Mangku Pastika Hadiri Pernikahan Mahakrishna dan Sattwika di MPB
Admin - atnews
2024-01-16
Bagikan :
Slider 1
Badung (Atnews) - Made Mangku Pastika selaku Anggota DPD RI Dapil Bali yang juga Gubernur Bali dua periode 2008-2018 menghadiri pernikahan dr Bagus Ngurah Mahakrishna M.Biomed, Sp.A dengan I Gusti Ayu Sattwika Pramita Sp.DV.
Kehadiran sosok Mangku Pastika didampingi Ny. Ayu Pastika yang juga Mantan Kapolda Bali menjadi acara pernikahan itu spesial, karena ketokohan Mangku Pastika dikenal luas baik secara nasional dan internasional, namanya semakin moncer setelah berhasil menangkap pelaku Bom Bali.
Acara pernikanan itu dipuput oleh Ida Pedanda Istri Rai dari Griya Telabah, Denpasar dan Ida Pedanda Istri Raka dari Griya Tengah Jungutan, Gantalan, Karangasem di Kawasan Pura Puncak Bangsal, Monumen Perjuangan Bangsal (MPB), Badung, Senin (15/1).
Disaksikan oleh Ida Pedanda Istri Keniten dari Griya Tabanan, Pasemetonan Ageng Purusa lan Pradana, Pasemetonan Ageng Griya Telabah, Kelihan Dinas, Kelihan Adat.
Pada kesempatan itu, hadir pula Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Bali I Gusti Bagus Saputera, Keluarga besar Gugus Kebangsaan (GK) Prov Bali, Prof dr. Hendra Santoso, Sp.A(K), Direktur Utama RSUP Prof. Ngoerah dr. I Wayan Sudana, M.Kes, Direktur SDM Pendidikan dan Penelitian RSUP Prof. Ngoerah Dr. dr. Ketut Ariawati, Sp.A(K), Direktur Medik dan Keperawatan dr. Affan Priyambodo Permana, Sp.BS, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Prof. Dr. dr. Komang Januartha Putra Pinatih, M.Kes, Komisaris Utama RS BaliMed Denpasar dr. I Putu Gde Wardhiana, Sp.OG(K). Ida Rsi Agung Wayabya Suprabhu Sogata Karang serta Ida Pedanda Gde Keniten Putra Telaga.
Kasmen Korps Menwa Ugracena Mumtazah Mardliyah,S.Ked mengucapkan selamat datang di Puri Puncak Bangsal yang terletak di Kawasan Monumen Perjuangan Bangsal. Kawasan ini merupakan Markas Perjuangan tempat terjadinya Puncak Pertemuan Rahasia Gerakan Bawah Tanah Perang Kemerdekaan Republik Indonesia di Bali, yang merupakan peristiwa ke 7 dari 49 Peristiwa Penting Masa Perang Revolusi. Peristiwa tersebut diperingati setiap tanggal 16 Agustus sebagai Hari Ulang Tahun Monumen Perjuangan Bangsal.
Monumen Perjuangan Bangsal memiliki benang merah yang sangat kuat dengan Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali di Gilimanuk, Monumen pendaratan I Gusti Ngurah Rai, Monumen Munduk Malang serta Taman Pujaan Bangsa (TPB) Margarana yang merupakan tempat pertempuran pasukan Indonesia yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai melawan tentara Nica. (opsional. Dibacakaan apabila perlu mengulur waktu). Acara persembahyangan oleh pasangan pengantin mempelai pria, dr. Bagus Ngurah Mahakrishna, M.Biomed., Sp.A yang merupakan putra kedua dari dr. Bagus Ngurah Putu Arhana,Sp. A(K) dan dr. Pande Nyoman Srijon, M. Kes, bersama mempelai wanita dr. I Gusti Ayu Sattwika Pramita,Sp. DV yang merupakan putri pertama dari dr. I Gusti Ketut Darmita,Sp.PD dan Dr. dr. I Gusti Ayu Agung Praharsini, Sp. KK(K), FINSDV, FAADV
Mereka melakukan perjalanan menuju Pura Puncak Bangsal melalu Kori Agung. Dalam bahasa Bali, Kori berarti Pintu dan Agung berarti yang paling utama/suci. Jadi Kori Agung dimaknai sebagai pintu utama untuk mencapai keharmonisan hidup.
Begitu pula pernikahan, yang merupakan salah satu pintu menuju keharmonisan dan kebahagian yang suci dalam kehidupan.
Di sebelah Kori Agung terdapat patung Rama dan Krishna (tokoh Ramayana dan Mahabarata), yang mana peletakan Batu Pertama Pembangunan Patung ini dilakukan oleh Ketua MPR RI Bambang Soesatyo.
Krisna digambarkan sebagai sosok yang memiliki kepribadian bijaksana, serta berwibawa sebagai pemimpin. Begitu pula Rama yang merupakan sosok bertanggung jawab dan memiliki dedikasi yang tinggi terhadap keluarga serta rakyatnya. Hal tersebut pun merupakan Sifat yang patut diteladani sebagai bekal dalam mengarungi mahligai rumah tangga.
Usai melewati Kori Agung, pasangan pengantin keluar melalui candi bentar gerbang terluar, belok kiri melewati Monumen Resimen Mahasiswa Ugracena. Ugracena merupakan salah satu Raja di Bali. Ugra berarti gagah, cena berarti prajurit. Ugracena memiliki makna prajurit yang gagah.
Diharapkan pernikahan ini kelak menghasilkan keturuan yang gagah dan berani dalam meneruskan cita-cita perjuangan luhur dalam bingkai Nuansa Kebangsaan.
Selanjutnya Pasangan Pengantin akan memasuki area Pura Puncak melalui candi bentar yang terdapat patung Dewa Ganesha.
Ganesha sebagai dewa yang berwajah gajah memiliki makna filosofi yang mendalam. Gajah dianggap sebagai hewan yang memiliki intelegensi tinggi dibandingkan hewan lainnya. Sebagai Dewa Ilmu Pengetahuan, Ganesha digambarkan membawa mangkuk (patta) yang berisi ilmu pengetahuan. Belalainya selalu masuk ke dalam mangkuk tersebut untuk menghirup ilmu yang seakan-akan tidak ada habisnya.
Tak hanya Kedokteran yang mengenal slogan "Long Life Learning", Pernikahan pun juga merupakan salah satu sumber pengetahuan pendidikan sepanjang hayat melalui proses kehidupan demi mencapai keluarga yang bahagia dan sukses hingga maut memisahkan.
Gajah memiliki tubuh yang besar melambangkan tempat berlindung dan kekuatannya mampu dijadikan andalan bagi yang meminta perlindungannya. Ganesha juga disebut sebagai penghalau rintangan dan marabahaya (Vighneswara) Begitupun seorang suami, harus kuat dan menjadi tempat berlindung bagi istri dan anak-anaknya dari rintangan dan marabahaya.
Selanjutnya menuju jaba tengah Pura Puncak Bangsal terdapat situs Simbol-Simbol Tempat Ibadah yang diresmikan oleh Ketua MPR-RI, Bambang Soesatyo ketika berkunjung ke tempat ini. Keberadaan situs ini menggambarkan semangat nilai pluralisme, sikap humanis dan Bhineka Tunggal Ika sebagai aset dan kekuatan bangsa Indonesia.
Selayaknya sepasang kekasih yang berasal dari latar belakang berbeda yang disatukan dalam ikatan suci pernikahan, sudah sepatutnya saling menghargai dan menghormati demi tercapainya rumah tangga yang utuh, tentram dan damai. Seperti pepatah "Dua jiwa namun satu pikiran, dua hati namun satu perasaan".
Selanjutnya Mempelai memasuki kori agung menuju Pura Puncak untuk melakukan persembahyangan guna memohon restu dan perlindungan dari yang Mahakuasa menuju pernikahan yang bahagia. Pernikahan yang bahagia adalah menyatunya dua insan yang bersedia saling mengerti, memahami, dan saling memaafkan. "Sebaik-baik cinta adalah pernikahan. Dan sebaik-baik mencintai adalah saling mendoakan". (gab/001)