Jakarta (Atnews) - Budayawan Putu Suasta merenungi kematian sahabat-sahabatnya satu persatu.
Suasta yang juga Alumni UGM dan Cornell Unibersity mengatakan sehebat-hebatnya manusia pasti akan dikalahkan oleh sang Waktu.
Sebagaimana diungkapkan dalam Bhagavadgita Sloka 10.30 kālaḥ kalayatām aham artinya Di antara para penakluk Aku adalah waktu. Ada banyak prinsip yang menaklukkan, tetapi waktu mengikis segala benda di alam semesta. Karena itu, waktu adalah lambang Tuhan.
Begitu juga diungkapkan dalam Bhagavadgita Sloka 10.34: mṛtyuḥ sarva-haraś cāham, artinya Aku adalah maut yang memakan segala sesuatu.
Apabila seseorang dilahirkan, dia menjalani proses kematian pada setiap saat. Karena itu, kematian menelan setiap makhluk hidup setiap saat, tetapi pukulan terakhir disebut kematian sendiri. Kematian itu adalah Tuhan Yang Maha Esa.
Mengenai perkembangan pada masa yang akan datang, semua makhluk hidup mengalami enam perubahan pokok. Para makhluk hidup dilahirkan, tumbuh, tahan selama beberapa waktu, berketurunan, merosot, dan akhirnya lenyap.
"Waktu, manusia, lemah, sakit-sakitan dan akhirnya menyerah pada panggilan ajal," kata Suasta di Jakarta, Senin (3/6).
Menurutnya, waktu setiap hari mengambil sebagian dari jatah kehidupan. Sedikit demi sedikit hingga akhirnya tidak tersisa.
Maka yang cerdas adalah mereka yang tidak terlena dengan pesona dunia. Dia menyadari bahwa dirinya sewaktu-waktu pasti akan mati. Badan ini dilahirkan dan badan ini menjadi musnah.
"Kebanyakan orang dari kita mengalami kesulitan pada saat kematian dan juga pada saat kelahiran. Kita adalah para makhluk hidup, tetapi kita juga adalah jiwa yang hidup. Kelahiran dan kematian berlangsung di dalam badan ini," ujarnya.
Diharapkan setiap orang berusaha mengerti duka cita pengalaman kelahiran, kematian, usia tua, dan penyakit.
Ada pula dua uraian dalam berbagai kesusasteraan Veda mengenai kelahiran. Selian itu, setiap orang harus menyadari secara mendalam bahwa kelahiran penuh kesengsaraan.
Oleh karena itu, lupa betapa besarnya kesengsaraan yang telah dialami di dalam kandungan ibu, tidak berusaha mencari penyelesaian kelahiran dan kematian yang dialami berulang kali.
Begitu pula, pada saat meninggal, ada segala jenis kesengsaraan, dan kesengsaraan itu juga disebut dalam Kitab-kitab Suci yang dapat dipercaya.
Seyogyanya hal-hal ini dibicarakan. Mengenai penyakit dan usia tua, semua orang mendapat pengalaman yang nyata.
Tiada seorang pun yang ingin jatuh sakit, dan tidak ada seorang pun yang ingin menjadi tua, tetapi hal-hal itu tidak dapat dihindari.
Dengan mempertimbangkan kesengsaraan kelahiran, kematian, usia tua dan penyakit, maka tidak ada dorongan untuk bisa lebih cepat lepas dari ketidakterikatan, namun meningkatkan kesadaran spiritual.
Suka dan duka adalah hal-hal yang berjalan berdampingan dalam kehidupan material. Sebagaimana dinasehatkan dalam Bhagavad-gita, orang harus belajar cara toleransi. Orang tidak akan pernah membatasi datang dan perginya suka dan duka; karena itu, sebaiknya ia lepas dari ikatan terhadap cara hidup yang duniawi, dan dengan sendirinya bersikap seimbang dalam kedua keadaan tersebut.
Kematian pula tidak mengenal usia dan belas kasihan. Kematian bisa datang kepada siapapun dan kapanpun. Bisma yang mendapat anugrah dapat menentukan kapan kematiannya, tetap saja mati pasca perang Mahabharta di Kurukshetra selama 18 hari.
"Lalu ayo kita gunakan waktu sekarang sebaik mungkin untuk tidak menunda setiap kebaikan, empati yang terbersit di hati," ujarnya.
Oleh karena semenit lagi atau bahkan sedetik lagi tidak ada jaminan masih bisa melakukannya.
Namun ada roh-roh yang beruntung mengetahui kapan hari kematian seperti Maharaja Parikesit yang merupakan cucu Arjuna dari Kerjaaan Kuru atau Hastinapura. Menjelang tujuh hari wafatnya, Maharaja Parikesit menghabiskan waktunya untuk puasa dan tekun mendengarkan kitab suci.
Maka dari itu, Suasta mengajak semua insan untuk kebaikan agar langsung bertindak. Ada kesempatan langsung berdoa.
Ada peluang berdonasi ke tempat ibadah, sosial, lingkungan agar segera dilakukan dengan keiklasan dan kegembiraan.
Meski kalah oleh Sang waktu setidaknya ada upaya untuk gunakan kesempatan secara tepat waktu. Karena kita dapat menggunakannya dengan baik. dan tidak habis sia-sia hanya untuk menunggu waktunya "Berpulang".
Jika hari ini dunia adalah nyata, maka Svarga Loka hanyalah cerita. "Setelah kita tiada dunia ini hanya cerita sedangkan Svarga Loka jadi nyata. Kita bukan penghuni Bumi (Bharatavarsa), tempat kita yang abadi adalah di sana (dunia rohani-red), di alam keabadian," ujarnya.
Veda Garuda Purana adalah salah satu kitab Purana yang secara spesifik memuat lika-liku tentang kematian, perjalanan setelah kematian, hantu, upacara kematian, dan berbagai jenis surga dan neraka.
"Sang kematian itulah yang paling dekat dengan diri kita, sayang sekali kita sering mengabaikannya," pungkasnya. (GAB/ART/001)