Tabanan (Atnews) - Putra daerah Bali Doktor Nyoman Tjager Presiden Komisaris PT Maybank Sekuritas Indonesia, membuka Restoran Manca Kemetug di kampung halamannya Desa Kemetug, Selemadeg Timur, Tabanan, Rabu (27/12).
Restoran Manca Kemetug letaknya yang strategis di areal perkebunan dan sawah. Di Lereng Gunung Batukaru, Pemandangan Pulau Bali bisa dilihat dari restoran tersebut baik Gunung Batukaru, Lembah, Laut, Sawah, Kebun maupun Garuda Wisnu Kencana (GWK).
Nyoman Tjager membuka restoran itu untuk menjadi daya ungkit dan etalase baru dalam membangkitkan ekonomi desa yang masih alami, khas nuansa alam Bali.
Disamping pembangunan ekonomi desa yang mensejahterakan tetapi mampu menjaga pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.
Restoran Manca Kemetug menyajikan kuliner spesial yang membuat ketagihan, bahkan menggunakan hasil panen petani setempat.
Diharapkan Restoran Manca Kemetug menjadi pilihan kunjungan wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara, khususnya Semeton Bali.
Sepanjang perjalanan, pengunjung bisa menikmati pemandangan sawah yang indah dengan terasering tertaga rapi.
Nyoman Tjager berharap bisa ikut membangun Bali dari desa setelah lama bekerja di Jakarta, bahkan pernah menjabat sebagai Dirjen Pembinaan BUMN maupun Komisaris Utama PT Bursa Efek Indonesia (Komut BEI).
Sebelumnya memulai karir di Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) pada tahun 1979-1999. Pada tahun 1999, menjabat beberapa posisi penting di pemerintahan hingga 2005.
Selain menjabat dalam pemerintahan, beliau juga menjabat sebagai Komisaris di beberapa perusahaan selama tahun 1993-2014, yaitu antara lain di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia, PT Pupuk Kalimantan Timur Tbk. (Persero), PT Bank Lippo Tbk., PT Bursa Efek Indonesia, PT Ancora Indonesia Resources Tbk., dan Komite GCG, Nominasi & Remunerasi AJB Bumiputera 1912.
Sejak tahun 2001 hingga saat ini masih aktif menjabat di beberapa perusahaan, seperti PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk., PT Bank Nationalnobu Tbk., PT Sorini Agro Asia Corporindo Tbk., PT Hanson International Tbk., PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk., dan PT Home Credit Indonesia.
Sejak November 2016 hingga saat ini Nyoman Tjager juga menjabat sebagai Staf Ahli Bidang Perencanaan Komisi Pengawas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).
Tjager telah menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1976), kemudian memperoleh Master of Economic di Fordham University New York – USA (1987) dan menyelesaikan Program Doktor Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada tahun 2003.
Pada kesempatan itu, Nyoman Tjager mengundang kerabatnya dari berbagai daerah untuk menikmati kuliner Restoran Manca Kemetug yang baru saja dibuka. Mereka juga dimintai saran dan masukkan untuk pengembangan yang lebih baik agar semakin nyaman terima masyarakat.
Acara itu dihadiri Anggota DPR RI Gde Sumarjaya Linggih yang dikenal Demer, Pj Bupati KlungkungI Nyoman Jendrika yang juga Mantan Inspektur Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Penguasaha Girisha Wahana Erlangga Mantik yang juga Mantan Kepala Kantor Wilayah IV Ditjen Bea dan Cukai Tipe A Jakarta, Budayawan Putu Suasta Alumni UGM dan Cornell University dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Udayana (Unud), Prof. Dr. I Wayan Ramantha.
Demer mengagumi Restoran Manca Kemetug yang cocok untuk semua kalangan, khususnya mengajak keluarga bersantai.
Pemandangan yang indah, justru mimbulkan inspirasi untuk membangun hal serupa di kampung halammnya di Buleleng.
"Setengah Pulau Bali bisa dilihat dari sini (Manca Kemetug-red)," kata Demer.
Bahkan kehadiran Restoran Manca Kemetug menunjukkan setiap daerah punya keunikan tersendiri. Maka dari itu, pemerintah bisa menyiapkan infrastruktur yang memadai dan sumber daya manusia (SDM) yang handal.
Untuk itu, Bandara Bali Utara menjadi kebutuhan masyarakat dalam melengkapi Bandara I Gusti Ngurah Rai.
Infrastruktur tersebut yang akan memberikan multiplier effect kepada daerah Buleleng, Bangli, Jembrana dan Karangasem.
Hal senada juga diungkapkan Prof Ramantha. Upaya itu sebagai alternatif bagi wisatawan yang ingin mendapatkan suasana baru.
"View yang bagus, ada yang khas disini. Adanya SDM dan menggunakan bahan makanan lokal," ungkapnya.
Diharapkan restoran itu menyajikan produk khas lokal yang sudah dikenal masyarakat yakni Gula Aren.
Selain itu, daerah itu juga memiliki hasil kebun durian, manggis, beras maupun kelapa.
"Disini lengkap, masih alami banget (virgin)," ujarnya.
Untuk itu, selanjutnya bisa dikemas menjadi desa wisata yang menarik. Apalagi bisa mengolah kulit manggis menjadi teh, begitu juga kelapa menjadi minyak VCO.
Upaya itu dalam mewujudkan Community Based Tourism (CBT), konsep pariwisata yang berbasis masyarakat, dalam CBT masyarakat di berdayakan untuk mengelola objek wisatanya sendiri.
Sementara itu, Budawayan Putu Suasta juga mengaku merasa terkesan. Datang ke tempat tersebut, perasaan menjadi tenang. "Cicilan pun serasa lunas," ujarnya.
Bahkan makanannya pun enak nendang, lidah menari nari, Makanan belum masuk , namun rasa enaknya serasa sudah sampai ke tulang sumsum.
Dirinya pun merasa nyaman,damai dan lepas, karena hanyut terbawa dengan suasana hangat dan bersaja. "Saya merasa ingin lama-lama disini," ungkapnya.
Pemandangannya pun mirip berada di lereng gunung Himalaya . Bahkan ketenangan mirip daerah Haridwar dan Rishikesh, India (Bharat).
Sedangkan Erlangga Mantik mengucapkan terima kasih sudah diundang ke restoran baru tersebut.
Tempatnya indah, bisa makan sambil menikmati setengah Pulau Bali. Ke depan diharapkan ada destinasi wisata baru di daerah tersebut, sehingga wisatawan semakin ramai, setelah itu singgah ke restoran menikmati makan siang atau malam.(GAB/ART/001)