Kasus Bunuh Diri di Bali Meningkat, Kecanduan Narkoba-Alkohol Semakin Mengkhawatirkan di Kalangan Pariwisata
Admin - atnews
2024-05-10
Bagikan :
Slider 1
Denpasar (Atnews) - Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang Denpasar menggelar Symposium dan Workshop Psikiatri di Denpasar, selama dua hari, 10- 11 Mei 2024.
Acara itu mengusung tema "Mental Health Tourism, Suicide & Addiction" dengan Keynote Spekaer dr. Nalini Muhdi Sp.KJ(K), FISCM membawakan materi Suicide Prevention Strategies in Indonesia dan dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ yang juga Ketua PDSKJI Cabang Denpasar, materi Tourism, Suicide and Addicition in Bali. Ketua PDSKJI Cabang Denpasar Putra Wiguna menyoroti kasus kejadian bunuh diri atau suicide dalam 10 tahun terakhir semakin meningkat di Bali.
Pada Tahun 2023 menjadi tahun dengan kasus bunuh diri terbanyak selama dekade terakhir dengan 148 kasus.
Bali masuk tiga besar nasional kasus bunuh diri terbanyak, selain Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Bali, Jatim dan Jateng, tentunya rata-rata kasus bunuh diri di Bali sungguh memprihantinkan
"Sebagian adalah WNA yang tinggal dan berlibur di Bali, selain sebagian besar lainnya adalah warga Bali sendiri," kata Putra Wiguna usai pembukaan acara yang dibuka Sekretaris Daerah Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar Anak Agung Ayu Agung Candrawati di Denpasar, Jumat (10/5).
Selain itu, masalah kecanduan, baik narkoba maupun alkohol, juga menjadi permasalahan yang semakin mengkhawatirkan di kalangan pekerja pariwisata dan masyarakat sekitar.
Pihaknya menyadari bahwa pariwisata memberikan dampak, baik positif maupun negatif.
Di satu sisi, pariwisata telah memberikan banyak manfaat bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Bali. Namun, di sisi lain, terdapat permasalahan yang harus kita hadapi bersama, terutama dalam bidang kesehatan mental.
Kasus kejadian bunuh diri atau suicide dalam 10 tahun terakhir semakin meningkat dan tidak jarang kasus suicide ini sering berkorelasi dengan adiksi atau penyalahgunaan zat narkotika, psikotropika dan adiktif lainnya.
Dalam era ini, tingginya tingkat stres, tekanan sosial, dan tantangan hidup dapat menjadi pemicu serius terhadap perilaku bunuh diri atau suicide dan juga perilaku adiksi.
"Tema Mental Health Tourism, Suicide & Addiction yang kita angkat hari ini merupakan isu krusial yang membutuhkan perhatian serius, terutama di daerah pariwisata seperti Bali. Sebagai pusat pariwisata dunia, Bali tidak dapat terlepas dari berbagai tantangan terkait kesehatan mental, seperti kasus bunuh diri dan masalah kecanduan," imbuhnya.
Dengan memiliki 76 Psikiater yang berkarya di seluruh Kab/kota di Bali melihat realitas itu, pihaknya merasa prihatin. Sebagai profesional kesehatan mental, pihaknya memiliki tanggung jawab besar untuk turut serta dalam upaya mengatasi permasalahan ini.
Oleh karena itu, PDSKJI Cabang Denpasar merasa terpanggil untuk mengadakan acara Symposium dan Workshop Psikiatri ini, sebagai wadah untuk membahas, berbagi, dan mencari solusi konkret bagi permasalahan yang kita hadapi. Dalam kesempatan itu, pihaknya menyampaikan beberapa hal penting: Pertama, kerja sama lintas sektor sangat diperlukan dalam upaya mengatasi permasalahan ini. Pemerintah, industri pariwisata, asosiasi profesi, dan masyarakat harus bersinergi untuk membangun ekosistem yang mendukung kesehatan mental di lingkungan pariwisata.
Kedua, peningkatan kapasitas dan kemampuan tenaga profesional kesehatan mental juga menjadi kunci penting. Melalui acara Symposium dan Workshop Psikiatri ini, berharap dapat memperkaya wawasan dan kemampuan praktis para psikiater, psikolog, dan tenaga kesehatan mental lainnya dalam menangani isu-isu terkait pariwisata, bunuh diri, dan kecanduan.
Ketiga, edukasi dan kampanye publik juga perlu digalakkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mental. Stigma dan kesalahpahaman terkait masalah kesehatan mental harus dihilangkan agar masyarakat dapat terbuka untuk mencari dan menerima bantuan profesional.
Symposium dan Workshop Psikiatri itu diharapkan dapat menjadi momentum penting untuk bersama-sama merumuskan langkah strategis dalam mengatasi permasalahan terkait pariwisata, bunuh diri, dan kecanduan di Bali. Melalui diskusi, berbagi pengalaman, dan kolaborasi, kita akan mampu mengembangkan solusi yang komprehensif dan terukur.
"Saya yakin, dengan kerja keras, komitmen, dan sinergitas yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan, kita dapat mewujudkan Bali yang tidak hanya unggul dalam pariwisata, tetapi juga terjamin kesehatan mental masyarakatnya. Dan Ini mampu juga terwujud di Seluruh Indonesia," harapnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Psychiatric Symposium 1, Dr. Luh Nyoman Alit Aryani, dr., Sp.KJ., Subsp. Ad. (K) mengatakan seminar psikiatri di bidang suicide dan adiksi didasarkan pada kebutuhan meningkatnya kesadaran dan pemahaman terhadap masalah kesehatan mental yang berkaitan dengan suicide dan adiksi tersebut.
Kasus kejadian bunuh diri atau suicide dalam 10 tahun terakhir semakin meningkat dan tidak jarang kasus suicide ini sering berkorelasi dengan adiksi atau penyalahgunaan zat narkotika, psikotropika, dan adiktif lainnya.
Dalam era ini, tingginya tingkat stres, tekanan sosial, dan tantangan hidup dapat menjadi pemicu serius terhadap perilaku bunuh diri atau suicide dan juga perilaku adiksi. Seminar ini diinisiasi untuk memberikan pemahaman yang lebih terutama para praktisi kesehatan mental tentang dampak psikologis dan perawatan yang diperlukan bagi individu yang menghadapi risiko bunuh diri dan masalah adiksi.
Melibatkan para ahli di bidang psikiatri, psikologi, dan rehabilitasi, seminar ini bertujuan untuk menyediakan wawasan mendalam, strategi pencegahan dan intervensi terkini dalam penanganan kasus suicide dan adiksi.
Dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman praktis diharapkan peserta seminar dapat meningkatkan keterampilan dalam menangani kasus suicide dan adiksi.
Seminar ini juga menjadi sarana untuk mengurangi stigma seputaran isu-isu kesehatan mental, membuka dialog terbuka, dan mendorong kolaborasi antara berbagai pihak termasuk lembaga kesehatan, pemrintah, dan masyarakat umum. Dengan cara ini diharapkan dapat tercipta lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung bag individu yang mengalami masalah psikiatri, khususnya di bidang pariwisata, suicide, dan adiksi.
Sedangkan, Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar Anak Agung Ayu Agung Candrawati mengatakan, ODGJ di Denpasar sebanyak 1.163 orang.
Pencegahan telah dilakukam secara masif dan komprehensif dengan melibatkan seluruh lintas sektor, mulai dari upaya promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif.
Dengan membentuk Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) Denpasar sejak 2006 untuk pelayanan kesehatan jiwa termasuk evakuasi pasien jiwa ke RSJ Bangli maupun RSUP Prof Ngoerah.
Integrasi TPKJM Denpasar dengan inkvasi Damakesmas untuk pemanfaatan ambulance selama 24 jam sejak 2018. (GAB/ART/001)