Jakarta (Atnews) - Ketum Pimnas PKN Gede Pasek Suardika yang dikenal GPS menyoroti dampak anjuran minum dua sloki sehari untuk pagi dan malam oleh Gubernur Bali Wayan Koster.
"Jika saja anjuran untuk minum dua sloki sehari untuk pagi dan malam oleh Gubernur Koster diikuti oleh setengah jumlah penduduk di Bali atau anggap saja sekitar dua juta penduduk Bali saja, maka akan ada 4 juta sloki sehari konsumsi arak di Bali untuk warga Bali. Jika dikalikan 30 hari maka akan ada 120 juta sloki sebulan. Itu yang dua sloki, belum yang gelas berputar dan pasti lebih dua sloki sehari. Itu jika sebagai brand Ambassador Arak sukses dijalankan Gubernur Bali," ungkap GPS yang juga Mantan Anggota DPR dan DPD RI di Jakarta, Rabu (1/2).
Jika itu dilihat, maka apakah suplai arak lokal akan mencukupi untuk memenuhi himbauan itu? Lalu yang kedua melihat siapa saja yang punya ijin edar, ijin BPOM dan lainnya maka jelaslah perusahaan swasta selaku pengepul arak yang akan mendapatkan untung besarnya. Mari kita analisa siapa untung siapa buntung.
Dilihat jika serapan kampanye itu berhasil, sementara produksi di petani Bali dengan kondisi lahan dan tumbuhan yang ada, tidak mungkin mencukupi anjuran tersebut, lalu yang katanya Arak untuk ekspor itu sumbernya dari mana? Jangan jangan arak luar Bali yang membanjiri Bali di luar Arak oplosan.
"Atas jualan minuman khas dresta Bali, betapa bahayanya uang masyarakat harus mengalir ke perusahaan pengepul. Saya kira perusahaan. Pengepul karena modal, paling banter akan ada 5-7 perusahaan saja sebagai pemain utama," khawatirnya.
Jika masyarakat sudah kecanduan atau terbiasa dengan dua sloki sehari, betapa bisnis yang menjanjikan bagi pengepul. Harga mereka bisa atur termasuk juga stok di pasaran.
"Pertanyaan sederhana, siapa sajakah pemain pengepul ini? Betapa sampai setingkat Gubernur getol dan terkesan over dosis kampanyekan produk ini," tanyanya.
Di petani ya sebatas kemampuannya menyalurkan ke koperasi saja pendapatannya. Ini mirip permainan BPPC ketika cengkeh dulu dimainkan oleh penguasa Orde Baru. Tidak ikut di proses tanam, rawat dan pemrosesan tetapi mengatur peredaran dan harga serta mendapatkan untung terbesar.
Di sisi lain, untuk memenuhi pasar maka Arak oplosan akan bergerak di pasar gelap. Membanjiri pasaran. Generasi peminum arak makin meningkat pesat dengan semboyan... Sing demen siep, lamun demen siup.. Atau istilah Arak adalah nyawa makin menggelegar.
Betapa bahayanya generasi masa depan Bali dipropaganda bisnis ini dengan tagline pelestarian budaya. Entah budaya mana karena Arak sendiri adalah bahasa Arab bukan bahasa Bali. Spend money krama Bali yang bisa ke makanan sehat, beli buku, ataupun yadnya harus terbelah ke arak.
Secara ekonomi akan jelas dimana sebenarnya keuntungan terbesar. Apalagi semua PNS di Bali sebagai konsumen utamanya akibat takut dengan pucuk Pimpinannya. Belum lagi kader kadernya dan berbagai stake holder yang ramai ramai promosi minum satu sloki setiap acara.
"Jujur saya sedih dan tidak sependapat pengelolaan Bali seperti ini. Konsep hulu teba memang diatur. Tetapi memperlakukan teba sebagai hulu telah merusak cara berpikir orang Bali," imbuhnya.
Seakan Arak adalah sumber kesehatan, padahal data yang terjadi bukan begitu. Anehnya para dokter dan pakar kesehatan memilih tiarap atas fenomena ini.
Masyarakat seakan ke depan cukup berhubungan dengan pengepul arak untuk menjaga kesehatan. Para dokter sudah tidak diperlukan lagi penjelasan pendidikan kesehatan dan lainnya soal bahaya alkohol yang sangat ilmiah.
Kesejahteraan Petani dijadikan ajang kampanye populisnya, tetapi panen raya di pengepul dan Gubernur sebagai brand ambasador - nya.
Sementara kerusakan kesehatan yang terjadi sudah pasti tidak dijamin BPJS dan belum ada jaminan kesehatan untuk peng konsumsinya dari yang kampanye. Misalnya diluar BPJS yang menolak menangani pasien darahnya mengandung alkohol, ada Asuransi Peminum Arak Bali yang dijadikan program menyatu dengan program Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
Anak muda lebih senang aneka aktivitasnya duduk dengan ditemani arak daripada dengan laptop dan akibatnya saat ini kualitas SLTA di Bali terjun bebas ke titik terendah. Dunia olahraga akan menurun karena lebih bahagia dengan Arak, Ancaman lose generation akan menjadi ancaman nyata ibarat perang candu di China dulu.
"Walaupun harus dibully, tetapi Saya harus terus menyuarakan ketidaksetujuan Saya dan semoga masih banyak juga yang waras lebih mempercayai bicara kesehatan oleh pakar kesehatannya, bukan oleh pedagang atau pemain proyek. Karena itu sama saja ibarat mempercayai dagang obat dipinggir jalan soal kesehatan dibandingkan dokter di rumah sakit," ujarnya.
GPS mengaku berbeda pendapat secara sehat. Silakan keluarkan argumentasi lain yang mencerdaskan jangan yang memabukkan dengan buzzer buzzer membabi buta. Terus bangun dialektika.. "Yang pasti, Saya dalam posisi tidak setuju ada Hari Arak Bali karena ekses psikologis, sosiologis sangat besar di masyarakat bawah," tutupnya. (GAB/ART/001)