Oleh Jro Gde Sudibya
Yoga sebagai "way of life", dan menuju "way of spirit" sangat patut diapresiasi, karena pengetahuan Sanatana Dharma berkontribusi bagi umat manusia, dalam perspektif kesehatan fisik, kecerdasan dan juga sisi rohani kehidupan, bagi para penekunnya.
Yoga dikenal luas secara global baru sebatas, abstraksi (penyingkatan) dari kurang lebih 7 juta posture Asana, menurut penempuh jalan Yoga yang mumpuni.
Abstraksi yang oleh banyak pelaku Yoga dianggap sudah memadai, tetapi bagi penekun Yoga, yang memahami dan memdalami Yoga dalam pengertiannya yang otentik, "mengikatkan diri dan menyatu dengan Tuhan", olah fisik Asana diperlukan, tetapi tidak cukup sebagai instrumen ketercerahan diri -self enlightment-.
Di sini Rsi Patanjali dengan Astangga Yoga memberikan tuntunan pendalaman. Delapan "tangga" menuju Tuhan: Yama dan Niyama (tuntutan etik kehidupan), Pranayama (olah nafas sebagai instrumen penyucian pikiran dan lanjutannya), Asana, olah tubuh, pengertian Yoga bagi masyarakat umum, dengan jutaan posture untuk stimulasi: kesehatan fisik, keseimbangan tubuh, kecerdasan holistik (tubuh, intelektual, emosional, sosial dan spiritual), membangun relasi ideal: body, mind and soul. Praktihyara, menarik indera-indra ke dalam diri, mulai mencoba melepaskan diri dari ikatan dunia yang maya sifatnya. Dharana, Dhyana, Samadhi, fokus melihat diri ke dalam, in deep inner self procesess, menuju Samadhi (menjadi satu dengan Tuhan).
*) Jro Gde Sudibya, Ketua FPD (Forum Penyadaran Dharma).