Mahābhārata dan Ramayana sebagai Spiritualitas Pembebasan

Admin - atnews

2024-01-09
Bagikan :
Dokumentasi dari - Mahābhārata dan Ramayana sebagai Spiritualitas Pembebasan

Jakarta (Atnews) - Budayawan Putu Suasta mengungkap kepopuleran Itihāsa Mahābhārata dan Ramayana yang memiliki pengaruh kepada kehidupan masyarakat.

Itihāsa bagian dari kitab suci Veda yang berarti “kejadian yang nyata”. Cerita dalam kitab Itihāsa tersebar di seluruh daratan India sampai ke wilayah Asia Tenggara.

Pada zaman kerajaan di Indonesia (Nusantara), kedua kitab Itihāsa diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa kuno, bahkan diadaptasi sesuai dengan kebudayaan lokal. 

Termasuk Cerita dalam kitab Itihāsa diangkat menjadi pertunjukkan wayang dan digubah menjadi kakawin.

Selain itu, Mahābhārata dan Ramayana berkembang dan memberikan inspirasi bagi berbagai bentuk budaya dan seni pengungkapan, terutama di Jawa dan Bali, mulai dari seni patung dan seni ukir (relief) pada candi-candi, seni tari, seni lukis hingga seni pertunjukan seperti wayang kulit dan wayang orang. 

Belakangan, siaran televisi di Indonesia dan termasuk di Bali sudah pernah menayangkan film-film Mahābhārata dan Ramayana.

Dalam dunia sastra popular Indonesia, kisah Mahābhārata juga disajikan melalui bentuk komik sehingga makin dikenal kalangan awam. Salah satunya terkenal yakni karya dari R.A. Kosasih.

Kitab Mahābhārata merupakan karya Maharsi Vyasa Krisna Dwipayana atau Begavan Byasa. Maharsi Vyasa, putra dari Matsyakanya Dewi Satyavati dengan Maharesi Parasara, yang dilahirkan di sebuah pulau kecil "Krsna Dvipa" di tengah Sungai Suci Yamuna. 

Keagungan Maharsi Vyasa yang maha terpelajar, menguasai seluruh ajaran Veda tidak terbantahkan, bahkan disebut dalam Sarasamuccaya, Bhumika 1.

Kisah itu semula ditulis dalam bahasa Sanskerta ini kemudian disalin dalam berbagai bahasa, terutama mengikuti perkembangan peradaban Hindu pada masa lampau di Asia, termasuk di Asia Tenggara yakni Indonesia.

Menariknha lagi, Kitab Mahabharata juga diakui sebagai salah satu kisah terpanjang di dunia yang memiliki lebih dari 100.000 sloka, sekitar 1,8 juta kata. Bahkan panjangnya diperkirakan empat kali lebih panjang daripada Kitab Ramayana.

Di Indonesia, salinan berbagai bagian dari Mahabharata, seperti Adiparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa dan mungkin juga beberapa parwa yang lain, diketahui telah digubah dalam bentuk prosa bahasa Kawi (Jawa Kuno) semenjak akhir abad ke-10 Masehi pada masa pemerintahan raja Dharmawangsa Teguh (991-1016 M) dari Kadiri. Karena sifatnya itu, bentuk prosa ini dikenal juga sebagai sastra parwa.

Yang terlebih populer dalam masa-masa kemudian adalah penggubahan cerita itu dalam bentuk kakawin, yakni puisi lawas dengan metrum India berbahasa Jawa Kuno. 

Salah satu yang terkenal yakni kakawin Arjunawiwaha (Arjunawiwāha, perkawinan Arjuna) gubahan Mpu Kanwa. 

Karya yang diduga ditulis antara 1028-1035 M ini (Zoetmulder, 1984) dipersembahkan untuk raja Airlangga dari kerajaan Medang Kamulan, menantu raja Dharmawangsa. 

Karya sastra lain yang juga terkenal adalah Kakawin Bharatayuddha, yang digubah oleh mpu Sedah dan belakangan diselesaikan oleh mpu Panuluh (Panaluh). Kakawin ini dipersembahkan bagi Prabu Jayabhaya (1135-1157 M), ditulis pada sekitar akhir masa pemerintahan raja Daha (Kediri) tersebut. 

Di luar itu, mpu Panuluh juga menulis kakawin Hariwangśa pada masa Jayabaya, dan diperkirakan pula menggubah Gaţotkacāśraya pada masa raja Kertajaya (1194-1222 M) dari Kediri.

Beberapa kakawin lain turunan Mahabharata yang juga penting untuk disebut, di antaranya adalah Kŗşņāyana (Marya .pu Triguna) dan Bhomāntaka (pengarang tak dikenal) keduanya dari zaman kerajaan Kediri, dan Pārthayajña (Mpu Tanakung) di akhir zaman Majapahit. 

Salinan naskah-naskah kuno yang tertulis dalam lembar-lembar daun lontar tersebut juga diketahui tersimpan di Bali.

Di samping itu, mahakarya sastra tersebut juga berkembang dan memberikan.

Dalam masa yang lebih belakangan, kitab Bharatayuddha telah disalin pula oleh pujangga kraton Surakarta Yasadipura ke dalam bahasa Jawa modern pada sekitar abad ke-18. Termasuk dalam sastra popular Indonesia, cerita Mahabharata juga disajikan melalui bentuk komik, salah satu terkenal yakni karya dari R.A. Kosasih.

Sementara itu, Kitab Ramayana disusun oleh Rsi Walmiki terdiri dari 24.000 sloka dan memiliki tujuh bagian yang disebut Sapta Kanda.  

Ramayana terdapat pula dalam sastra Jawa dalam bentuk kakawin Ramayana, termasuk dalam bahasa Melayu didapati pula Hikayat Seri Rama yang isinya berbeda dengan kakawin Ramayana dalam bahasa Jawa dan Bali kuno, yaitu wayang dan sendra tari.

Beberapa babak maupun adegan dalam Ramayana dituangkan ke dalam bentuk lukisan maupun pahatan dalam arsitektur bernuansa Hindu. Wiracarita Ramayana juga diangkat ke dalam budaya pewayangan di Nusantara, seperti misalnya di Jawa dan Bali. 

Selain itu di beberapa negara (seperti misalnya Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, Philipina, dan lain-lain), kisah Ramayana diangkat sebagai pertunjukan kesenian.

Diperkirakan pada zaman kerajaan Mataram kuno abad ke-9. Bahasa dalam kakawin Rāmâyaṇa, terdapat pula relief candi, dan cerita drama.

Dalam Relief Candi Prambanan menampilkan Sita tengah diculik Raja Rahwana yang menunggangi pesawat raksasa bersayap, sementara Jatayu di sebelah kiri atas mencoba menolong Sinta

Hal itu pula yang memberikan inspirasi Presiden Soekarno yang terpesona oleh Ramayana. Terutama dengan salah satu tokohnya, Jatayu, putra Aruna dan keponakan Garuda. 

Sukarno mengagung-agungkan sosok berwujud burung garuda itu. Maka atas inspirasi Soekarno, perusahaan penerbangan pertama Indonesia diberi nama Garuda. Termasuk lambang burung Garuda bahkan sudah menjadi kebanggaan tersendiri buat masyarakat Indonesia. 

"Banyak sekali peninggalan - peninggalan dari Kisah Mahābhārata dan Ramayana di Indonesia, apalagi Bali yang menjadi warisan budaya yang memiliki inspirasi dan pedoman serta nilai-nilai inspirasi," kata Suasta yang juga Alumni UGM dan Cornell University bertepatan pada Hari Siwalatri di Jakarta, Selasa (9/1).

Ketika mengunjungi Ibukota Indonesia, Jakarta, masyarakat tidak asing lagi dengan Patung Arjuna Wiwaha dari kisah  Mahābhārata yang dikenal dengan patung kuda, dimana kereta Arjuna dengan delapan kuda yanb dikusiri Sri Krsna. Letaknya tepatnya di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Patung itu dibangun sekitar tahun 1987, seusai lawatan kenegaraan Presiden Soeharto ke Turki. 

Sedangkan, Candi Prambanan juga terdapat relief yang menceritakan  Ramayana dan Krishnayana. Begitu juga relief Ramayana pada Candi Penataran yang terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Disamping itu, bila mengunjungi ke Pulau Dewata, pengunjung akan menemukan banyak sekali patung megah yang diambil dari Mahābhārata dan Ramayana.

Disebut, Bali akan dijumpai Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang sudah dikenal dunia memiliki tinggi 121 meter dan lebar 60 meter. Patung itu diresmikan Presiden Jokowi terletak di Jl. Raya Uluwatu, Ungasan, Kec. Kuta Sel., Kabupaten Badung, Bali, karya dari seniman kenamaan Bali, I Nyoman Nuarta. Bahkan tempat itu sebagai salah satu tempat perhelatan KTT G20 2022.

Ada pula, Patung Satria Gatot Kaca karya seniman bernama I Wayan Winten terletak di di sekitar Bandar Udara Ngurah Rai, Bali, dibangun pada tahun 1993. Patung Nakula Sahadewa di Jalan Uluwatu II, Badung, Jimbaran. Termasuk Patung Dewa Ruci di bangun tahun 1996 di Simpang Siur, Kuta, Bali.

Ditemukan pula, Patung Khrisna Arjuna terletak di area wisata Water Blow. Patung Kumbakarna Laga Jl. Kebun Raya Eka Karya, Candikuning, Kec. Baturiti,  Tabanan Bali. Taman Rama Shinta, Jl. Raya Denpasar - Gilimanuk, Patung Sri Rama dan Hanoman di Jl. Raya Sempidi.

Selain itu, Patung Titi Banda yang menampilkan Sri Rama di Bypass Ngurah Rai, Kesiman Kertalangu, Denpasar Bali. Patung Catur Muka yang karya seniman I Gusti Nyoman Lempad, dijadikan salah satu Landmark Kota Denpasar. 

Kepopuleran kisah tersebut banyak juga menjadi nama usaha, nama orang maupun nama-nama jalan raya.

Suasta pun telah mengunjungi Kamboja di Candi Angkor Wat yang meruoakan Candi Hindu seluas 100 km persegi, candi terbesar di planet bumi yang di bangun 1000 tahun.

Relief Mahābhārata dan Ramayana dipahat di dinding baru yang rumit dan canggih sepanjang  200 meter semua kisah dan pesan moralnya sudah menjadi pelajaran moral selama 1000 th di seluruh kerajaan Asia, bahkan sampai kini. 

Sebelumnnya, pihaknya sudah mengunjungi secara khusus tempat suci Jyotisar, Kurukshetra di negara bagian Haryana, India Utara. 

Komplek Kurukshetra yang sangat luas yang dikelilingi danau dikenal sebagai tempat berlangsungnya perang besar antara Korawa dan Pandawa dalam sejarah perjalanan Mahabratha. 

Kurukshetra disebut juga dharmakshetra, terletak di Hastinapura di Utara Kota New Delhi yang modern dewasa ini. Tempat ini di masa yang silam sebagai tempat suci karena sering dipergunakan oleh para Resi, Kshatrya untuk bertapa, bahkan kabarnya juga oleh para dewa-dewa.

Perang berlangsung selama 18 hari, pertempuran dimenangkan para Pandawa. Serta Kurukshetra tempat Sri Krsna mewahyukan Bhagavad Gita kepada Arjuna di tengah-tengah medan perang. 

Para pengunjung bisa melihatnya Jyotisar, tempat dimana Sri Krsna mewahyukan Bhagavad Gita kepada Arjuna. peristiwa itu terjadi lebih dari 5000 tahun yang lalu.

Tempat ziarah yang bisa ditemui Kurukshetra  yakni Brahma Sarovar biasa untuk perayaan "Somavati Amavasya" (gerhana matahari yang dianggap suci), Sannihit Sarovar, Museum Krsna (memiliki beberapa artifak bersejarah, dan lukisan tentang perang dalam Mahabharata), Museum Sains, Bhishma Kund di Naraktari (sebuah tempat di mana Arjuna memanah bumi agar memancarkan air untuk menghapus dahaga Bisma), Hutan Suaka Saraswati. (GAB/ART/001)
           

Baca Artikel Menarik Lainnya : FISIP Unwar: Lawan Hoaks Politik “Saring Sebelum Sharing”

Terpopuler

Mahābhārata dan Ramayana sebagai Spiritualitas Pembebasan

Mahābhārata dan Ramayana sebagai Spiritualitas Pembebasan

Pardana Menteri Bharat Narendra Modi tiba di Indonesia

Pardana Menteri Bharat Narendra Modi tiba di Indonesia

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

Mendagri Tito Lantik Sang Made Mahendra Jaya sebagai Penjabat Gubernur Bali

Mendagri Tito Lantik Sang Made Mahendra Jaya sebagai Penjabat Gubernur Bali

Presiden Jokowi di Hadapan Warga Bali: Sambut Pesta Demokrasi dengan Cara Beradab

Presiden Jokowi di Hadapan Warga Bali: Sambut Pesta Demokrasi dengan Cara Beradab

Gubernur Ingatkan Generasi Milenial Untuk Berkendara dengan Aman

Gubernur Ingatkan Generasi Milenial Untuk Berkendara dengan Aman