Gianyar (Atnews) - Seniman drh. Tjokorda Istri Dewi Sri Djayanti, RFP., AFA., MAP yang akrab disapa Cok Dewi ikut akan merebut kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali pada Pemilu Serentak 2024.
Cok Dewi mengharapkan, budaya seni Bali dapat menjadi perhatian DPRD Bali sebagai modal dan ciri khas Pulau Dewata yang patut dilestarikan.
Kepeduliannya terhadap adat, budaya, tradisi juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia pun pernah mengikuti penampilan seni di Perancis dengan Rombongan Group Departemen Kebudayaan Jakarta, Denny Malik penarinya Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra.
Mas Guruh adalah seniman dan politikus Indonesia yang menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sejak 1999. Ia merupakan anak bungsu Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno dari pernikahannya dengan Fatmawati.
Cok Dewi ingin mengikuti jejak Mas Guruh menjadi seniman dan politikus. Meskipun dirinya belum lolos maju sebagai DPR RI pada Pemilu 2019. Namun dirinya tidak patah semangat pada Pemilu Serentak 2024 untuk memperjuangkan agar Prabowo Subianto menjadi Presiden yang menggantikan Jokowi.
Kehadirannya pun dalam memperjuangkan kaum kaum perempuan di DPRD Bali. Cok Dewi yang memiliki semangat pejuang para pahlawan dari salah trah Puri Agung Peliatan, Ubud, Gianyar.
Ia juga Penasehat DPD Gerindra Bali telah memantapkan diri sebagai bakal calon legislatif (bacaleg) DPRD Bali dapil Gianyar pada Pemilu serentak 2024 mendatang.
Cok Dewi pun telah mengikuti tahapan fit and proper tes di kantor DPD Gerindra Bali, belum lama ini. Bergabung sejak 2009, Putri dari pasangan Tjokorda Bagus Djaya dengan AA Ayu Ngurah Astuthi ini tergolong kader senior pada partai besutan Prabowo Subianto itu.
Ia tetap berkomitmen menghadirkan politik bersih tanpa adanyab money politik (politik uang). “Saya tidak menggunakan politik uang,” kata Cok Dewi di Gianyar, Minggu (11/6).
Ia berperan aktif di berbagai organisasi dijadikan modal utama merenggut kepercayaan publik. Hal itu tidak terlepas dari pengaruh DNA leluhurnya.
Sang kakek dari ayah merupakan seorang Pejuang 45 dari Puri Agung Peliatan. Sementara kakek dari ibunya adalah Raja Puri Karangasem, AA Anglurah Ketut Karangasem.
Pengalaman hidupnya, sejak kecil yang berpindah-pindah mengikuti tugas orangtuanya, juga turut membentuk karakternya sebagai orang yang peduli sesama.
Kelahiran Jakarta, bahkan pernah tinggal Australia. Meskipun sering berindah tugas, Orangtuanya terus menyelipkan pesan bagiamana seharusnya laku orang puri yang dijadikan panutan masyarakat.
Sejak kecil, Cok Dewi dilatih bagaimana berbahasa alus singgih, menari, dan menjaga tradisi Bali. “Meski hidup di luar (Bali), kami tetap menjalankan tata krama puri dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.
Dalam berbagai wadah organisasi yang digawanginya pula, Cok Dewi telah banyak melakukan sesuatu untuk masyarakat, seperti menyalurkan sembako, alat pelindung diri saat pandemi Covid-19 hingga pelayanan kesehatan.
Kepeduliannya terhadap adat, budaya, tradisi juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Hanya saja ia tak ingin mengekspose terlalu luas. “Saya bukan siapa-siapa tapi ada di mana-mana. Untuk masyarakat,” tegasnya.
Dia yakin bahwa masih banyak pemilih yang tidak berorientasi uang. Pemilih berdasarkan hati nurani. Pemilih seperti itulah yang disasarnya.
“Saya tetap optimis meraih satu kursi. Semoga lolos hingga penetapan,” harapnya.
Cok Dewi sebagai Bendahara Pemuda Panca Marga (PPM) Bali, Sie Kepemudaan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK Bali), Sie Lingkingan hidup, Sosial dan Kerohanian Gerakan Wanita Sejahtera (GWS) Bali yang juga Ketua GWS Gianyar.
Selain itu, Penasehat DPD Gerindra Bali, Sie Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat Perempuan Pemimpin Indonesia (Perpina) Cabang Gianyar, Wakil Ketua yang juga/ Ketua Harian Lemkari Gianyar, Sie Sosial dan Kesehatan Masyarakat Perempuan Indonesia Raya (PIRA) dan Penasehat Pensiunan Pejuang Indonesia Raya (PPIR) Bali. (GAB/ART/001)