Oleh I Gede Sutarya
Hubungan Indonesia-India telah mencapai 75 tahun sejak kedua negara merdeka. Hubungan ini sebenarnya telah terbangun sebelum kemerdekaan. Para pejuang kemerdekaan kedua negara telah saling berdiskusi untuk membangun negaranya sesuai dengan budaya bangsanya.
Puncak diskusi kedua pejuang kemerdekaan tersebut terjadi pada tahun 1927, ketika Rabindranath Tagore mengunjungi Hindia-Belanda. Beliau bertemu Soekarno dan pemimpin pergerakan nasional Indonesia di Jawa.
Dialog ini melahirkan semangat baru pergerakan nasional Indonesia yaitu Indonesia yang dibangun berdasarkan budaya bangsanya.
Sebelum itu, terdapat tiga model pergerakan nasional di Indonesia. Model pertama adalah gerakan Pan Islam yang bertujuan membangun khilafah setelah jatuhnya Ottoman. Model kedua adalah model pergerakan komunis yang bertujuan membangun persemakmuran komunis dunia.
Model ketiga adalah model yang dibangun Soekarno dkk adalah model pergerakan nasional Indonesia yang berdasarkan budaya bangsanya. Model ketiga ini menemukan semangatnya ketika bertemu dengan Rabindranath Tagore tahun 1927.
Tagore adalah tokoh yang terkenal luas di pada pergerakan nasional Indonesia. Ide-idenya untuk membangun pendidikan yang berbasiskan budaya bangsa diteladani oleh Ki Hajar Dewantara yang membangun Taman Siswa di Indonesia pada 3 Juli 1922. Gagasan ini berasal dari Santinekan yang dibangun Tagore sejak tahun 1901.
Gagasan-gagasan ini juga merembet ke model pergerakan nasional Indonesia yang bercita-cita membangun bangsa ini berbasis budaya bangsanya.
Budaya bangsa yang dimaksud kemudian menemukan pijakan sejarahnya kepada Sriwijaya dan Majapahit. Sriwijaya terutama adalah kerajaan yang dipuji-puji Tagore dalam puisi-puisinya ketika mengunjungi Nusantara.
Pijakan Sriwijaya dan Majapahit ini yang menjadikan pergerakan nasional Indonesia untuk menggali nilai-nilai luhur Nusantara.
Nilai-nilai luhur tersebut adalah Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika yang berasal dari mutiara-mutiara luhur ajaran Nusantara.
Penggalian-penggalian ini dirangsang dari terjemahan-terjemahan karya Tagore dan terjemahan Bhagavad Gita dalam Bahasa Jawa pada tahun 1929.
Terjemahan-terjemahan ini menyemangati penggalian nilai-nilai luhur budaya Nusantara.
Keakraban pemikiran pergerakan nasional Indonesia dan India ini terus berlanjut pada kemerdekaan Indonesia 1945 – 1949.
Pergerakan nasional India memberikan sokongan besar untuk kemerdekaan Indonesia. Walau secara resmi India merdeka tahun 1947, tetapi tokoh-tokohnya telah mengakui kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Tahun 1949, setelah kedua negara resmi merdeka, maka hubungan itu menjadi hubungan resmi kedua negara. Soekarno dan Nehru merupakan dua pemimpin yang sering bertukar pikiran.
Soekarno memang lebih revolusioner dalam menjalankan gagasan-gagasan kemerdekaan seperti nasionalisasi perusahaan asing dan UU Landreform.
Ide-ide tersebut merupakan gagasan yang muncul dari pergerakan nasional kedua negara ini, tetapi India menjalankan lebih negosiasi daripada Soekarno. Pelaksanaan UU Landreform misalnya di India berjalan dengan damai, tuan-tuan tanah menyerahkan tanah secara iklas kepada rakyat yang tak punya tanah. Di Indonesia, undang-undang ini berjalan dengan aksi-aksi sepihak PKI yang berujung kepada kekerasan pada tahun 1965 melalui G 30 S PKI.
Secara gagasan kedua pemimpin negara ini berada dalam satu gagasan yaitu berdikari (swadeshi), kemerdekaan dan berkepribadian budaya.
Persamaan gagasan kemerdekaan ini yang menjadikan hubungan kedua negara berjalan sangat baik. Pasang surut hubungan kedua negara berlangsung ketika konflik India dengan Pakistan, di mana masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim lebih bersimpati kepada Pakistan sehingga mempengaruhi hubungan kedua negara pada sekitar tahun 1965 sampai tahun 1971.
Akan tetapi, pemerintah Indonesia tidak terlalu larut dalam konflik itu dan berusaha menjadi pembangun perdamaian dunia sehingga hubungan kedua negara berjalan baik pasca ketegangan-ketegangan dua negara.
Pertemuan budaya antara Indonesia dan India pada masa pergerakan nasional dan awal-awal kemerdekaan, lahir dari kesadaran sejarah bahwa hubungan Indonesia dan India di masa lalu telah melahirkan zaman keemasan bagi Indonesia.
Kerajaan Mataram pada abad ke-7 – 9 Masehi telah melahirkan karya-karya agung dari perdagangan rempah-rempah dari Nusantara-India-Timur Tengah dan Eropa.
Perdagangan ini telah melahirkan kekayaan luar biasa bagi Mataram pada masa itu, terbukti dengan pembangunan candi-candi besar pada zamannya seperti Prambanan dan Borobudur. Pada abad ke 10 Masehi dan masa-masa berikunya, terjadi perang Salib di Timur Tengah yang juga berpengaruh bagi kekayaan raja-raja di Nusantara.
Jalinan perdagangan pada masa-masa itu telah membangun jalinan keluarga raja-raja Nusantara dengan India. Misalnya keluarga Varma adalah keluarga-keluarga raja-raja dari India selatan, Nusantara sampai Kamboja. Nama Varma ini merupakan jalinan keluarga antara raja-raja Nusantara, Asia Tenggara dengan India.
Nama lainnya adalah Tungadeva, sebuah nama yang melekat pada banyak raja di Nusantara. Nama ini mengacu kepada nama Sungai Tungabadra di India selatan. Tungadeva merujuk kepada dewa pada Sungai Tunga yang tak lain adalah Shiva. Nama ini merupakan jalinan keluarga antara raja-raja Nusantara dengan India untuk membangun masa-masa keemasannya.
Pada masa kini, hubungan itu menjadi sangat berarti. India merupakan pasar yang besar bagi produk Indonesia. Bagi Bali, India kini menjadi pasar pariwisata Bali yang besar. Bagi produk Indonesia lainnya pun, India menjadi pasar yang cukup besar dengan satu Milyar penduduk lebih.
Bagi India, Indonesia adalah sumber-sumber berbagai bahan produk-produk industrinya.
Hubungan kedua negara ini jika dijalin dengan serius bisa membawa zaman keemasan bagi Indonesia seperti pada era Mataram di masa lampau. Pada masa itu, leluhur Nusantara memanfaatkan kota-kota besar India sebagai perantara produk-produk rempahnya. Kini kota-kota itu bisa menjadi perantara pasar berbagai produk Indonesia.
*) I Gede Sutarya, Dosen Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar