Oleh Anand Krishna
"Mereka yang tidak dapat mengingat masa lalu dikutuk untuk mengulanginya."
George Santayana (1863-1952) Filsuf, Esais, Penyair dan Novelis
Kekaisaran, Seluruh Bangsa dan Peradaban telah jatuh, hancur, terpecah belah dan musnah tak bersisa karena alasan ini. Banyak di antaranya yang benar-benar terlupakan, seolah-olah mereka tidak pernah ada... Sungguh, mereka yang tidak ingat sejarah dilupakan oleh sejarah.
Beberapa dekade yang lalu, pemenang Nobel V.S. Naipaul memperingatkan kita tentang apa yang bisa terjadi di negara-negara, di mana budaya asing dipaksakan pada budaya asli setempat. Dan, dia secara khusus menyebut negara-negara yang termasuk peradaban agung Lembah Sindhu.
Jejak-jejak dan peninggalan yang jelas dari peradaban ini pertama kali ditemukan di suatu wilayah yang sekarang merupakan bagian dari Republik Islam Pakistan. Reruntuhan Mohen-jo-daro, yang diakui sebagai tempat lahirnya peradaban kuno ini menjadi saksi kebesarannya.
Adalah Sejarawan Besar Arab abad ke-10 SM, Al Beruni, yang salah melafalkan Sindhu sebagai Hindu. Para sejarawan secara kolektif menyebut semua tanah dan pulau-pulau di balik lembah Sindh (sekarang bagian dari Republik Islam Pakistan) sebagai “Hind”.
Dia bukan orang pertama yang salah melafalkan kata Sindhu tersebut. Jauh sebelumnya, orang Yunani menyebutnya Indos, para pelancong China menyebutnya Shintu atau Shin-tuh, dan ada indikasi bahwa orang-orang Arab tempo dulu mengetahui ihwal peradaban Sindhu dari para pedagang Yunani dan Cina dan beberapa suku Arab menyingkatnya menjadi Shin.
Seribu tahun kemudian, Al Beruni menulis tentang peradaban India dengan hasrat yang tak tertandingi, menerjemahkan berbagai naskah spiritual dan lainnya ke dalam bahasa Arab dan memuliakan penduduknya sebagai pemuja Tuhan Tuhan "Hyang Satu Adanya", seperti yang dapat dilihat dengan jelas dalam kutipan berikut yang diambil dari buku yang dimaksud:
“Dalam buku Patanjali (sang penulis mungkin merujuk pada risalah yang berdasarkan Yoga Sutra Patanjali - a.k.) murid bertanya: Siapakah yang Hyang Dipuja itu, yang berkahNya didapat dengan memujaNya?
"Sang guru menjawab: Dialah yang abadi dan tiada duanya, yang tidak membutuhkan tindakan manusia yang dapat bisa Ia ganjar dengan ketenangan membahagiakan yang diidam-idamkan manusia, atau kesulitan hidup yang ditakuti. Ia melampaui pikiran, melampaui segala yang disukai dan yang tak disukai. Sejak awal mula, Ia Maha Tahu. Bagi manusia, pengetahuan berarti sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui dan kemudian ia ketahui. Ini tidak berlaku bagi Tuhan, yang Maha Tahu Adanya."
Ini tentu saja tidak dapat diterima oleh Sultan Mahmud, penguasa Ghazna, yang menginginkan pembenaran agama atas penjarahan terhadap anak benua India.
Jauh setelah itu, ketika orang-orang Mogul datang ke India dan menetap di sana, mereka menyebut kerajaan mereka Hindustan. "Hindu" tidak pernah digunakan untuk mengidentifikasi agama tertentu, melainkan untuk menyebut peradaban serta lokasi geografis. Portugis melakukan hal yang sama ketika mereka mengubah kata itu menjadi “Hindia”. Kemudian, Inggris melafalkannya sebagai India.
Menariknya, bahkan salah seorang pejuang besar Kemerdekaan Indonesia, Cokroaminoto, pendiri Syarikat Islam, menamai korannya “Utusan Hindia”, yang menyiratkan bahwa orang-orang Hindia tidak merujuk pada agama tertentu, tetapi merujuk pada wilayah budaya dan geografis.
Para penduduk Nusantara dari Indonesia Kuno dan Modern merupakan bagian dari peradaban yang sama dengan orang-orang Iran kuno, orang-orang Afghanistan dan orang-orang Bharat (sekarang anak benua India).
Sebagaimana ditunjukkan oleh Coedes, sejarawan Prancis, penguasa India daratan tidak pernah menjajah anak benua itu. Mereka tidak perlu memaksakan nilai-nilai spiritual dan budaya mereka. Sebab, seluruh wilayah berbagi nilai-nilai yang sama.
Orang-orang Barat menyebut kepulauan Indonesia – Nusantara kuno atau Dvipantara – sebagai lesser India, India yang lebih rendah... sebuah istilah yang keliru meskipun mengakui fakta bahwa orang-orang di seluruh wilayah itu berasal dari peradaban yang sama.
Para penduduk Nusantara tidak "lebih rendah" dalam hal apapun. Justru kepulauan Indonesia diakui sebagai Svarna Dvipa, pulau penghasil emas. Lautan yang menciptakan pemisahan geografis tidak memisahkan masyarakat secara budaya. Mereka berbagi akar budaya yang sama.
Yoga sebagai sebuah Ilmu Pengetahuan dikembangkan dari akar tersebut. Jadi, kita menemukan Yoga dalam berbagai bentuknya di seluruh anak benua India, dan di pulau-pulau Indonesia. Yoga tidak ada hubungannya dengan “isme” apa pun, kredo agama, dogma, atau doktrin apa pun; tetapi dengan "Hindu" sebagai peradaban.
"Hindu" sebagai agama adalah fakta yang harus diakui saat ini. Demikian pula sistem kepercayaan adat kuno Sunda, Jawa, dan lainnya yang hidup di kepulauan Indonesia. Semua sistem kepercayaan ini merupakan bagian dari Peradaban Sindhu, Shintu atau Hindu seperti halnya Yoga. Namun, itu tidak mengurangi Yoga menjadi sebuah agama atau sistem kepercayaan sektarian, sebagaimana definisi agama dan kepercayaan saat ini.
Setiap siswa yang bersemangat untuk mempelajari sejarah budaya di wilayah tersebut dapat dengan mudah menemukan bahwa kata Yoga sudah digunakan ribuan tahun sebelum kata "Hindu" digunakan secara umum. Jika kita ingin menggunakan istilah dari Al Beruni, maka semua penduduk dari Republik India dan Pakistan modern, sebagian besar Indo-China dan Kepulauan Indonesia semuanya adalah Hindu. Oleh karena itu tidak mengherankan, jika para peziarah India yang menunaikan ibadah haji di Saudi disebut Haji Hindi sampai beberapa waktu yang lalu.
Para Leluhur Kita – Masyarakat Hindu Kuno mengembangkan Yoga sebagai sistem yang komprehensif dan holistik untuk kesejahteraan secara utuh. Mereka tidak menciptakan dogma atau doktrin apa pun di sekitarnya. Mereka tidak menguranginya menjadi beberapa pengajaran sektarian.
Bahwasanya Yoga berakar pada Nilai-Nilai Budaya Hindu dan Peradaban Hindu adalah fakta sejarah yang tidak dapat disangkal. Namun demikian, ia tetap bebas dari isme apa pun, sebagaimana Nilai-Nilai Spiritual Hindu Universal.
Bagaimana dengan angka "0"? Atau, Ilmu Astronomi? Orang-orang Arab pertama kali mempelajarinya dari orang-orang Sindh dan kemudian membawanya ke barat. Bukankah sama saja? Sungguh memalukan bahwa beberapa kelompok orang menolak Yoga bahkan tanpa memahami apa itu Yoga, tetapi, itu adalah kerugian mereka sendiri.
Di sisi lain, Ada Orang-orang yang Mengurangi Yoga Menjadi Komoditas – merekalah yang meraih keuntungan dari komersialisasi Yoga.
Yoga adalah gaya hidup; Yoga bukan hanya seperangkat latihan atau filosofi kering yang dapat dikuasai dengan mengambil program 100, 200, 500, 1000, atau 10.000 jam dan menjadi seorang certified teacher, seorang guru bersertifikat.
Seseorang harus menjalani Yoga, mempraktikkannya, dan harus mengubah seluruh hidup seseorang sebelum berbagi Yoga dengan sesama. Ya, berbagi Yoga. Karena, seorang praktisi Yoga sejati, seorang Yogi sejati tidak akan pernah mengaku sebagai seorang guru. Seorang Yogi, paling banter, adalah seorang fasilitator. Tidak lebih. Yogi sejati melakoni sebelum berceramah.
Sayangnya, dunia saat ini dipenuhi para pseudo yogi, para yogi palsu yang memamerkan sertifikat mereka demi keuntungan materi saja. Bahkan banyak yang tidak tahu sedikitpun tentang apa Yoga itu, dan mereka disebut guru dan instruktur Yoga.
Bagi Praktisi Yoga Sejati, mempelajari Yoga Sutra Patanjali tidak hanya penting, tetapi juga bagian dari laku sadhana atau Yoganya.
Pada saat seruannya untuk menjadikan 21 Juni sebagai Hari Yoga Internasional, Perdana Menteri India Narendra Modi dengan tepat menunjukkan di hadapan Majelis Umum PBB (27 September 2014) bahwa:
“(Yoga) mewujudkan kesatuan antara mind (gugusan pikiran dan perasaan) dan tubuh; antara pikiran dan tindakan; antara pengekangan diri dan pemuasan diri; harmoni antara manusia dan alam; sebuah pendekatan holistik untuk kesehatan dan kesejahteraan. Ini bukanlah olahraga tetapi sebuah cara untuk menyadari kesatuan dengan diri sendiri, dunia dan alam. "
Belum pernah terjadi sebelumnya bahwa 177 dari total 193 negara anggota PBB bersama-sama mensponsori resolusi pada Hari Yoga Internasional. Pada saat yang sama, orang bertanya-tanya apakah penjelasan Yoga yang diberikan oleh Perdana Menteri India Narendra Modi telah dipahami dengan baik.
Bagi Banyak Pengusaha Swadaya Yoga dan industri sertifikasi Yoga, penerapan 21 Juni sebagai Hari Yoga Internasional tidak lain adalah Alat Tambahan untuk Pemasaran Yoga sebagai Komoditas. Bagi mereka, Yoga hanyalah serangkaian latihan seperti olahraga, itu saja. Bahkan ada pengusaha yang mencemooh gagasan Yoga di luar apa yang nyaman untuk dijual.
Beberapa saat yang lalu, Al-Jazeera menayangkan dua acara tentang Yoga. Komentar-komentar dari beberapa tokoh terkemuka, beberapa nama besar, bahwa Yoga adalah "ini" dan juga "itu" sangat mengejutkan dan mengganggu. Mereka sama-sama bersalah atas keadaan Yoga yang malang saat ini, karena ia berubah menjadi sebuah komoditas. Tidak boleh ada dua, tidak boleh ada definisi kedokteran atau ekonomi atau matematika yang berbeda-beda. Definisi dasar dari masing-masing disiplin ilmu tersebut adalah satu dan sama. Sama halnya dengan Yoga.
Yoga adalah Filosofi Holistik, yang mencakup semua aspek kehidupan. Tujuannya adalah pencerahan, samadhi, sering diterjemahkan sebagai keseimbangan batin. Ini adalah keadaan diri, dan sebuah kualitas untuk dilakoni dalam keseharian hidup. Dan, jika seseorang melangkah lebih jauh, maka melalui latihan Yogalah seseorang menyadari kemanunggalan, dalam bahasa Sansekerta disebut kaivalya, yang bila diterjemahkan harfiah berarti "tersebut".
Ini adalah keadaan, kesadaran, di mana seseorang menyadari kesatuan dari semua ciptaan, semua keberadaan. Di mana seseorang menyadari saling keterkaitan dan saling ketergantungan semua makhluk hidup, semua organisme hidup. Dengan demikian, seseorang tidak bisa lagi tetap acuh tak acuh terhadap penderitaan tidak hanya sesama manusia, tetapi sesama makhluk hidup.
Seorang Yogi yaitu seorang Praktisi Yoga yang Benar Tidak Bisa Melakukan Kekerasan. Seorang Yogi tidak bisa tidak toleran. Ia tidak haus kekuasaan. Ada hasil akhir tertentu yang diharapkan dari seorang Yogi dari berlatih Yoga sebagai Disiplin Hidup.
Sayangnya, banyak dari mereka yang terlibat dalam “Penjualan” Yoga tidak mengenal nilai-nilai itu. Mereka bahkan tidak akrab dengan Naskah-Naskah Dasar seperti Yoga Sutra Patanjali (naskah paling utama), Bhagavad Gita, dan Hatha Yoga Pradipika.
Mereka lebih peduli dengan sertifikasi, aliansi, dan sebagainya, dengan keuntungan moneter sebagai tujuan utama dan satu-satunya bagi mereka. Menyisihkan semua naskah-naskah ini dan percaya pada gagasan egoistis bahwa seseorang dapat belajar Yoga tanpa merujuk pada naskah-naskah tersebut membuktikan kebodohan dan kesombongan seseorang.
Kepala kita mungkin berputar setelah meneliti latar belakang sebagian besar "lembaga sertifikasi". Orang bertanya-tanya apakah Krishna, Buddha atau Patanjali, guru besar Yoga, memiliki sertifikasi? Lupakan para tokoh zaman lampau dan para Dewa, bahkan Swami Shivananda, atau, yang lebih baru yaitu B.K.S. Iyengar tidak memiliki sertifikasi.
Namun sayangnya, bahkan mereka yang terkait dengan nama-nama waras tersebut sekarang ikut-ikutan gila, ikut-ikutan arus kegilaan untuk menghasilkan uang dengan menjual Yoga.
Yoga, sekali lagi, adalah Jalan hidup. Seseorang yang tidak melakoni Yoga tidak akan pernah bisa berbagi Cara Hidup Yogi.
Sertifikat yang dikeluarkan oleh mereka tidak berharga. Para yogi sejati adalah Acharya, mereka mengajar dengan teladan kehidupan mereka sendiri. Satu, dua, atau lima ratus jam pelatihan tidak dapat mengubah Anda menjadi seorang Yogi. Ini adalah sadhana atau latihan spiritual seumur hidup. Bangun dan jadilah Yogi Sejati!
… .. bangkitkan Semangat Yogi Sejati di dalam dirimu, di dalam diri kita masing-masing….
yoga ve jayati bhuri
ayoga bhurisankhayo
etam dvedhapatham natva
bhavaya vibhavaya ca
tatha ttanam niveseyya
yatha bhuri pavaddhati.
Sesungguhnya, Kebijaksanaan lahir dari Yoga;
tanpa Yoga, Kebijaksanaan hilang.
Mengetahui jalur ganda ini
meraih dan kehilangan Kebijaksanaan
seseorang harus mengendalikan dirinya
sehingga Kebijaksanaan dapat meningkat.
Buddha Dhammapada, Ayat 282
(Dikutip dari buku " Yoga Sutra Patanjali" oleh Anand Krishna) (*)