Denpasar (Atnews) - Pasemetonan Mahasisya Hindu Dharma Universitas Warmadewa (PMHD Unwar) menyelenggarakan Diklat Sapta Bayu XVIII di Gedung PHDI Provinsi Bali, Minggu (15/10).
Diklat Sapta Bayu XVII ini mengusung tema “Nayaka Praja Singha" yang berarti Pemimpin Muda Bagaikan Singa.
Adapun narasumber pada acara ini yaitu Ketua Yayasan Kesejahteraan KORPRI Propinsi Bali Prof. Dr. Drs. Anak Agung Gede Oka Wisnumurti, M.Si dengan materi Kepemimpinan Sapta Bayu, Anggota DPD RI Dapil Bali Komjen Pol (Purn) Dr. Made Mangku Pastika, MM dengan materi Membangun Wawasan Kebangsaan Untuk Menciptakan Insan Yang Humanis, Ketua PHDI Provinsi Bali I Nyoman Kenak, SH., dengan materi Membangun Wawasan Kebangsaan Untuk Menciptakan Insan Muda Hindu Yang Humanis.
Ketua Yayasan Kesejahteraan Korpri Propinsi Bali Prof. Dr. Drs. A.A. Gede Oka Wisnumurti, M.Si., mengapresiasi kepada PMHD Unwar karena telah mampu melaksanakan diklat secara rutin dan hari ini merupakan diklat yang ke XVIII.
“Diklat ini adalah bagian dari transformasi nilai-nilai kewarmadewaan yaitu Sapta Bayu sebagai spirit yang harus dihadirkan dalam setiap aktifitas baik di kampus maupun diluar kampus. Sapta Bayu merupakan faktor pembeda Unwar dengan kampus lain,” ujarnya.
Kata Wisnumurti, Warmadewa mempunyai nilai dan filosofi yang digali dari Raja Bali pertama yang kemudian dirumuskan menjadi 7 kekuatan yang harus dihadirkan di dalam kehidupan kita. Oleh karena itu ia berharap para peserta dapat mengikuti dan memanfaatkan diklat ini dengan baik.
Dalam paparannya, Ketua PHDI Provinsi Bali mengapresiasi gelaran ini dalam rangka meningkatkan kecerdasan generasi muda. Dalam kesempatan itu, Kenak juga menyinggung tentang nilai-nilai kepemimpinan berdasarkan Hindu Bali.
Selain Astabrata, dirinya juga menjabarkan tentang Panca Naya Sandhi, yakni lima karakter yang wajib dimiliki pemimpin. Bagian-bagian Panca Upaya Sandhi meliputi Maya, yakni seorang pemimpin hendaknya memiliki dan melakukan upaya dalam pengumpulan data atau permasalahan yang belum jelas kedudukan dan profesinya, sehingga dapat dilakukan penataan lebih lanjut untuk mencapai kesempurnaan.
Upeksa, seorang pemimpin hendaknya memiliki upaya dan kemampuan untuk meneliti dan menganalisis semua data dan informasi yang ada, sehingga semua permasalahan yang dihadapi itu dapat diletakkan pada proporsinya.
Indrajala, seorang pemimpin hendaknya memiliki upaya dan kemampuan untuk mencarikan jalan keluar setiap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat yang dipimpinnya.
Wikrama seorang pemimpin hendaknya memiliki upaya dan kemampuan untuk melaksanakan semua rencana dan rumusan yang telah diprogramkan sebelumnya.
Logika, seorang pemimpin dalam melaksanakan semua tindakannya, hendaknya selalu didahului dengan pertimbangan nalar yang sehat dan dapat diterima oleh masyarakat. Keputusan yang diambil harus masuk akal dan logis tanpa emosi.
“Panca Upaya Sandhi merupakan salah satu ajaran yang menekankan pada upaya seorang pemimpin dalam menyelesaikan persoalan lembaga atau kelompok yang dipimpin,” ujar Kenak.
Dalam kesempatan itu juga hadir narasumber lainnya meliputi Akademisi Unwar (Pembina PMHD Universitas Warmadewa) Dr. Anak Agung Gde Krisna Paramita, S.Pd., M.Pd dengan materi Karakter Manusia Hindu, Dr. Ir. I Gusti Bagus Udayana, M.Si dengan materi Perbaikan Lingkungan Hidup Dengan Konsep Ekonomi Hijau Berbasis Milenial, Prof. Dr. I Made Suwitra, MH dengan materi Hukum Adat, Drs. I Dewa Putu Sumantra,M.Si dengan materi Kepemimpinan Ala Hindu atau Asta Brata, dan Prof. Dr. Ir. I Wayan Runa, M.T., dengan materi Merumuskan Spirit, Simbol, Pohon, Tari Keagungan, & Buku Sri Kesari.
Sementara itu, Anggota DPD RI Dapil Bali Dr. Made Mangku Pastika,M.M. mengapresiasi Diklat Sapta Bayu XVIII PMHD Unwar yang mengangkat tema “Nayaka Praja Singha” -Pemimpin Muda bagaikan Singa.
“Tema jadi singa ini sangat bagus, tapi harus hati-hati jadi singa. Kalau jadi singa jangan mau makan rumput. Artinya jangan melacurkan diri demi sesuap nasi. Jadi ada konsekwensinya, bukan hanya sekadar slogan,” tegas Mangku Pastika.
Mangku Pastika mengingatkan singa adalah raja rimba. Karena itu menjadi singa harus memiliki karakter jujur, tegas, berani dan bertanggung jawab. Ibaratnya, “Dari pada jadi kambing setahun lebih baik jadi macan sehari, lebih berharga”.
“Jadi kalau kita tidak punya disiplin apalagi dalam sebuah kelompok, maka akan jadi gerombolan yang tak ada harganya,” tegas mantan Gubernur Bali dua periode ini.
Di awal pengantarnya, Mangku Pastika mengaku terkesan dengan kampus ini karena mengambil nama Warmadewa. Sri Kesari Warmadewa adalah pendiri Dinasti Warmadewa yang menguasai Bali sejak akhir abad ke-9. Warmadewa adalah yang membawa agama Hindu ke Nusantara.
Karena itu diharapkan mahasiswa menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh agar berguna, bisa seperti Warmadewa. “Laksanakan dan amalkan Sapta Bayu dan Pancasila dengan baik dan benar. Kita mewarisi Hindu yang luar biasa. Nilai-nilai dalam agama Hindu itu fleksibel, universal, ilmiah dan tidak dogma,” ujar Mangku Pastika yang juga Presiden Organisasi Hindu Internasional ‘World Hindu Parisad’.
Diingatkan pula pentingnya bisa bersatu, "menyama braya". Pahami ajaran agama Hindu dengan baik dan benar. Jangan acuh tak acuh. Kalau sudah melaksanakan Hindu maka akan jadi humanis dan bisa bersatu.
Sapta Bayu merupakan tujuh tenaga atau daya hidup yang menjadi panduan dalam berbagai aspek kehidupan. Spirit Sapta Bayu ini digali dari spirit Raja Bali Sri Kesari Warmadewa. (GAB/001)