikiran dan gagasan Bung Karno yang tak pernah mati, meskipun Bung Karno telah wafat.
Bahkan Bung Karno dikenal dunia. Mengingat, peranan Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim diperlukan dunia.
Apalagi Indonesia hebat dikenal dunia karena pernah mengambil peran strategis ketika kepemimpinan negara oleh Bung Karno dalam menjadi tuan rumah Non Blok.
Gerakan Non-Blok (GNB) terdiri dari 100 negara. Negara tersebut tidak memiliki ikatan dengan negara lain untuk tujuan politik tetapi untuk menjamin kemerdekaan, kedaulatan, dan keamanan.
Pada ajang Konferensi Asia Afrika merupakan awal dari keterlibatan langsung Presiden Soekarno dalam semangat nasionalisme Asia dan Afrika, untuk melawan imperialisme, kolonialisme, dan neo-kolonialisme.
Prinsip politik luar negeri bebas aktif Indonesia yang digariskan oleh konstitusi tidak dibiarkan hanya berfungsi sebagai landasan untuk menghadapi persaingan antara Blok barat dan Blok Timur maka GNB sebagai solidaritas negara Asia dan Afrika dilebarkan sayapnya hingga ke Amerika Latin.
Pelopor Gerakan Non Blok ini adalah Presiden Soekarno, Perdana Mentri India, Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, Presiden Yugoslavia Josep Broz Tito dan Presiden Ghana Kwame Nkrumah.
Dijelaskan pula, ada 5 pilar yang digunakan sebagai pedoman, hal ini digunakan sebagai basis dari Gerakan Non-Blok yakni (1) Saling menghormati integritas teritorial dan kedaulatan, (2) Perjanjian non-agresi (perjanjian tanpa perang), (3) Tidak mengintervensi urusan dalam negeri, negara lain, (4) Kesetaraan dan keuntungan bersama dan (5) Menjaga perdamaian.
Untuk itu, Indonesia dapat menjadi negera terdepan menyuarakan perdamaian dunia apalagi Presiden Jokowi sebagai Presidensi G20. Hal itu sudah diatur dalam konstitusi negara Indonesia yang turut serta dalam menjaga perdamaian dunia.
Presidensi G20 Indonesia mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger” yang menghadirkan pemimpin negara - negara anggota G20 pada pertengahan November mendatang.
G20 adalah forum kerja sama multilateral yang terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa (EU). G20 merepresentasikan lebih dari 60% populasi bumi, 75% perdagangan global, dan 80% PDB dunia. Anggota G20 terdiri dari Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Perancis, Tiongkok, Turki, dan Uni Eropa.
Dibentuk pada 1999 atas inisiasi anggota G7, G20 merangkul negara maju dan berkembang untuk bersama-sama mengatasi krisis, utamanya yang melanda Asia, Rusia, dan Amerika Latin. Adapun tujuan G20 adalah mewujudkan pertumbuhan global yang kuat, berkelanjutan, seimbang, dan inklusif. (GAB/ART/001)