Oleh Jero Mangku Agung I Ketut Puspa Adnyana
Hidup ini seperti keranjang padang, diisi rumput apa saja boleh dan nanti pasti kosong lagi. Ida Ketut Jelantik, mahakawya Bali yang bijaksana. Karyanya menurut saya “The Gita of Bali”.
Akhir-akhir ini secara tidak sengaja saya tertarik pada sejarah Hindu di Indonesia, bukunya banyak. Yang patut dijadikan referensi Pararaton dan Negarakertagama. Membaca isi kedua pustaka ini awalnya “kebingungan” tetapi lama-lama menjadi “asyik” dengan cara berubah cara pandang terhadap dua buku ini.
Beberapa sarjana percaya bahwa Pararaton lebih bagus diacu dalam mempelajari raja-raja Hindu di masa lalu. Negarakerthagama, lebih sebuah pustaka untuk “memartbatakan atau mengharumkan” Majapahit.
Ada juga Ramayana versi pemihak Maharaja Rahwana, yang bukan ditulis Bhagawan Walmiki. Ada juga Mahabharata yang ditulis Rsi Vedaviyasa dan pustaka lain yang ditulis para pemihak Kurawa.
Asyik, karena pustaka Veda sudah mengajarkan perihal dualisme: suka-duka silih berganti (Bali). Dengan demikian apa masalahnya? Tidak ada, tergantung bagaimana kita menseting cara pandang. Kalau banyak sarjana, tokoh meletakkan cara pandangnya demikian, konflik sepertinya sulit dimunculkan.
Bilamana terjadi konflik, sebenarnya karena seseorang terlalu SERIUS. Ada dua soal terkait keseriusan ini: subyektif dan obyektif. Ketika berbicara S dan O, sebenarnya ada formula: “Semakin S seseorang maka diikuti juga semakin O dan sebaliknya semakin O seseorang diikuti pula semakin S”.
Pandangan ini yang membuat saya tersenyum, katika melihat raport cucu saya yang bersekolah di sebuah Yayasan pengelola pendidikan yang sangat unggul, kelas 3 sudah bisa menyalahkan Bahasa Inggris saya. Cucu saya ini sama dengan saya beragama Hindu. Ayahnya dan juga tantenya, anak-anak saya, bersekolah disini dan beragama Hindu juga. Karena apa saya tersenyum: nilai agama cucu saya bukan Hindu.
Ketika saya tanya anak saya: kenapa Nak? Jawabannya: “ itu hanya ilmu Jung”. Ah….. Saya percaya karena saat anak saya masih bersekolah, anak saya ini dapat "menyalahkan" gurunya yang bukan beragama Hindu menjelaskan tentang teologi Hindu. Lalu anak saya ini menjelaskannya. Guru itu percaya karena gurunya juga bertanya: siapa orang tua anak saya?
Saya kemudian melanjutkan membaca beberapa buku mengenai sejarah Hindu di Indonesia. Saya menemukan bahwa sejak dulu Dharmadyaksa berada pada posisi tertinggi dalam sistem pemerintahan saat itu, meskipun raja sang Angemong Rat. Rahayu. (*)