Karangasem (Atnews) - Rombongan Anggota DPD RI Dapil Bali Made Mangku Pastika mengunjungi Pembangunan Penataan Kawasan Pura Besakih di Karangasem, bertepatan pada Hari Kajeng Kliwon, Kamis (15/12).
Mangku Pastika didampingi Tim Ahli Nyoman Baskara, Ketut Ngastawa dan Nyoman Wiratmaja untuk mengetahui "Perkembangan Proyek Penataan Kawasan Pura Besakih" yang menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
Kedatangannya dalam rangka Reses diterima oleh Kadis PUPR Provinsi Bali Nusakti Yasa Weda. Sebelumnya Mangku Pastika berserta Rombongan mengadakan persembahyangan di Pura Basukian.
Penataan Kawasan Pura Besakih direncanakan rampung pada Maret-April 2023 mendatang, sedangkan proyek yang menggunakan APBD bisa rampung akhir tahun 2022.
Dana penataan keseluruhan tersebut diperkirakan akan habis lebih dari Rp1 triliyun, APBN sebesar Rp370 miliyar, sedangkan APBD sebesar Rp221 miliar, awal rencana Rp201 miliyar. Sedangkan dana APBD untuk pembebasan lahan sekitar 5 hektaran sebesar Rp230 miliar dari rencana awal sebesar Rp170 miliar.
Mangku Pastika mengaku penataan Kawasan Pura Besakih sudah menjadi cita-cita lama agar lebih tertata rapi dan tidak terkesan kumuh sebagai tempat persembahyangan.
Mengingat Pura Besakih dikenal "Mother of Temple" karena Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura yang ada di Bali.
Pura Besakih merupakan sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih berada di lereng sebelah barat Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali.
Nama Besakih diambil dari Bahasa Sansekerta, wasuki atau dalam bahasa Jawa Kuno basuki yang berarti selamat.
Selain itu, nama Pura Besakih didasari pula oleh Purana Naga Basuki sebagai penyeimbang Gunung Mandara. Komplek Pura Besakih terdiri dari 1 Pura Pusat (Pura Penataran Agung Besakih) dan 18 Pura Pendamping (1 Pura Basukian dan 17 Pura Lainnya).
Pura Besakih di bangun tahun 1284 oleh Rsi Markandeya yang merupakan seorang pemuka agama Hindu keturunan India. Rsi Markandeya membangun Pura Besakih karena mendengar suara gaib ketika bermeditasi di Dataran Tinggi Dieng. Ia dan pengikutnya pun sampai membelah hutan di Jawa untuk sampai ke pulau Bali. Warisan budaya hingga kini yakni Sistem Subak dan Tenun.
Konon di kala itu belum terdapat selat Bali seperti sekarang, karena pulau Jawa dan pulau Bali masih menjadi satu dan belum terpisahkan oleh lautan. Karena saking panjangnya pulau yang kita sebut sekarang dengan sebutan pulau Jawa dan pulau Bali, maka pulau ini di beri nama pulau Dawa yang artinya pulau panjang.
Pura Besakih saat ini selain menjadi tempat persembahyangan untuk umat hindu juga menjadi tempat wisata karena memiliki sejumlah daya tarik, selain keindahan alamnya juga karena dekat dengan beberapa tempat wisata yang sedang hits di Bali saat ini., seperti Taman Bunga Edelweis, Taman Jinja Bali (Taman unik ini menggunakan konsep ala Jepang ).
Untuk itu, penataan ini yang dilakukan oleh Gubernur Bali memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan dan kebanggaan umat Hindu Nusantara dan dunia.
"Saya tidak ada kritik, Saya yakin manfaatnya besar untuk masyarakat Hindu Nusantara dan dunia," tegas Mangku Pastika yang juga Gubernur Bali dua periode (2008-2018).
Dengan mendapatkan penjelasan progres dan rencana Penataan Kawasan Besakih secara utuh, pihaknya bisa membantu memberikan kepada masyarakat yang masih memiliki pendapat pesimis maupun skeptis.
Memang setiap pembangunan tentu ada pro kontra, tetapi kini patut bersyukur penataan sudah lama direncanakan dan kini akhirnya bisa terwujud.
Mangku Pastika pun meminta agar nantinya ada penayangan sejarah Besakih, ketika dirinya menjadi Gubernur Bali sudah pernah mengumpulkan dokumennya.
Hal itu amat penting dilakukan sebagai sarana edukasi kepada masyarakat muda dan para pengunjung Pura Besakih.
Bahkan dirinya pun tengah melakukan perjalanan menelusuri jejak - jejak Rsi Markendya. Mangku Pastika pun sudah datang ke Kalimantan Timur yakni Tenggarong merupakan sebuah kota kecamatan sekaligus ibu kota dari Kabupaten Kutai Kartanegara.
Sebelumnya juga Mangku Pastika telah berhasil membangun Padmasana Kalingga Bali di Odisha India yang diresmikan pada Minggu (8/9/2019). Dimana kedatangannya ke India sebagai bagian dari napak tilas dari perjalanan leluhur Rsi Markandeya pada ribuan tahun lalu.
Selain bangun pembangunan Padmasana dari batu Gunung Agung, dirinya juga memberikan beberapa kolektor lukisan dan barang seni lainnya untuk dipajang di Meseum Maritim Odisha.
Tak lupa, Mangku Pastika menceritakan momen ketika didapuk untuk mendem Panca Datu di Pura Basukian ketika menjabat sebagai Kapolda Bali tahun 2002.
Kedatangannya sembahayang dalam rangka mohon pentunjuk dalam mengungkap pelaku Bom Bali I. Secara kebetulan pada momen tersebut seharusnya mendem Panca Datu oleh Gubernur Bali, namun waktu itu tidak hadir.
"Untuk itu saya ditunjuk mendem, ternyata saya orang kedua mendem Panca Datu di basukian setelah Rsi Markendya. Keberuntungan ini yang mendorong terus melakukan perjalanan napak tilas Rsi Markendya," ungkap Mangku Pastika.
Mangku Pastika pun memberikan testimoni kunjungan tersebut "Very Impressive, Luar Biasa".
Sementara itu, Kadis PUPR Provinsi Bali Nusakti Yasa Weda mengatakan, pengelolaan Kawasan Pura Besakih akan diatur oleh Peraturan Daerah (Pergub) dengan membentuk semacam badan otoritas.
Dengan penambahan fasilitas pendukung, tentunya membutuhkan tenaga atau SDM yang profesional.
Disinggung pula, anggaran pembangunan lebih dari Rp1 triliun karena Besakih akan dilengkapi dengan sistem pengeloaan air minum, sampah dan drainase.
Sejumlah bangunan sudah rampung dan telah digunakan, serta yang lainnya masih proses pengerjaan.
Dikabarkan, proyek itu pula akan kembali dikunjungi Komisi V DPR RI pada Jumat (16/12).
Rombongan Mangku Pastika menutup kunjungannya dengan melakukan persembahyangan di Pura Penataran Agung Besakih. (GAB/ART/001)