Oleh Jro Gde Sudibya
Raina Coma Tolu hari ini, Senin, 15 Januari 2024 raina pemujaan Tuhan Wisnu, Sri Narayana. Piodalan ring Pura Batu Ngadeg Besakih, ring Utara Penatararan Agung Besakih, puja-bhakti ring Ida Bhatara Wisnu, Sri Narayana.
Itihasa Ramayana dan Mahabaratha yang dikenal luas di Bali, berbahasa Jawa Kuno/Kawi, telah lama dan mentradisi sebagai "sesuduk kayun", batu penjuru berpikir pada berbagai kalangan masyarakat.
Ajaran dan pesan moral yang amat sangat kaya, tentang bagaimana Dharma (kebenaran) harus diperjuangkan, ditegakkan dan dimenangkan.
Nasehat, "pewarah-warah" Prabu Krishna kepada Arjuna di medan laga Kurusetra, memberikan keluasan wawasan dan kedalaman berpikir tentang: swadharma kehidupan, kekuatan karakter -stitha prajna-, viveka (kecerdasan pembeda dalam merespons rwa bhineda kehidupan), strategi perang yang penuh tipu muslihat dan juga kemunafikan.
Filosofi kehidupan sebagai dinasehatkan Rsi Narada (simbolik Tuhan Wisnu) kepada Pandawa, khususnya Yudistira pasca Abimanyu gugur.
"Suka muang dhuka awasya wates iki, lawan pati urip". Suka dan duka datang silih berganti, dan ada batasnya. Jangankan suka dan duka, kelahiran dan kematian itupun akan datang.
Nasehat yang memotivasi kembali, Pandawa kembali berperang, dan kebenaran harus dimenangkan. Itihasa Mahabaratha yang amat sangat kaya, menjadi modal pengetahun menuju kebijaksanaan.
Itihasa Ramayana tidak kalah kayanya, menyebut beberapa: nasehat Rama kepada adiknya Bharata yang ragu menjadi raja, tentang arti penting tegaknya etika kepemimpinan, bagi sebuah kepemimpinan yang berhasil dan dicintai rakyatnya.
Dialog keras Hanoman dengan Patih Prahasta (patihnya Rahwana) dengan tolok ukur kontras diameral antara Hanoman (simbol dharma) dengan Prahasta (simbol raksasa, adharma) dalam memberikan penilaian terhadap swdharma kehidupan.
Dialog yang pantas disimak di zaman Kaliyuga dewasa ini, dalam fenomena kehidupan banyak orang hanya sebatas memuja harta benda dan kuasa.
Nasehat atau lebih tepatnya dialog antara Rama dengan Wibisana, pasca Rahwana gugur di medan laga, tentang arti penting pengetahuan untuk menjadi bijak, sebagai basis bagi kepemimpinan
yang bermartabat. Dalam sastra kepemimpinan ASTA BRATHA yang kesohor sampai hari ini.
Dalam karut marut kehidupan dewasa ini, menjadi pantas disimak ucapan sejarahwan cum filosof berkebangsaan Inggris, kejahatan menang terhadap kebaikan, bukan karena kejahatan lebih kuat, tetapi orang-orang baik yang jumlahnya lebih banyak diam berpangku tangan membiarkan kejahatan berlangsung. Atau orang-orang baik lari dari realitas sosial, dan "bersembunyi" di tumpukan satra, yang menggambarkan kepengecutan dalam menghadapi tantangan yang menghadang.
Dalam konteks ini, kerelaan Abimanyu untuk berkorban, keberanian Arjuna untuk melangkah, strategi Hanoman untuk mengalahkan musuh, kebijaksanaan Wibisana dalam melakukan pilihan kehidupan, barangkali bisa meninsipirasi dalam memperjuangkan dharma di zaman edan dewasa ini (Kaliyuga).
*) Jro Gde Sudibya, Ketua FPD (Forum Penyadaran Dharma).