Denpasar (Atnews) - Ekonom yang juga Pengamat Ekonomi Politik Jro Gde Sudibya mengatakan, kelangkaan LPG gas 3 Kg sebagai puncak gunung es.
Menurutnya, monopoli negara melalui Persero Pertamina, tampaknya tidak diimbangi dengan pengawasan DPR dari komisi yang membidangi energi.
Politisasi yang terlalu dalam bagi BUMN, sehingga dipersepsikan publik, telah terjadi prinsip meritokrasi telah dikorbankan dalam pemilihan pucuk pimpinan di sejumlah BUMN, sehingga tingkat kinerjanya tidak bisa optimal.
Sejumlah BUMN diduga dijadikan "sapi perah" cash cow oleh sejumlah elite penguasa yang tidak bertanggung jawab, yang membuat ruang gerak kebijakan Direksi BUMN secara profesional menjadi terbatas, proyek menjadi lebih mahal dan sejumlah biaya operasional menaik.
Kasus yang mirip terjadi terhadap kelangkaan minyak goreng merk tertentu yang hilang dari pasar, akibat pasar oligopoli yang dikuasai konglomerasi produsen sawit besar. Kekuatan oligopolist ini mendikte pasar, kesannya kekuatan negara kalah kuat terhadap dominasi oligopolist ini, dan atau ada kerja sama negatif dengan pemegang otoritas perizinan.
Akibatnya masyarakat konsumen dikorbankan, dalam kasus LPG 3 kg dan minyak goreng.
Sementara itu, Budayawan Putu Suasta juga menyayangkan menjelang Hari Raya Galungan, gas elpiji 3 kilogram di pasaran Kota Denpasar kembali langka.
Padahal, kebutuhan gas 3 kg di Denpasar baru terjadi sebulan lalu karena kendala libur panjang. "Masalah mesti diselesaikan oleh Pemerintah. Memangnya Pemerintah ada dimana?," tanya Suasta yang juga Alumni UGM dan Cornell University kepada Atnews di Denpasar, Senin (31/7).
Oleh karena sejumlah warung sudah kesulitan mendapatkan gas untuk dijual kepada masyarakat. Hal itu tengah ramai diperbicangkan oleh masyarakat hingga masyarakat.
Bahkan pihaknya terima informasi, sejumlah warga yang terpaksa harus mencari di pangkalan, juga kembali dengan tangan kosong karena stok kosong.
"Selamat hari raya Galungan dan Kuningan semoga kita semua menjadi manusia yang lebih baik untuk hari esok yang penuh harapan," ujar Suasta yang Pendiri LSM Forum Merah Putih, Penasehat LSM JARRAK yang juga Ketua Gerakan Indonesia Bersatu.
Pemerintah Provinsi Bali melakukan koordinasi intens dengan Pertamina Patra Niaga Bali dan Hiswana Migas Bali terkait ketersediaan stok LPG 3 kg jelang Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali yang jatuh pada tanggal 2 dan 12 Agustus 2023. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali Ida Bagus Setiawan dalam keterangan persnya di Denpasar, Senin (31/07).
“Pertamina Patra Niaga Bali telah memberikan tambahan sebanyak lebih dari 360 ribu tabung LPG 3 kg sejak tanggal 27 sampai dengan 31 Juli 2023, dan awal Agustus akan menyalurkan lebih banyak tabung dari kondisi normal. Harapannya adalah masyarakat tidak panic buying dengan membeli LPG 3 kg secara berlebihan, sehingga ketersediaan LPG terjamin di masyarakat,” kata Setiawan
Ia menambahkan, Hiswana Migas Bali menjamin distribusi LPG 3 kg dari Pertamina ke Agen dan dari Agen ke Pangkalan berjalan dengan normal sehingga masyarakat dapat mengakses atau membeli di Pangkalan sesuai dengan ketentuan.
“Kami juga menghimbau dan mengingatkan kepada masyarakat luas bahwa LPG 3 kg merupakan barang bersubsidi yang diperuntukkan bagi Rumah Tangga Sasaran,” ujarnya. Oleh karena itu Ia berharap tidak ada pihak-pihak yang tidak berhak justru menggunakan LPG 3 kg sehingga menimbulkan kelangkaan di lapangan. (gab/IBM/001)