Denpasar (Atnews) - Ketua Forum Penyadaran Dharma (FPD) I Gde Sudibya menilai tantangan kepemimpinan Bali ke Depan begitu besar, di tengah fenomena pragmatisme yang begitu nyata di satu pihak, di pihak lain program penyelamatan Bali: Alam, Manusia dan Kebudayaannya adalah sebuah keharusan, kalau tidak ingin Bali "tenggelam" peradaban dan kebudayaannya di masa depan.
Memimpin Bali ke Depan tidak bisa biasa-biasa saja,- (business as usual), harus mampu berpikir inovatif dengan misi penyelamatan (out of the box leader).
Partai politik yang secara aturan, berhak mengajukan calon: Bupati, Wali Kota dan Gubernur, semestinya lapang dada membuka diri ke berbagai kandidat yang mumpuni: rekam jejak, wawasan pengetahuan, kompetensi dan idealisme, yang diharapkan mampu menjadi pemimpin pembawa trobosan, pemberi harapan -great hope leader- dengan misi penyelamatan Bali dan masa depannya.
Jika partai dan atau gabungan partai, menggunakan "kaca mata kuda" dalam artian menutup diri terhadap kandidat yang berada di luar lingkungannya, bisa jadi benar sinyalemen, Bali sedang mengalami indikasi krisis pasokan kepemimpinan berkualitas.
Bali dalam perjalanan sejarah kebudayaannya, sangat kaya dengan tradisi "nyastra", sehingga semestinya tidak kekurangan pasokan untuk kepemimpinan Bali berkualitas ke depan dari perspektif: Sejarah, Peradaban dan Kebudayaan.
Sementara itu, Anggota DPD RI Dapil Bali Made Mangku Pastika mengungkap Bali mengalami krisis pemimpin menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Bali 2024.
Oleh karena, masih belum bermunculan calon-calon yang mampu memajukan Pulau Bali, memiliki visi pembangunan yang mengedepankan program lingkungan.
Bagaiman memilih pemimpin tidak mudah.
"Terus terang Bali krisis pemimpin Bali. Yang mau banyak. Kadang lahir begitu saja tanpa persiapan. Pemimpin itu selain genetik tetapi belajar banyak secara bertahap, langkah demi langkah, tahap demi tahap," kata Mangku Pastika di Gianyar, Senin (29/4).
Hal itu disampaikan dalam giat Kudapil Anggota DPD RI Dapil Bali Mangku Pastika bertema "Meneguhkan Komitmen dan Kepedulian terhadap Lingkungan Bali".
Dengan menghadirkan Ketua Yayasan Pembangunan Bali Berkelanjutan Dr. Ketut Gede Dharma Putra yang juga Peneliti Lingkungan Bali. Hadir pula Panglingsir Puri Ageng Blahbatuh A.A. Kakarsana dan sejumlah tokoh lainnya. Acara itu dipandu Nyoman Baskara, Mangku Pastika didampingi Tim Ahli Ketut Ngastawa dan Nyoman Wiratmaja.
Sepatutnya pemimpin dihadapkan dari berbagai tantangan. Pemimpin sejati lahir dari krisis. "Ini kan tidak mudah. Ini kewajiban kita yang lingsir membentuk itu. Harus dibentuk itu (pemimpin-red)," ujarnya.
Dalam teori politik, pertama ada generasi perintis, pembangun, penikmat dan perusak. Memang diperlukan dan disiapkan generasi berikutnya.
Hal itu sebuah siklus kehidupan, tidak saja terjadi dalam politik tetapi juga terjadi organisasi maupun keluarga.
"Maaf itu terjadi di seluruh dunia tidak terkecuali di Puri. Sedikit sekali Puri yang masih bercahaya. Perlu kaderisasi. Memang diperlukan keadaran bagi generasi pembangun untuk siapkan generasi penerus," ujarnya.
Dengan demikian, pihaknya membangun SMAN/SMKN Bali Mandara dan SMA Taruna Mandara.
Namun, persoalan masyarakat ingin sejahtera dari pariwisata. "Bukan salahkan pariwisata tetapi pariwisata menggerus kondisi lingkungan Bali. Padahal Bali memiliki nilai-nilai filosofi yang sudah adi luhung seperti Tri Hita Karana," kata Mangku Pastika.
Dikatakan juga, sektor pariwisata menimbulkan masalah bagi lingkungan Bali. Ada yang kurang peduli terhadap kondisi lingkungan. Dikarenakan masyarakat berbondong-bondong kerja disektor pariwisata.
Pertanian semakin ditinggalkan, kerajinan ditinggalkan. Bahkan ada pengerajin ekspor di Gianyar mengaku kesulitan mencari pengerajin pasca Covid-19.
"Acuh tak acuh dengan lingkungan. Sawah, kebun dan desa ditinggal," ungkapnya.
Mangku Pastika juga memuji protret lingkungan Bali secara umum masih bagus. Leluhur Bali sudah mewariskan berbagai perayaan Tumpek Uduh, Tumpek Kandang dan Tumpek Krulut.
Untuk itu, spiritualitas dan filosofi Bali sudah sangat konsen dengan lingkungan, perhatian kepada sesama manusia, hewan dan tumbuhan.
Begitu juga ada wana kerthi, jana kerthi segara kerthi, danu kerthi. Pemulian terhadap air, Bali begitu rupa menghormati dan menyucikan alam.
Apalagi Bali dikarunai tanah subur, ada pula laut, danau, sungai, gunung, sawah, kebun, hutan. Maka Bali dikenal "nyegara gunung".
Mangku Pastika mengharapkan Gianyar agar menjadi benteng bagi Bali. Karena memiliki sungai, laut, flora dan fauna dan orangnya nyeni (ketrampilan seni).
Diperlukan daerah yang komitmen dengan lingkungan. "Minimal satu wilayah dipertahankan, hargai lingkungan dan kembangkan seninya. Warisan budaya dipertahankan, saya yakin tidak pernah kehilangan jadi diri," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pembangunan Bali Berkelanjutan Dr. Ketut Gede Dharma Putra yang juga Putra Blahbatuh menyoroti masalah Bali khususnya daerah padat pariwisata yakni sampah dan kemacetan. Termasuk juga Bali hadapi krisis air.
"Bali dihadapkan pariwisata. Persoalan yang nyata kemacetan dan sampah. Ada limbah cair dan padat," ujarnya.
Dirinya pun sudah merasakan langsung dampak dari kemacetan. Beberapa waktu lalu ada mobil mogok dekat Bandara I Gusti Ngurah Rai. Dengan hal itu, putrinya yang diantar ke bandara hingga batal terbang ke Jakarta karena terjebak macet.
"Ini sesuai pengalaman pribadi. Kejadian juga terjadi ketika belum ada Tol Bali Mandara. Seorang warga dari Badung Selatan mau ke Sanglah, namun sudah lahir di kendaraan," imbuhnya.
Meskipun ada daerah padat, ada pula daerah yang kosong. Hal itu pertanda tidak merata. Bukan berarti seluruh Bali dibikin merata pembangunan tersebut.
Khusus soal sampah, beberapa kali melakukan Amdal TPA Suwung dan TPS, namun kerap mendapatkan penolakan masyarakat pendamping.
Mereka menolak karena terkesan kotor, bau, rusak. Hal itu dikarenakan pengelolaan pengelolaan sampah yang ada belum berhasil.
Ia mengharapkan kegiatan World Water Forum (WWF) 2024 harus benar-benar dapat memberikan manfaat nyata bagi penyelamatan air di Bali.
Acara itu tidak hanya seremoni saja yang tidak memberikan dampak perbaikan terhadap status air Bali dari tidak berkelanjutan menjadi berkelanjutan.
"WWF bukan hanya menjadi ajang seremoni saja yang tidak memberikan dampak perbaikan status air Bali dari tidak berkelanjutan menjadi berkelanjutan," kata Dharma Putra yang juga Dosen Universitas Udayana di Denpasar, Jumat (26/4).
Untuk itu, diperlukan kemampuan lobby dan strategi jitu dari pemegang otoritas kebijakan Bali, serta anggota DPR/DPD Dapil Bali di pusat agar disiapkan anggaran penyelamatan sumber daya air Bali yang memadai.
Anggaran yang dapat mengoptimalkan ketersediaan air dari ekosistem alami/potensi alam di Bali sebesar sekitar 125 ribu liter/detik kalau bisa diberikan kepada Bali, dirasakan akan dapat membantu Bali keluar dari krisis air.
Diperkiraan kebutuhan air di Bali tahun 2025 sekitar 80 ribu liter/detik yang akan mengalami kekurangan kalau tidak dilakukan program penyelamatan sumber air di Bali secara terpadu.
Apabila dilihat dari Indeks Jasa Ekosistem Provinsi Bali, yang melihat hubungan antara manfaat dan resiko penggunaan air, status air di Bali termasuk kategori tidak berkelanjutan.
Diperlukan program-program terpadu untuk menyelamatkan air di Bali agar mampu menopang keberlanjutan pembangunan Bali kedepan.
Disebutkan pula program Aksi Air yakni (1) Perlindungan sumber air dengan meningkatkan luasan kawasan hutan dan ruang terbuka hijau, (2) Peningkatan kapasitas pelayanan air bagi masyarakat melalui sistem pengelolaan perusahaan air minum yang terbuka dan transparan, (3) Program pengurangan potensi kerusakan sumber daya air dan pencemaran air dengan sistem pengelolaan limbah cair/IPAL dan limbah padat/persampahan yang baik, (4) Peningkatan anggaran penyiapan sarana dan prasarana air bersih termasuk aistem irigasi/subak.
Sedangkan, Panglingsir Puri Ageng Blahbatuh A.A. Kakarsana mendukung acara itu untuk memuliakan tanah Bali, karena warisan leluhur yang patut dilestarikan.
Pihaknya juga sepakat terkait pemimpin perlu disiapkan. Puri Ageng Blahbatuh sudah melakukan upaya eduaksi sampah plastik bahkan membuat program kampanye plastik bersama TNI dengan beberpa kegiatan.
Disamping itu, Peneliti Bambu Tabah untuk Konservasi dan Olahan Pangan Pande Ketut Diah Kencana telah berhasil menciptkan 17 jenis produk olahan bambu.
Namun, potensi ekonomi bambu belum serius dilirik pemerintah. Padahal bambu memiliki ekonomi tinggi, serta mampu melindungi sumber mata air.
Selain itu, bambu cocok untuk jenis tanah apapun. Dengan cacatan, penanaman dilakukan pada musim hujan.
Diharapkan gerakan tanam bambu didukung semua pihak, bukan isu lingkungan datang musiman, khususnya menjelang perhelatan Pemilu. Pihaknya telah memiliki 68 kelompok binaan bambu. (GAB/ART/001)