Banner Bawah

Memahami Suyudana dan Sekelilingnya

Admin - atnews

2023-06-11
Bagikan :
Dokumentasi dari - Memahami Suyudana dan Sekelilingnya
Slider 1

Oleh Jero Mangku Agung I Ketut Puspa Adnyana
“Sembah sujud kehadapan kaki padma Sumber Sejati. Sembah sujud kepada para leluhur, Ida Bhatara lan Rsi Agung. Sujud dan mohon ampunan kepada Yang Mulia Maharsi Vedavyasa yang menyusun Mahabharata”.

Dalam keropak wayang (gedog) keluarga, saya suka beberapa wayang: Sri Krishna, Bima, Hanuman, Bhisma, Suyudana (di kaki dekat katik tertulis Prabhu Suyudana, bukan Duryodana). 

Pada punakawan saya suka: Malen. Kesukaan saya pada beberapa wayang itu, pada waktu kecil, karena gagah dan warnanya sangat menarik. Bagi saya wayang Sugriwa dan Suyudana sangat indah. Pada Bima dan Hanuman saya suka karena kekar (pahanya menonjol). 

Bhisma saya suka karena warna dan tubuhnya yang kekar dan pandita. Setelah dewasa, dan sudah membaca Itihasa saya sadar bahwa kesukaan itu, ternyata terkait dengan rasa hati dan karakter, sebagaimana dijelaskan oleh Ki Dalang, guru dari dalang saudara kandung saya tertua. Terlebih lagi nenak saya, suka membaca lontar.

Kali ini ingin mengulas Suyudana (dalam versi lain, Drestharastra marah nama anaknya Suyudana diselewengkan menjadi Duryodana, oleh keluarganya sendiri). 

Saya menggunakan referensi dari Mahabharata Vedaviyasa, versi Indonesia dan versi pihak kalah (yang menulis Bhagawad Gita for Daily liaving, yang dilarang terbit lagi di India). 

Versi Mahabharata versi Vedaviyasa paling banyak diacu diberbagai dunia. Memahami Itihasa menjadi lebih dalam bila membaca juga versi lain, dan Mahapurana.

Suyudana, yang kemudian lebih terkenal dengan nama Duryadana adalah putra bayi tabung pertama Drestarastra dengan permaisuri Dewi Gandari, ketika ia menjadi Pelaksana Tugas Raja Hastinapura. 

Yudistira dan Pandawa lainnya lahir setelah ayahnya, Maharaja Pandu wafat, akibat pastu Rsi Kindama. Yudistira lebih tua, sehingga Yudistira secara tradisi adalah Putera Mahkota. Suyudana sebelum mendapat asutan pamannya Sangkuni, memahami dengan baik hal ini. Suyudana sebagai keturunan wangsa surya yang sangat beradab sejak masa lalu memiliki karakter yang baik. 

Pada masa-masa sulit Suyudana merasa bertanggungjawab kepada adik-adiknya, yang berjumlah 100, 99 saudara kandung dan seorang perempuan yang kelak menjadi istri Jayadrata, bernama Dewi Susilawati (Dursilawati). Suyudana juga mempunyai adik bernama Yuyutsu yang lahir dari pelayan Ibu Gandari, yang bernama Sugada. Jadi anak Drestharastra berjumlah 101 orang. 

Yang selamat dari perang hanya Yuyutsu dan Dursilawati (tidak ikut perang). Yuyutsu inilah bendahara kerajaan Hastinapura, yang memiliki Holding Company besar menguasai armada perdagangan darat dan laut dunia. Keturunan Yuyutsu melanjutkan garis keturunan Drestharastra. Suyudana dan Yuyutsu sebaya dan lahir bersamaan.

Peran Yuyutsu sangat penting, karena ia bendahara kerajaan. Kekurangan 80% biaya perang Kuru dipinjam dari harta pribadi Yuyutsu. 

Yuyutsu kemudian menyebarang ke pihak Pandawa dan menjadi pendamping Dewi Drupadi sebagai bendahara Kerajaan Indrasprastha dan setelah menang peran dan Yudistira menjadi Maharaja Hastinapura. 

Disamping Parikesit ada anak Karna dan anak Yuyutsu sebagai petinggi Hastinapura, setelah Yudistira meletakkan tahta.

Suyudana dipandang suka bergaul dan mempunyai program pengentasan daerah slum dan kemiskinan. Suyudana juga dermawan dan suka memberi bantuan pada fakir miskin. Sampai sekarang di India ada satu-satunya tempel pemujaan Suyudana. 

Suyudana, karena memiliki pengalaman mengurus 100 adik-adiknya sejak dini sudah mempunyai keprihatinan yang memunculkan rasa belas kasih sehingga ia suka membantu. 

Pemberian kerajaan kecil Awangga kepada Karna, disamping karena ada motivasi untuk kekuasaan namun juga didorong oleh pengalaman hidupnya yang mempunyai rasa kasih.

Perubahan karakter Suyudana, selanjutnya disebut Duryodana karena pengaruh Sangkuni yang mempunyai Grand Desain dan action plan yang sangat baik untuk untuk kehancuran Hastinapura. 

Kebencian Sangkuni pada Hastinapura bukan pada Pandawa dan Kurawa, namun dua kelompok pangeran ini adalah “CELAH” yang menjadi jalan mulus perjuangan Sangkuni. 

Sangkuni tidak memiliki kepadulian pada Kurawa ataupun Pandawa. Sangkuni hanya peduli pada Kehancuran Hastinapura.

Sangkuni memainkan peran sangat berhasil, Duryudana tidak menyadari bahwa pamannya itu menggunakan dirinya sebagai alat. Kebencian Sangkuni bermula dari kelahannya mendapatlan Dewi Kunti, cinta yang gagal. Ia ingin kakaknya Dewi Gandari dipersunting Pandu. 

Disuntingnya Dewi Gandari oleh Drestrarastra yang difabel, merupakan penghinaan kepada Kerajaan Gandara. 

Ayah Sangkuni berpesan agar membalaskan penghinaan itu, dengan cara halus karena kerajaan Gandara tidak mungkin menang melawan Hastinapura dengan tentara danpahlawan yang kuat seperti Bhisma, 

Kripacarya dan Pandu. Siasat, winaya, prostitusi, adudomba, pecah belah, agitasi dan suap serta korupsi dijalankan Sangkuni, dengan manajer utama Purocana. 

Sebenarnya Mahamenteri Widura sudah menangkat sinyal ini melalui telik sandinya, namun sang raja tidak mempercayainya. 

Walaupun mereka bersaudara: Drestarastra, Pandu, dan Widura, namun Drestarastra tetap menganggap saudaranya Widura adalah seorang Sudara. 

Widura juga menjelaskan hasil penelitiannya kepada Bhisma, namun Bhisma terlalu percaya diri pada kekuatannya.

Tidak ada orang lain yang diapandang sangat sayang kepada dirinya oleh Duryadana selain Sangkuni. Inilah keberhasilan Sangkuni yang gemilang. Tidak ada satupun gerakan Duryodana tanpa peran Sangkuni. 

Termasuk keberhasilannya menarik mertunya Raja Salya memihak kepada Duryodana pada perang. Salya awalnya ingin memihak kepada kemenakannya Pandawa, karena Dewi Madri adalah adiknya, Ibu Nakula dan Sadewa. 

Dewi Bonawati adalah istri Duryadana yang ia sangat sayangi, karena kacantikannya tiada tara sebanding dengan Dewi Drupadi dan Dewi Sumbadra. Dewi Bonawanti sangat mencintai Arjuna, sepupunya, namun Dreatrastra terlanjur meminang putri Salya untuk menjadi istri Duryadana. 

Akhirnya kita mendapatkan pengalaman dalam membaca Itihasa Mahabharata bahwa Sangkuni adalah perancang perang Wangsa Kuru di Kuruksetra, disamping juga Sri Krishna. 

Maka sangat benar dan bijak pepatah para leluhur kita “ Gigi dan Lidah sangat dekat, kalau bergerak Lidah bisa tergigit Gigi”, yang rasa sakitnya sangat gertir. Namun Sangkuni telah berhasil menghancurkan Hastinapura, bermula dari kekalahan memahami cinta. 

Ketaidakseimbangan Suyudana, menambah persolan menjadi rumit dan Sangkuni berhasil. Rahayu (*).

Baca Artikel Menarik Lainnya : UU Tak Nabrak UUD 1945

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng