Oleh Jro Gde Sudibya
Hari Senin, 9 Januari 2023, raina Majekan Agung, puja wali ring Pura Dasar Bhuwana, Gelgel, Kabupaten Klungkung.
Puja wali ini, dapat mengingatkan Kita akan kebesaran kepemimpinan Ida Dalem Waturenggong dengan Bhagavanta beliau Dang Hyang Dwijendra, pada Kerajaan Gelgel di masa Kejayaan - Keemasan Bali.
Kepemimpinan yang mengukirkan "tinta emas" kepemimpinan, yang bercirikan:
1) Kekuatan kepemimpinan dan visinya, di tengah ancaman eksistensi kerajaan dan masa depannya. Tanpa kekuatan kepemimpinan ini, jejak kesejarahan Bali bergerak ke arah berlawanan. Bali tidak seperti Bali yang dikenal sekarang, dan mungkin nama pulaunyapun berubah.
2) Pemimpin dengan basis rokhani yang kuat, nama aslinya lebur, berganti menjadi Ida Dalem Waturenggong (baca Batur - Enggong), yang bermakna: seorang raja yang selalu pergi ke Batur, dimana ada "batu bergerak". Pesan makna yang kaya dan padat nilai-nilai rohani, yang kemudian "membumi" dalam nilai-nilai kepemimpinan antara lain: integritas, totalitas pengabdian dan penyerahan diri secara total dalam bahasa ke kinian "totally surounder" kepada Tuhan Wisnu, Cri Narayana, mengikuti jejak peminpin Bali terdahulu Cri Aji Jayapangus.
3) Pemimpin yang suntuk untuk kepentingan rakyatnya, dan punya viveka untuk mengelola dalam bahasa ke kinian vested interest di sekitar kekuasaannya, sehingga idealisme kepemimpinannya tidak tersumbat.
Kebesaran kepemimpinan Ida Dalem Waturenggong telah menjadi mitos bagi sebagian krama Bali, mitos dalam artian masa lalu yang ditarik ke masa kini, menjadi bagian spirit masa kini.
Kesadaran kesejarahan (historical consiousness) yang semestinya bermakna dalam Zaman Edan dewasa ini.
Kepemimpinan Ida Dalem Waturenggong dalam Perspektif Kesejarahan dan Visi Masa Depan.
Dalam perspektif kesejarahan, perundingan Ida Dalem didampingi Bhagavantanya Dang Hyang Dwijendra dengan utusan Raden Patah dari Jawa, adalah perundingan keras penuh tipu muslihat, yang berhasil damai dengan semangat kekeluargaan, menghindari terjadinya perang yang belum tentu bisa dimenangkan.
Pasca perundingan, melakukan konsolidasi kerajaan, memperkuat posisi tawar dan persaingan jika terjadi risiko di hari-hari ke depan pasca perundingan. Sejarah Bali mencatat, kerajaan Gelgel memasuki masa keemasan dan kejayaan Bali pada zamannya.
Dalam perspektif visi masa depan, kekuatan, ketangguhan dan dedikasi penuh pengabdian, sudah tentu memberikan spirit, inspirasi bagi pemimpin-pemimpin Bali berikutnya yang punya kesadaran kesejarahan, dan menyimak kepemimpinan adalah proses berkesinambangun dan berkelanjutan untuk berkontribusi bagi keberlanjutan peradaban Bali.
*) Jro Gde Sudibya, salah seorang pendiri dan Sekretaris Kuturan Dharma Budaya, LSM memasyarakatkan pemikiran Mpu Kuturan Raja Kertha.