Denpasar (Atnews) - Pendiri LSM Forum Merah Putih Putu Suasta yang juga Ketua Gerakan Indonesia Garuda Bersatu sekaligus Penasihat LSM JARAK menuturkan pengalamannya ketika mengunjungi Malaysia dan Thailand seperti Batu Caves Temple Hindu dan komunitasnya di Malaysia beberapa waktu lalu.
Putu Suasta merasa bersyukur dapat berkesempatan melakukan meditasi (dharsan) kepada Dewa Murugan dan tukar pikiran dengan pengempon komunitasnya beberapa waktu lalu di Selangor Malaysia.
Dewa Murugan sebagai Dewa Hindu yang terkenal di kalangan bangsa Tamil di negara bagian Tamil Nadu di India, dan Sri Lanka. Dewa ini juga dikenal dengan berbagai nama, seperti Kartikeya, Kumara, Shanmukha, Skanda, hingga Subramaniam.
Digambarkan sebagai dewa berparas muda, bersenjata tombak dan mengendarai burung merak, Dewa Murugan ternyata merupakan dewa perang dan pelindung negeri dan bangsa Tamil.
Kedatangannya dalam rangkaian acara pertemuan NGO Leaders se-Asia atau pertemuan para Tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Internasional selama 9 hari di Kuala Lumpur dan Songkhla Thailand Selatan.
Kegiatan pertemuan pimpinan LSM itu dilaksanakan di Singapore, Malaysia dan Thailand. Putu Suasta adalah Alumni UGM dan Cornnel University New York, menjadi pembicara di Kampus Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas Songklha di Thailand Selatan, Universitas Thaksin dan Universitas Nasional Singapore.
Peserta LSM yang hadir adalah lintas negara yakni Kamboja, Laos, Malaysia, Singapore, India, Vietnam, Srilangka, China Taiwan, Philipina.dan Indonesia
Pertemuan itu dalam rangka memperkuat Gerakan Masyarakat Sipil di seluruh ASIA. Begitu juga menajamkan issue pluralisme dan keragaman global dalam era digitalisasi.
Melindungi hak-hak perempuan dan kekerasan terhadap perempuan. Sekaligus mengupayakan kepemimpinan dan meningkatkan kualitas tata kelola Lembaga LSM dan issue pemerintahan yang bersih, transparan dan terbuka.
Pertemuan bergengsi tersebut menjadi momentum pertemuan para pemimpin LSM tukar pikiran, tukar pengalaman dalam mengungkapkan kiprahnya dalam melaksanakan fungsi secara maksimal di masing-masing negaranya.
Dalam menjaga pluralisme dan keragaman global dalam era digitalisasi. Melindungi hak-hak perempuan dan kekerasan terhadap perempuan. Sekaligus mengupayakan kepemimpinan dan meningkatkan kualitas tata kelola Lembaga LSM.
Suasta menjelaskan, Batu Caves terletak di Distrik Gombak, Negara Bagian Selangor, sekitar 13 kilometer dari Kota Kuala Lumpur. Batu Caves merupakan tempat ibadah bagi umat Hindu diseluruh Malaysia dan Asia Selatan. Gua kapur ini telah terbentuk sejak sekitar 400 juta tahun lalu.
Berdiri hampir 100 m di atas tanah, kompleks Batu Caves terdiri dari tiga gua utama dan beberapa gua yang lebih kecil. Gua terbesar, disebut sebagai Gua Katedral atau Gua Kuil (Temple Caves), memiliki tinggi 100 m dan langit-langit berhiaskan ukiran elemen Hindu. Untuk mencapainya, pengunjung harus mendaki 272 anak tangga yang curam.
Di dasar bukit terdapat dua gua kuil, Gua Galeri Seni dan Museum Gua, baik yang berisikan patung-patung dan lukisan Hindu. Kompleks ini direnovasi dan dibuka sebagai Vila Gua (Cave Villa) pada tahun 2008. Banyak kuil yang terkait dengan kisah kemenangan Dewa Murugan atas iblis Soorapadam. Tur audio tersedia untuk pengunjung.
Gua Ramayana terletak di sebelah kiri ekstrem sebagai salah satu yang menghadap dinding bukit. Dalam perjalanan ke Gua Ramayana, terdapat patung Hanuman setinggi 50-kaki (15 m) dan sebuah kuil yang didedikasikan untuk Hanuman, ajudan Bhagavan Sri Rama. Upacara pentahbisan kuil tersebut diadakan pada bulan November 2001.
Gua Ramayana menggambarkan cerita Rama secara kronik sepanjang dinding gua yang tidak teratur.
Sebuah patung Dewa Murugan setinggi 42.7 meter (140 ft) diresmikan pada Januari 2006, membutuhkan waktu 3 tahun untuk membangunnya. Patung tersebut dilapisi emas merupakan patung Dewa Murugan tertinggi di dunia.
Nama Batu Caves tercetus begitu saja sesuai dengan nama sungai yang mengalir melalui bukit itu, yaitu Sungai Batu.
Pengakuan Suasta yang mendapatkan informasi dari penduduk setempat dan tour guide. Dikatakan, Batu Caves berfungsi sebagai titik fokus bagi festival tahunan Thaipusam (bahasa Tamil) bagi masyarakat Hindu.
Festival itu dilakukan pada bulan Thai, bulan kesepuluh dalam kalender Tamil, dan pada saat cahaya bulan bersinar penuh atau dalam kalender Masehi, peristiwa ini jatuh mulai Januari akhir sampai Februari awal.
Lokasi itu telah menjadi sebuah situs ziarah bagi umat Hindu tidak hanya di Malaysia, tetapi umat Hindu di seluruh dunia dari negara-negara seperti India, Australia dan Singapura.
Sedangkan di Temple Shri Raja Rajeshwari Amman Kovil, yang terletak di Desa Padang Cermin, Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat.
Temple tersebut memiliki keunikan yang tak dimiliki kuil lain di Sumut, karena terdapat patung Dewa Murugan yang sangat populer.
Patung itu berdiri kokoh di pelataran kuil. Megah dan berwarna emas, patung Dewa Murugan ini merupakan patung tertinggi kedua di dunia.
Bahkan meraih Rekor MURI Berdiri di provinsi dengan penduduk multikultural, patung dan kuil ini yang digunakan sebagai ruang umat Hindu bersembahyang juga melengkapi destinasi wisata religi yang telah ada sebelumnya, yaitu Mesjid Raya, Gereja Velangkani, dan Vihara di Taman Lumbini.
Selain itu, Suasta juga mengagumi wisata religi Batu Caves karena Kuil Batu Malai Sri Subramaniar dikelola oleh Dewan Pengelolaan Sri Maha Mariamman Temple Devasthanam, yang juga mengelola Kuil Sri Mahamariamman dan Kuil Kortumalai Pillaiyar.
Dewan tersebut juga berperan sebagai Konsultan Agama Hindu bagi Pemerintah Malaysia dalam menentukan kalender tahunan umat Hindu Malaysia.
Penaatannya bersih dan nyaman bagi umat Hindu dan wisatawan yang mengunjungi ke wisata religi tersebut.
Destinasi wisata Kompleks Batu Caves terdiri dari tiga gua utama dan beberapa gua kecil yang berada di ketinggian 100 meter dari permukaan tanah. Gua terbesar disebut Cathedral Cave atau Temple Cave yang memiliki langit-langit dengan tinggi sekitar 100 meter.
Batu kapur pembentuk Batu Caves dikatakan berumur sekitar 400 juta tahun. Beberapa pintu masuk gua digunakan sebagai tempat penampungan bagi masyarakat adat Temuan (sebuah suku Orang Asli).
Pada awal 1860, pemukim Tiongkok mulai menggali guano untuk pupuk sayuran mereka. Namun, mereka menjadi terkenal hanya setelah bukit-bukit kapur dicatat oleh pemerintah kolonial termasuk Daly dan Syers serta naturalis Amerika, William Hornaday pada tahun 1878.
Batu Caves dipromosikan sebagai tempat ibadah yang didirikan oleh K. Thamboosamy Pillai, seorang pedagang India. Ia terinspirasi oleh pintu masuk gua utama berbentuk "Vel" dan terinspirasi untuk mendedikasikan sebuah kuil untuk Dewa Murugan di gua tersebut.
Pada tahun 1890, Pillai, yang juga mendirikan Kuil Sri Mahamariamman, membangun murti (patung yang dikuduskan) dari Sri Subramania Swamy yang sekarang dikenal sebagai Gua Kuil (Temple Caves). Sejak 1892, festival Thaipusam di bulan Tamil, Thai (yang jatuh pada akhir Januari/awal Februari) telah dirayakan di sana.
Tangga kayu sampai ke Gua Kuil dibangun pada tahun 1920 dan telah digantikan oleh 272 anak tangga beton. Dari berbagai gua kuil yang berada di situs tersebut, gua yang terbesar dan paling terkenal adalah Temple Caves, dinamakan demikian karena menaungi beberapa kuil Hindu di bawah langit-langit berkubah.
Batu Caves pada awalnya adalah daerah hunian. Batu Caves kemudian berubah menjadi tempat peribadatan umat Hindu berkat jasa K. Thamboosamy Pillai, seorang tokoh terkenal di Malaysia dan pengusaha timah keturunan Tamil, India.
Pillai terinspirasi untuk mendedikasikan sebuah kuil di dalam gua kepada Tuhan Muruga. Oleh karena itu, Anda dapat menemukan Patung Dewa Murugan yang terdapat di bagian depan Kuil Batu Caves di Batu Caves. Dewa Murugan adalah putra bungsu Siwa dan istrinya, Parvati.
Tengak teman teman LSM di kuala Lumpur silih berganti ikut menjadi relawan dalam menjaga dan mengembangkan tata kelola tempat pemujaan umat Hindu sbg menjadi tujuan spiritualitas dan juga menjadi destinasi Pariwisata untuk kemakmuran Malaysia dan komunitas Hindu di Selangor Malaysia. (GAB/001)