Buleleng (Atnews) - Pendiri Pesemetonan Buleleng (Poleng) Bali se-Jakarta I Gede Wardana yang juga Bupati Buleleng 2007 mengharapkan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Bali 2024 agar datang dari tokoh Bali Utara dan Selatan.
"Kombinasi Utara Selatan sebagai cross impact matrix untuk memutus ketimpangan pembangunan Bali Utara dan Selatan," kata Gede Wardana yang Ketua Hadtanas Universitas Indonesia (UI) Bali di Buleleng, Selasa (4/6).
Selain itu, sosok yang diperlukan memimpin Bali yakni memiliki jiwa ksatria, tegas, pembrani, negarawan untuk melahirkan wawasan kebangsaan.
Upaya itu dalam menjaga nama Bali yang sudah populer sejak lampau. Bali juga dikenal dengan adat dan budaya yang adi luhung, fondasi budaya dari pertanian (subak).
Saat ini, Bali dihadapkan oleh berbagai polemik baik sampah, kemacetan, minimnya minat pemuda bertani, ancaman krisis air bersih, kemacetan hingga kriminalitas.
Ia juga Dewan Pembina Gerakan Pembumian Pancasila Bali berharap terpilih Gubernur SAKTI (Satya, Ajeg, Karya, Tulus, Inastuti).
Menurutnya, menjadi pemimpin tidaklah mudah, berani keluar dari zona nyaman dan siap menerima kritik. Senantiasa berjuang, menghasilkan karya dan berkreasi, setia dan berpegang teguh pada tegaknya kebenaran. Tidak semudah membalik telapak tangan, tidak semudah harapan dan keinginan, untuk selalu tulus bekerja, tanpa adanya paksaan atau tunduk pada tekanan pihak lain.
Pedoman-pedoman kepemimpinan telah diuraikan dalam Kakawin Ramayana. Kakawin Ramayana termasuk dalam Kidung Sekar Agung, Kidung Indah yang menggambarkan Genius Lokal Wisdom terkait kepemimpinan.
Dalam Kakawin Ramayana berisi ajaran Sri Rama mengenai kepemimpinan kepada Bharata, dalam Pupuh Wangsastha. Selain itu ada pula dalam Itihasa Mahabharata, termasuk dalam Nitisastra merupakan salah satu kitab pedoman bagi umat Hindu tentang kepemimpinan.
"Pemimpin Bali jangan arogan, apalagi menjual Bali, tetapi pemimpin yang mampu menerapkan Asta Brata," pungkasnya. (GAB/ART/001)