Gubernur Bali 2024 Bisa Tiru Raja Thailand Majukan Pertanian, Mangku Pastika: No Farmer No Life
Admin - atnews
2024-02-21
Bagikan :
Slider 1
Denpasar (Atnews) - Anggota DPD RI Dapil Bali Made Mangku Pastika mengajak akademisi pertanian Universitas Udayana (Unud) ikut memikirkan dan berperan aktif menentukan Gubernur Bali 2024.
Menurut Mangku Pastika, semua sepakat pertanian itu penting untuk menyambung hidup, tetapi belum mampu mensejahterakan sehingga pertanian masih kalah dengan pariwisata.
Padahal no farmer no life, maka dari itu dibutuhkan Gubernur Bali 2024 yang mempunyai kebijakan publik bidang pertanian.
Untuk itu, dibutuhkan affirmative action (tindakan afirmatif) dari pemimpin sehingga gairah pertanian semakin melejit.
Guru besar hingga mahasiswa sudah waktunya turun tangan peduli terhadap pemimpin Gubernur Bali cinta pertanian, tidak hanya mengadalkan dari calon-calon yang disedikan oleh partai politik.
Dirinya merasa sedih, banyak kebijakan publik dalam lima tahun terakhir justru minim anggaran pertaniannya kecil, bahkan program Simantri dihilangkan dan dana subak dikurangai secara drastis.
"Padahal, Bali identik dengan pertanian yang menopang perkembangan pariwisata Bali yang dikenal dunia," ujar Mangku Pastika.
Hal itu disampaikan ketika Reses Anggota DPD RI Mangku Pastika didampingi Ketut Ngastawa, Nyoman Wiratmaja dan Nyoman Baskara.
Acara dikemas dengan dialog yang disambut oleh Dekan Fakultas Pertanian Unud Dr Gusti Ngurah Alit Susanta Wirya dan Ketua Tim Pengelola Kebun Percobaan Pertanian Unud Prof Ketut Budi Susrusa di Denpasar, Selasa (20/2).
Dalam memajukan pertanian, Mangku Pastika meminta belajar ke daerah lain atau ke negara lain.
Bali bisa meniru Thailand, pihaknya sudah pernah datang kesana ingin tahu cara gabungkan sektor pertanian dan pariwisatanya.
Apalagi Bali dengan Thailand memiliki kemiripan budaya, salah satunya peninggalan Angkor Wat sebagai Temple Hindu yang besar di kawasan Asia Tenggara selain Prambanan.
"Jangan alergi belajar dengan orang lain, Disana (Thailand-red) ada ribuan hektare pohon kelapa. Pasar kuliner berbasis argo. Itu cara menyambungkan," ujarnya.
Pemimpin Bali bisa meniru Raja Thailand yang suka pertanian. Bahkan mendiang Raja Thailand Bhumibol Adulyadej menginisiasi "Royal Project" untuk menyejahterakan rakyatnya.
Raja Bhumibol meningkatkan kualitas hidup rakyatnya dengan melestarikan praktik pertanian kuno.
Disamping itu, Ratunya juga membantu proyek raja ini dengan mempromosikan kerajinan lokal warga.
Dengan Warisan Raja Bhumibol itu, justru kini berimbas kepada pariwisata di Thailand itu sendiri karena banyak para turis yang menikmati pengalaman unik di Thailand.
Bahkan Pikunthong Royal Development Study Centre di distrik Muang Provinsi Narathiwat, sebuah pusat dedikasi raja Thailand untuk pertanian.
Lokasi yang mirip dengan sebuah universitas memang ditargetkan seperti museum hidup yang dapat memberi pelajaran, menginformasikan dan mentranfer pengetahuan kepada masyarakat.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian Unud Dr Gusti Ngurah Alit Susanta Wirya mengharapkan ada pemimpin Bali yang memiliki visi yang berkelanjutan.
Ia justru menyayangkan program Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri) yang digagas Mangku Pastika selama sebagai Gubernur Balai 2008-2018.
Selain itu, regenerasi petani juga dilakukan sehingga anak-anak muda bisa menjadi petani sukses di masa depan.
Sedangkan Ketua Tim Pengelola Kebun Percobaan Pertanian Unud Prof Ketut Budi Susrusa mengakui tantangan petani Bali cukup berat karena kepemilikan lahan yang terbatas, rata-rata 0,3 hektare.
"Kalau tanpa perluasan lahan, pendapatan petani akan mentok," katanya.
Untuk itu. pertanian dibutuhkan sentuhan teknologi serta keberpihakan diyakini sektor pertanian bisa memberikan hasil yang bagus.
Salah satu mahasiswa Pujawati dari Tabanan berharap agar ada optimilisasi kemampuan SDM dan SDA untuk pertanian. (ART/001)