Denpasar (Atnews) - Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Provinsi Bali bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Provinsi Bali bekerja sama menggelar diskusi yang mengangkat tema “Go Big with Go Public” di UID Bali Campus, Kura Kura Bali Denpasar, Kamis (23/2).
Dalam rangka mempercepat pemulihan perekonomian Bali khususnya, berbagai upaya sinergitas dan kolaborasi dari berbagai institusi dan stake holder sangat diperlukan.
Keberadaan BEI, KADIN Provinsi Bali dan NCPI Provinsi Bali berupaya memaknai dan menangkap tantangan atau peluang yang ada untuk peduli dan berkontribusi secara konkret atas pencanangan pemerintah untuk melakukan pemulihan perekonomian.
Dalam konteks ini, Bali yang sangat bertumpu pada dunia pariwisata, ternyata saat pandemi Covid 19 paling dalam merasakan dampaknya. Pada awal pandemi Covid-19, perekonomian Bali terkontraksi minus 9,31 persen.
Sejalan dengan hal tersebut, berbagai edukasi, pelatihan maupun pengetahuan yang bertujuan memberi pengetahuan dan manfaat pendanaan melalui Initial Public Offering (IPO) di Pasar Modal Indonesia, sebagai bagian dari nilai tambah (value added) bagi para anggota maupun masyarakat menjadi sebuah tanggung jawab moral sebagai bentuk kepedulian KADIN dan NCPI Bali.
"Untuk itu KADIN dan NCPI Bali bekerjasama dan berkolaborasi dengan BEI dihadiri puluhan peserta dari berbagai pelaku bisnis, juga praktisi hukum," kata Ketua NCPI Bali Agus Maha Usadha didampingi Sekretaris Adi Parnama.
Ia menjelaskan penting bagaimana melihat peluang ini sebagai suatu challenge, bagaimana mencari IPO itu, termasuk tanggung jawabnya nanti. “Saya lihat bagaimana visionernya nanti tergantung tourism karena di Bali menyangkut tourism,” jelasnya.
Setelah IPO bagaimana? Menurut Agus Maha Usadha suksesnya adalah di company itu sendiri, bagaimana menumbuhkan company itu sendiri, raising fund-nya itu. Kuncinya bagaimana mengarahkan itu ke depan.
Dengan demikian, Agus Maha Usadha yang juga yang juga merupakan WKU KADIN Bali bekerja sama memberikan pelatihan khusus kepada pengusaha di Palau Dewata yang berminat masuk IPO.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum (WKU) KADIN Bali Bidang Ekonomi Digital & Renewable Energy, Agung Wirapramana yang mewakili Ketum KADIN Made Ariandi.
Pada kesempatan tersebut, KADIN Bali menyambut baik kegiatan yang diyakini akan menambah literasi bagi pengusaha daerah dalam ekosistem bursa dan perusahan terbuka.
Ia pula mengharapkan para pengusaha untuk memperoleh literasi yang berkaitan dengan blended fund, creative fund ataupun potensi sumber pembiayaan lain, serta model business yang tepat dengan keunikan Bali yang non industrial namun memiliki intangible prospectus, potensi ekonomi kreatif dan tentunya sebagai hub internasional market sekaligus juga sebagai sebuah pulau, Bali telah memiliki kebijakan arah pembangunan yang jelas.
Diingatkan pulan bahwa Indonesia adalah negara sumber daya sekaligus sebagai pasar yang besar, dan banyak perusahan di Bali yang sangat potensial untuk masuk bursa namun literasi tersebut masih belum tersedia.
Disisi lain, potensi start-up dan perusahan lainnya termasuk UMKM juga memiliki kans dan potensi yang cukup luas dan besar masuk IPO.
Literasi tersebut mendapatkan dukungan dari Founder dan Ketua Yayasan Kampus Monarch Bali. Sisi akademisi, literasi ekosistem bursa bisa dimulai sejak dini kepada publik, khususnya para mahasiswa. Pengetahuan itu tidak saja kepada para pengusaha, tetapi publik secara umum agar tahu cara berinvestasi yang benar dengan memilih perusahaan yang baik.
"Saat ini memang perlu merubah pola pikir generais muda, mahasiswa sebagai salah satu penggerak ekosistem bursa di tengah integrasi kemajuan teknologi. Maka peluang kerja dan peluang bisnis tentu sebagai kebutuhan," imbuhnya.
Sedangkan Founder sekaligus Dirut PT Hatten Bali Tbk. (Wine) Ida Bagus Rai Budarsa saat memaparkan proses hingga manfaat IPO dalam diskusi tersebut.
“Untuk naik kelas butuh persiapan dan peluangnya saat ini sangat besar. IPO ini bukan hanya menggali dana tapi penting dari sisi manfaatnya yakni kelanjutan usaha. Apalagi perusahaan keluarga akan dikelola profesional sehingga bisa langgeng,” ungkap Ida Bagus Rai Budarsa.
“Hatten sendiri memerlukan waktu sekitar 6 bulan untuk IPO,” tambah jebolan Fakultas Teknologi Pertanian Brawijaya yang memulai bisnis fermentasi arak beras atau lebih dikenal brem Bali dengan merek Dewi Sri yang dirintis ayahnya di tahun 60-an.
Hatten Wines saat ini memproduksi wine lokal dan mampu bersaing dengan wine luar. Hingga kini, Hatten sukses melahirkan berbagai varian wine seperti rose wine, white wine, red wine dan sparkling wine.
Ditambahkan Gus Rai, kalau sudah IPO, dana itu disesuaikan apa untuk investasi atau modal kerja. Itu harus dipaparkan, dipertanggungjawabkan. Sebab itu nanti diaudit. Jadi harus sesuai dengan rencana kerja.
Soal harga saham, kalau perusahaan bagus dan kinerja bagus harganya akan naik, begitu pula sebaliknya. “Kalau tidak dijalankan dengan bagus, yaa saham akan turun. Tapi begitu jualannya nanti bagus, harganya akan naik lagi,” jelasnya.
Sementara, Direktur Indonesia Stock Exchange IDX I Gede Nyoman Yetna mengatakan opportunities bagi perusahan-perusahaan di Bali untuk skill-up atau naik kelas itu terbuka lebar. Tapi itu butuh persiapan, inilah kesempatan untuk sharing, memberikan wawasan bahwa engagement dengan publik itu ada.
Memang banyak sekali orang berpikir bahwa IPO itu sulit. Tapi sudah dipaparkan fungsi IPO, bukan hanya untuk menggali dana tapi akan bekerja dengan profesional karena ada pihak-pihak yang mengawasi usaha kita.
Seperti di Bali banyak perusahaan keluarga melakukan IPO. Siapa tahu keluarga tidak melanjutkan perusahaan ini, maka perusahaan akan dikelola oleh profesional dan diawasi oleh pihak-pihak lain sehingga jalannya perusahaan itu akan langgeng. Dituntut juga untuk berkembang sehingga harus ada inovasi-inovasi baru.
Menurut Yetna, semua usaha potensial melakukan go public asal sektor yang digeluti preverable. Apalagi Bali yang dominan pariwisatanya, maka sektor ini akan sangat menjanjikan. “Jangan berpikir yang kecil itu tak bisa go public, tapi yang perlu diperhatikan adalah prospeknya,” tambah Yetna.
Diingatkan konsekuensi tantangan manajemen untuk melihat bisnis modelnya, sehingga menjadi perusahaan tercatat yang skill-up, tidak berhenti di satu titik tapi visioner ke depan, melihat apa yang perlu diperbaiki. Ini membutuhkan professional both of directors, both of commissioners.
Menurutnya semua bidang itu potensial, tinggal melihat sektor ke depan apa yang diminati. Kalau di Indonesia salah satu yang mendorong adalah finansial, energy, yang jelas hampir semua sektor ada keterwakilan. Apalagi di Bali yang berhubungan dengan pariwisata.
Saat ini perusahaan di Bali yang IPO ada 4., salah satunya PT Hatten Bali Tbk. yang dimiliki putra daerah. “Ada 33 lainnya tapi belum saya cek, makanya kita kesini untuk encourage entrepreneurs yang ingin naik kelas untuk memanfaatkan pasar modal,” pungkasnya.
Sementara CEO LandX Romario Sumargo mengatakan tujuan pendanaan melalui IPO ini agar bisnis itu bisa naik kelas dan berkelanjutan.
Begitu juga salah seorang peserta Ni Kadek Winie Kaori dari Kaori Group mengaku diskusi itu sangat positif dan penting bagi pengusaha yang ingin terus maju dan eksis. “Saya lihat ini bagus dan tentu perlu dipikirkan ke depannya,” tambahnya. (GAB/ART/001)