Banner Bawah

Pitra dan Putra, Sebuah Renungan

Admin - atnews

2023-08-02
Bagikan :
Dokumentasi dari - Pitra dan Putra, Sebuah Renungan
Slider 1

Oleh I Ketut Suji
Pitra berarti leluhur, orang tua, bapak atau ibu, setiap orang emiliki bapak dan ibu, orang tua, leluhur. Kata "putra" berasal dari bahasa Sanskerta yang pada mulanya berarti kecil atau yang disayang. 

Kemudian kata ini dipakai menjelaskan mengapa pentingnya seorang anak lahir dalam keluarga Putra juga berarti keturunan, dia yang menyelamatkan atau menyebrangkan leluhurnya dari sengsara. 

Maka sang putra yang dilahirkan sekaligus dengan hutang pada orang tuanya (Pitra Rena) lalu melaksanakan upacara pitra yadnya (upacara korban kepada leluhur). Pitra yadnya adalah salah satu bagian dari panca yadnya (pancamaha yadnya).

Dalam kitab-kitab sastra agama senantiasa ditekankan pentingnya melaksanakan pitra puja, pemujaan kepada leluhur. 

Dalam itisasa Ramayana misalnya diuraikan bagaimana ketetapan hati seorang Dasarata: dia sebagai dan yang menjadi bapak dari wisnu yang menjelma pinaka bapa bhatara Wisnu mangjama untuk melaksanakan pitra puja. 

Seperti diuraikan dalam bait kakawin Ramayana bagian I.3 :
Guna manta sang dasarata, Weruh sira ring weda bakti ring dewa, Tan malupeng pitra puja, Masih ta sireng swagotra kabeh (Sangat bijaksana sang dasarata, Tahu beliau pada weda dan bakti kepada para dewa, Tidak pernah lupa memuja leluhur, Kasih beliau kepada semua keluarga)

Pada bait kekawin tersebut disebutkan tan malupeng pitra puja (tidak pernah lupa memuja leluhur) yang dilakukan oleh seorang raja agung yaitu sang Dasarata. 

Lebih lanjutdalam kekawin Ramayana ditemukan betapa baktinya seorang anak sebagai seorang puta yang suputra sang Rama kepada ayahnya sang Dasarata. 

Perintah sang dasarata (atas perintah Dewi Kakayi) Rama harus meninggalkan istana untuk memuluskan jalan sang Baratha naik tahta menjadi raja. 

Sang rama meninggalkan istana diantar oleh patih kerajaan yang kelihatan begitu sedih, dan rama mengatakan kepada mereka” jangan sedih karena saya pergi kehutan: karena itulah perintah ayah prabu bagaikan anugrah. 

Disini pengabdian seorang akan (putra) adalah melaksanakan perintah orang tua (prayojana nikang anak gumawayang pakon ikang bapa). Sang Rama juga sangat memahami bahwa beliau ayahnya sang dasarata yang menyebabkan ada dan tahu utara selatan oleh karena itu beliau tidak boleh ditentang (agong pangupakara sang prabu matangnya tan langgana). 

Lebih baik mati daripada menentang orang tua (lehong mati misan-misan sakarikang wihang ring bapa) sedangkan cerita Mahabarata, dimana diceritakan sang Arjuna pada saat akan memulai peperangan di medan Kurusetra masih menyempatkan memberikan pengormatan dan memohon anugrah kepada paman dan gurunya (Bisma, Drona dll) supaya berhasil memenangkan pertempuran. 

Demikianlah pelaksanaan dari penghayatan yang mendalam dari ajaran putra sesana yang ditunjukkan oleh sang Rama pada cerita itiasa Ramayana dan Arjuna pada Cerita itiasa  Mahabarata, ia benar-benar menyadari posisinya sebagai seorang anak (putra) ketika berhadapan pada sang ayah (pita). Apapun bentuk perintah sang ayah  bagi sang sara itu adalah anugrah walaupun mungkin tersasa menyakitkan dan sebagai putra tidak boleh langgana (berani menentang) orang tuanya. 

Sedangkan jaman sekarang ketika para Putra menentang orang tuanya, membohongi orang tuanya, itulah ciri jaman kehancuran akan datang (kali sanghara) seperti yang terdapat dalam kakawin Nitisastra : Singgih yan tekaning yuganta kali tan hana luwiha sakeng mahadana, tan wakta guna sura panditawidagda padha mangayapi  dhaneswara, sakewehing rinahasya sang wiku hilang kula ratu pada hina kasyasih, putra adwe pita nida ring bapa sisudra banija wara wirya pandita (Kalau tiba saat datannya jaman kali (kehancuran) tidak ada yang utama selain orang kaya, seketika itu dengan serta merta orang pandai, pahlawan, rohaniawan semuanya mengabdi pada orang-orang kaya, segala rahasia sang wiku menjadi hilang kerahasiannya, sementara itu para pemimpin menjadi hina miskin dan patut dikasihani, anak-anak mencela orang tuanya orang – orang yang semula menjadi budak tiba-tiba menjadi kaya lalu menjadi pandita)

Dari kutipan salah satu bait pada Nitisastra jelas menunjukan terjadinya pemerosotan yang luar biasa dan memasuki seluruh sendi kehidupan manusia khusnya yang berkaitan penghormatan kepada orang tua/pitra (putra adwe pita nida ring bapa).

Ajaran agama Hindu yang diterapkan di Bali untuk berbakti kepada sesama manusia termasuk orang tua dan orang-orang yang telah memberikan kehidupan dan pengetahuan sesuai dengan yang tersirat dalam kitab Manawadharma Sastra bab II, sloka 225, 226 sebagai berikut : Acaryacaa pitta saiwa mata, bhrata ca purwajah/ Nartenapya waman tawya, brhmanena wicesatah//. Acaryo brahmano murtih, pita murtih prajapatih/ Mata prativiya murtistu, bhrata swo murti atmanah//  (Guru, ayah, ibu dan kakak tiada boleh diperlakukan dengan tidak hormat, terutama bagi brahmana, walaupun hatinya disakiti oleh mereka. Guru adalah gambaran dari brahman, ayah adalah gambaran dari Prajapati, ibu adalah gambaran dari Pertiwi dan kakak adalah gambaran dari diri sendiri (Pudja dan Sudharta, 2002:124)).

Sloka di atas menunjukkan bahwa kewajiban seorang putra adalah untuk berbakti kepada guru, ayah, ibu dan saudara yang lebih tua. Lebih lanjut dijelaskan dalam kitab Manawadharmacastra bab II sloka 125 bahwa sang ayah adalah api grihapatya, sang ibu adalah api daksina, dan guru adalah api ahawanya; ketiga api inilah api yang paling mulia (2002:125). Seorang anak yang dapat memberikan rasa sujud baktinya sepada ketiga orang ini adalah sang suputra, anak yang utama.

Sebagai wujud bakti kepada sang pitra (orang tua) dilaksanakan upacara Pitra Yadnya sebagai salah satu bentuk pelayanan seorang putra kepada orang tua dan leluhur pitra. Tujuan utama dari upacara ini adalah menjadikan sang atma yang telah meninggalkan tubuh dan bersifat sudha tan sudha menjadi dewa pitara

Penyucian itu adalah melepaskan atma dari belenggu prakerti suksma sarira, maka itu sang dewa pitara terlebih dahulu di-prathista-kan pada daksina linggih dan selanjutnya di-linggih-kan dalam palinggih rong tiga. 

Dalam lontar Usana Bali, dewa pitara lanang di-linggih-kan pada rong tengen dan dewa itara istri di-linggih-kan pada rong kiwa. Dalam lontar tersebut juga dijelaskan bahwa ring tengen bapanta, ring kiwa ibunta, ring tengah raganta (Purwita, 1991:77).

Akan tetapi sebelum sang atma yang telah meninggalkan badan dapat di-linggih-kan di dalam palinggih rong tiga, haruslah melalui suatu proses panjang mulai dari sawa prateka sampai pada atma wedana. Upacara Sawa prateka meliputi nyiramang layon, kasetra, ngentas layon, ngurugin layon, ngeseng sawa, ngereka sawa, dan nganyut kasegara. Sementara itu, upacara atma wedana meliputi mamukur sampai dengan ngalinggihan Dewa Hyang.

Proses penyucian dari dapat saksikan di dalam pelaksanaan upacara Pengabenan sampai upacara Atma wedana (nyekah), dalam pelaksanaanya terjadi enam kali proses, yaitu:
Setelah meninggal sang Atma disebut Petra, 
Setelah di laksanakan samskara yang sering juga disebut dengan Pengaskaran, dan upacara pengabenan sang Atma disebut 
Pitra,
Setelah mendak nuntun di segara dan munggah don bingin sang Atma disebut Pitara,  
Setelah mapurwa daksina dan munggah di payadnyan sang Atma di sebut Dewa Pitara,
Setelah mendak nuntun dan Nyegara Gunung, Meajarajar sang Atma di sebut Dewata-dewati, 
Dan terakhir di sthanakan di mrajan sang Atma di sebut Dewa Hyang.
Bagi orang Bali bahwa sang pitara (begitu orang Bali menyebut leluhurnya atau orang yang sudah meninggal) yang tinggal di dunia-leluhur masih berpartisipasi dalam dunia-kehidupannya ( Sukarma, 2007: 6). Kepada sang pitara, orang Bali biasanya menyampaikan bermacam-macam perasaan yang kini sedang dialaminya dalam dunia-kehidupan di sini-sekarang.  Orang Bali berdoa dan menyampaikan permohonan kepada leluhurnya untuk mendapatkan tuntunan, perlindungan, dan kekuatan. Permohonan ini untuk menguatkan tekad dan semangat menjalani dan menikmati kehidupan. Harapannya, agar memiliki kekuatan untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan.

Pentingnya putra bagi pitra sebagai acuan dapat diambil dari cerita Jaratkaru adalah seorang brahmana yang sakti luarbiasa, tidak bergaul dengan wanita, karena kesaktiannya hasil dari tapanya dan mantranya dia (jaratkaru) dapat pergi kesaja, berjalan diatas air, perjalanan beliau semakin jauh dan sampailah di suatu tempat (ayatanasthana)  suatu tempat yang mengantarai surga dan neraka, tempat arwah (roh) menunggu untuk mendapatkan sorga atau neraka. Di tempat itu jaratkaru betemu dengan roh seseorang yang digantung di atas bambu dengan posisi sungsa (terbalik) dan dibawahnya terdapat jurang yang menuju ke alam neraka. Dilobang bambu tersebut terdapat tikus setiap hari menggigit batang bambu tersebut, hal itu dilihat oleh jaratkaru dan timbullah rasa kasihan dalam hati jaratkaru dampai tidak terasa beliau meneteskan air mata.

Selanjutnya singkat cerita disana terjadi diskusi antara jaratkaru dengan sang roh. Sang roh yang sangat menderita keadaanya setelah tahu beliau itu adalah orang tuanya. 

Untuk menghindari penderiataan roh orang tuanya digantung di pohon bambu adalah dengan terlahir kembali menjadi manusia melalui anaknya (jaratkaru) sehingga berjanjilah jaratkaru untuk menikah namun apabila ditemukan wanita yang namanya sama dengan dirinya. Akhir cerita ditemukanlah wanita yang dimaksud dan lahirlah anak arwah orangtuanya. 

Dari kutipan cerita tersebut di atas bahwa seorang pitra (roh) leluruh yang ada di sorga atau neraka yang tidak dapat bersatu dengan Hyang Widhi akan terus menjelma sebagai manusia atau mahluk lainnya sesuai dengan amal perbuatannya (karmaphala) semasa hidupnya didunia  melalui seorang anak (putra) karena putra yang suputra dalam Kitab Manawa Dharmasastra IX.138 disebutkan “Oleh karena seorang anak yang akan menyeberangkan orang tuanya dari neraka yang disebut Put (neraka lantaran tak memiliki keturunan), karena itu ia disebut putra.

Jadi untuk melanjutkan kelahiran arwah (atma) yang masih ada di neraka atau sorga maka diperlukan seorang putra, untuk melaksanakan lingkaran ajaran panca sradha lima keyakinan umat hindu yaitu percaya akan adanya brahman, atma, karmapala, punarbawa dan untuk mencapai moksa sebagai tujuan akhir agama hindu. 

Demikian
Rahayu 


*) I Ketut Suji, Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementrian Agama Kab Karangasem

Baca Artikel Menarik Lainnya : Masyarakat  Bali Tidak Menikmati Layanan Internet Smartfren Saat Nyepi

Terpopuler

Perpustakaan Mahima Dibuka, Wabup Supriatna : Berharap Dapat Meningkatkan Literasi Generasi Muda Buleleng

Perpustakaan Mahima Dibuka, Wabup Supriatna : Berharap Dapat Meningkatkan Literasi Generasi Muda Buleleng

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Dugaan Kekerasan Terhadap Anak, Pengelola Panti Asuhan di Desa Jagaraga, Buleleng, Bali Ditahan Polisi

Dugaan Kekerasan Terhadap Anak, Pengelola Panti Asuhan di Desa Jagaraga, Buleleng, Bali Ditahan Polisi

Anggota DPR RI Ketut Kariyasa Adnyana Dorong Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti di Buleleng Diusut Tuntas

Anggota DPR RI Ketut Kariyasa Adnyana Dorong Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti di Buleleng Diusut Tuntas