Oleh Jro Gde Sudibya
Raina Tumpek Landep hari ini, "nemu" Purnama Sadha, 3 Juni 2023, bisa dimaknai sebagai upaya mempertajam pikiran, untuk bisa bekerja lebuh fokus dalam melakoni dan memaknai kehidupan.
Ketajaman pikiran berbasis nilai-nilai kebaikan (satvam), melalui disiplin diri dan prilaku, tapa bratha, dapat membersihkan/mempurifikasi pikiran, melahirkan tindakan-tindakan nyata, "in actions" berfungsi lanjutan sebagai purifikasi dari "bayu, sabda, idep", perbuatan, perkataan dan pikiran, yang menghantarkan insan-insan manusia menuju ke ketercerahan diri.
Proses pendakian rokhani, secara implisit-inhaeren, melahirkan benih-benih dari kecerdasan: phisik, intelektual, emosional dan spiritual.
Kecerdasan holistik hasil dari laku rokhani, bisa muncul dalam realitas diri: kesehatan fisik terjaga dan disiplin yang melekat, kecerdasan dalam membangun relasi sebab-akibat, bertumbuhnya empati, kebangkitan spirit diri dari kekuatan Atman, "Aham Brahma Asmi", "Atman Brahman Aikiyam", "Sat, Cit, Ananda".
Kecerdasan holistik untuk pengembangan kecerdasan dialektika, yang antara lain bercirikan, pertama, pemahaman kehidupan dan kemudian realitas sosial tentang: pangkal penyebab persoalan dan atau dinamika kehidupan itu sendiri (thesa), respons "balik"terhadap persoalan (anti thesa), dan kemudian pilihan solusi (sintesa). Bagi insan manusia yang tercerahkan, proses dialektika akan direspons lebih tenang, pendekatan solusi lebih holistik dengan pilihan keputusan lebih bijak.
Kedua, lebih cerdas dalam menangkap fenemena alam, karena bagian dari alam itu, bukan merasa menjadi "tuan" terhadap alam, sehingga alam yang terjaga keseimbangannya, akan memberikan vibrasi spirual, aetherial vibration (meminjan istilah Svami Vivekananda), yang akan berkontribusi mempertajam kecerdasan dan memperkuat spirit diri. Ketiga, kesucian pikiran, "penunggalan Bayu, Sabda, Idep", laku rohani Dharana, Dhyana, Samadhi, dapat memancarkan kesucian terhadap Alam Raya sampai di tingkat Akasa yang kemudian memantul balik ke Bumi, yang melahirkan pengetahuan, kecerdasan,kedamaian yang berkelanjutan.
Kecerdasan holistik di atas, terlebih-lebih bagi para pengambil kebijakan publik, yang begitu banyak dihadapkan pada jebakan kekuasaan sangat diperlukan untuk meminimalkan inkonsistensi kebijakan, salah guna kebijakan yang bisa menjadi pemicu kegalauan sosial.
*) Jro Gde Sudibya, Kerua FPD (Forum Penyadaran Dharma), penulis beberapa buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali.