Banner Bawah

Made Wianta, Gerakan Sosial dan Globalisme

Admin - atnews

2023-01-06
Bagikan :
Dokumentasi dari - Made Wianta, Gerakan Sosial dan Globalisme
Slider 1

Denpasar (Atnews) – Sebuah perhelatan bertajuk “Perayaan Persahabatan: Wianta & Kita” digelar di Danes Art Veranda, Denpasar, Sabtu 7 Januari 2023 malam, yang akan dihadiri para sahabat, sejawat, dan tokoh yang pernah dekat dengan mendiang Made Wianta.
 
Made Wianta yang dikenal sebagai seniman multitalenta lahir di Apuan, Tabanan 20 Desember 1949 dan meninggal dunia pada 13 November 2020. Perayaan persahabatan ini untuk memperingati dua tahun kepergiannya sekaligus mengenang perjalanan kreatif serta sumbangsihnya terhadap kebudayaan.  
 
Selain sajian musik keroncong, para sahabat secara bergiliran berbagai kisah, pengalaman, dan kesaksian selama berinteraksi dengan Wianta. Di sela-sela testimoni, disuguhkan video dokumenter "Sapa Rupa Made Wianta", pembacaan puisi oleh penyair Warih Wisatsana, serta peluncuran buku "Made Wianta: Catatan dan Kenangan.”
 
Testimoni sejumlah sahabat dalam acara menggambarkan betapa Wianta sebagai seniman telah meraih pecapaian terbaik, dan lebih dari itu, bagi para sejawatnya ia juga memberikan motivasi dan inspirasi. Wianta meninggalkan pula jejak aktivitas dan kepeduliannya terhadap lingkungan, serta kemanusiaan.
 
Intan Kirana, istri Wianta mengatakan suasana akrab dan hangat yang terbangun merupakan suntikan semangat bagi keluarga yang ditinggalkan. “Kami mewakili keluarga berterima kasih atas atensi dan empati dari para sahabat untuk Pak Wianta, acara yang mengesankan untuk mengenang yang telah tiada menjadi sangat bermakna,” katanya.
 
Arsitek Popo Danes yang menjadi tuan rumah  mengisahkan kerap berdiskusi dengan Wianta dengan pola pikir kreatif yang membuatnya menjadi lebih mengenal seniman yang ternyata juga menaruh perhatian terhadap dunia arsitektur itu. “Kita bisa melihat rumahnya di Jalan Pandu itu cukup sarat dengan imajinasi arsitektur, dari sisi ruang maupun beberapa detailnya,” katanya.
 
Popo mengaku sejak lama mengamati laku berkesenian Wianta dan terbiasa dengan berbagai kejutan yang disuguhkan melalui lompatan kreatif yang disajikan. “Berbagai dimensi olah seni yang sangat beragam ini secara otomatis membangun rasa hormat kita terhadap pemikiran kreatif Wianta yang autentik. Jelas sekali kita diingatkan bahwa sahabat kita ini memang seorang maestro global, bukan seorang perupa semata, ia juga menghiasi jagat seni dunia,” kata Popo.
 
Sementara itu, Budayawan Putu Suasta mengatakan pergaulan global Made Wianta membuktikan jejaring yang luas sehingga posisi itu kerap memudahkannya dalam berbagai pameran internasional. “Saya melihat dari dekat Wianta berkarya ketika saya bersama Agung Rai Arma menemaninya presentasi konsep Catur Yuga di Basel, Swiss,” kenang Putu Suasta.
 
Catur Yuga merupakan salah satu perwujudan dari pengembangan hubungan seni budaya dan ilmu pengetahuan antara Bali dan Swiss. Wianta berkarya di Basel dan pameran bersama seniman setempat, Andreas Straub, pada Oktober 1997 sampai dengan Maret 1998 di Museum der Kulturen Basel serta di Fabian Walter Gallery Basel dan dipamerkan pula di Jakarta, Denpasar, dan Singapura.
 
Alumnus UGM dan Cornel University ini juga menceritakan saat mendampingi Made Wianta mengadakan pameran di Fort Mason Center, San Francisco USA (1993) yang ketika itu karyanya habis terjual dan hasilnya disumbangkan bagi penelitian AIDS.
 
Suasta menyebut Wianta telah melewati tonggak kesenimanan yang penting seperti pameran di Venezia Biennale (2003), OPEN 2003 Lido Italia, dan sejumlah pameran di berbagai negara. Juga melalui mahakarya "Art and Peace" (1999) serta "United in Diversity" (2003) yang mengusung isu universal hingga kini.
 
Pada 2017 Wianta menggagas pertunjukan teater bersama sutradara Prof. Dr. Ron Jenkins dan pentas di Wesleyan University, Connecticut, AS. Teater ini menghadirkan cara pandang kritis terhadap Pulau Run pada masa perdagangan rempah yang sarat konflik, pembantaian, perang, ekonomi global, ketidakadilan sosial, perjuangan untuk kebebasan, dan melenyapkan masa depan penduduk asli. Wianta melakukan riset di Kepulauan Banda dan melahirkan sejumlah karya yang terangkum dalam buku “Run for Manhattan.”
 
Seniman dan mantan Rektor ISI Yogyakarta Prof. Dr. Made Bandem mengenang proses perjuangan Made Wianta menembus pameran prestisius di Tokyo Station Gallery (1998) karena di bekas stasiun kereta api itu pernah memamerkan karya seniman seperti Salvador Dali, Jackson Polock, dan Hokusai.
 
Ia meriwayatkan pula perjalanan Wianta menjadi dosen tamu di College of the Holy Cross, Massachusets AS mengampu mata kuliah Sastra Timur hingga berkolaborasi dengan Prof. Lynn Kremer untuk merancang pertunjukan teater bertajuk Jiwa Terbelenggu serta mementaskannya di Amerika Serikat dan Bali.
 
Menurut Made Bandem pada 2001-2002, Prof. Tsutomu Oohashi, seorang ilmuwan biologi terkemuka di Jepang, meneliti otak Wianta dan menemukan tanda-tanda khusus yang mencirikan bahwa ia adalah seorang yang genius.
 
“Made Wianta selalu terbuka terhadap pengalaman baru; bertindak menakjubkan, aneh, dan selalu ingin tahu; mampu mewujudkan sesuatu dari benda lain dengan mengubah fungsinya; mengetahui dan menjadi diri sendiri saat menghadapi lawan; dan menjadi orang yang sangat gigih, bekerja keras untuk mencapai tujuannya,” kata Made Bandem.
 
Sebagai seniman dan pelaku kebudayaan Made Wianta telah memperoleh berbagai penghargaan di antaranya Penghargaan Dharma Kusuma (1998) dan Bali Mandara Parama Nugraha (2016) dari Pemprov Bali, serta Profesor Kehormatan dari Academico Internationale "Greci Marino" Italia (1996).  Pada 1997 dinobatkan sebagai "The most admired man of decade" oleh American Biographical Institute, AS
 
Buku "Made Wianta: Catatan dan Kenangan" yang diluncurkan di acara ini ditulis oleh 28 orang yakni Popo Danes, Risa Permanadeli, Putu Fajar Arcana, Jean Couteau, Tommy F. Awuy, Warih Wisatsana, Saut Situmorang, Hartanto, I Made Bandem, Stephan Spicher, Lynn Kremer, I Wayan Kun Adnyana, Ida Bagus Gede Sidharta Putra, dan Yudha Bantono.
 
Selain itu ada I Gusti Raka Panji Tisna, I Wayan Sujana ‘Suklu’, Anthony Huray, Made Kaek, Yuliana Kusumastuti, Ema Sukarelawanto, Toeti Heraty (alm), Mudji Sutrisno SJ, Putu Suasta, Slamet Abdul Sjukur (alm), I Nyoman Darma Putra, Taufik Rahzen, Nyoman Thusthi Eddy (alm), dan I Made Titib.
 
Berikut sejumlah petikan dari buku tersebut:
 
Dr. Jean Couteau, Budayawan
Made Wianta sangat berbeda dan mewakili Bali yang lain. Baginya, keindonesiaanlah yang mesti mengemuka, sebagai wadah di mana kebalian melebur dalam keekaan bangsa —dan bahkan, lebih jauh, ke dalam kebhinekaan dunia. Mengutamakan kebaliannya, di mata Wianta, berarti berisiko membiarkan obsesi identiter membatasi kreativitas, serta merusak ruang kebersamaan.
 
Karena itu, dia menolak dengan tegas segala ragam seni yang berbau etnis. Baginya, alih-alih menutup diri dan menggali identitas di dalam suatu jati diri religius dan politik yang sempit, kita harus membuka diri dan memandang ke luar, ke Jakarta, Tokyo, Paris, New York. Bali dan Indonesia ditimpa kemodernan. Jadi kemodernan itulah yang harus ditantang dan dieksplorasi bila tetap ingin menjadi pelaku. Bila etnisitas hadir, cukuplah secara struktural atau alamiah saja, bukan sebagai paradigma kreativitas. Rumus kreatif ini diterapkan di dalam semua karya lukisnya. Bali jarang hadir sebagai pernyataan, tetapi ia secara terselubung menggenangi ungkapan, entah di dalam peran kontur, repetisi pola, dan sebagainya.
 
Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana, Rektor ISI Denpasar
Energi dan gairah untuk menjadikan kesenian sebagai darma kemanusian tidak pernah lekang. Ia berpendirian dalam memperjuangkan gagasan-gagasan avant garde, walau di sana-sini arus kritik, juga silang pandang yang datang. Ia teguh, dan tegap untuk mengumandangkan jalan kesenian sebagai medan kedamaian dan persahabatan abadi.
 
Kecakapan artistik melampaui medium, juga jelajah lintas media selain ditopang proses studi akademik, juga dimekarkan oleh pergaulan lintas disiplin. Wianta intensif melakukan diskusi, dialog, dan bercengkerama dalam bergulatan pemikiran dengan berbagai kalangan, dari sastrawan, perupa, kritikus, jurnalis, hingga aparatus pemegang kebijakan publik. Sikap terbuka, dan juga memasuki romantika diskusi beragam latar pemikiran, tercermin pada karya-karyanya yang kadang-kadang melampaui selera zaman. Karya seni peristiwa (happening art) yang digagasnya acap menuai kontroversi. Tidak sedikit kemudian yang hadir sebagai inspirasi perupa muda, seperti beragam karya instalasi dan seni rupa video.
 
Putu Fajar Arcana, Sastrawan dan Jurnalis Senior Kompas
Made Wianta sangat menyadari jika seni sebatas kerja artistik, maka pada titik tertentu ia akan berhenti hanya sebagai “tukang”, yang menerjemahkan instruksi-instruksi dari seorang aktor intelektual. Padahal seni adalah dunia gagasan, yang terus bergerak menggapai celah-celah yang ditinggalkan para intelektual dari berbagai cabang keilmuan.
 
Bagi Wianta, seni harus sejajar dengan pemikiran-pemikiran yang dicapai dalam dunia fisika atau bahkan filsafat. Hanya dengan cara itu, seni akan memberi sumbangan yang berarti bagi hidup manusia. Wianta sering mengatakan: “Keindahan seni bukan di dinding, tetapi narasi-narasi yang membuat kita bergerak maju.”
 
Kata-kata tersebut semakin menegaskan bahwa Wianta memang berada di jalan berbeda dengan kebanyakan seniman di Indonesia. Kendati ia tidak menulis, dalam pengertian menerbitkan esai atau kritik, setidaknya puisi-puisi yang ia rangkum dalam tiga buku, telah menjadi bukti kecenderungannya menjadi seorang intelektual. (Z/ART/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Smartdesa C@shless No.1

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius