Oleh Wayan Sayoga
Beberapa hari lalu saya pergi mencari sesuatu dipasar Sindhu, di jalan Danau Tamblingan Sanur. Sebelum sampai dilokasi saya sudah dihadapkan dengan kemacetan luar biasa hingga ke jalan by pass Ngurah Rai. Saya kemudian tahu bahwa kemacetan tersebut karena ada acara pembukaan Mall baru.
Untuk mengatasi kemacetan sudah ada pula wacana bahwa Jalan Danau Tamblingan akan dijadikan satu arah,Woooowww,. Saya merasakan betapa beban warga sekitarnya dan Bali akam semakin berat kedepan selain karena persoalan kemacetan yang tidak sehat, tentu Mall baru tersebut akan menjadi pukulan berat bagi warga yang mencari rejeki di area sekitar Sanur.
Mereka ada yang buka toko, sebagai sopir, guide, dan layanan jasa pariwisata lainnya. Dan dengan kondisi tarffic yang semakin tidak nyaman maka kedepan wisatawan kemungkinan besar akan enggan mengunjungi Sanur.
Dalam suatu diskusi di hotel Santrian Sanur beberapa tahun lalu, ketika awal proyek mall tersebut dikerjakan saya pernah menyampaikan kegundahan ini sekaligus menanyakan kepada peserta yang hadir.
Saya menanyakan sikap warga dan desa adat sanur yang sepertinya diam saja dengan kehadiran mall yang rasanya semua sudah bisa mengira akan eksesnya ke depan.
Mall baru ini akan membuat Sanur tidak Sanur lagi. Sanur yang kita kenal menampilkan wajah pariwisata Bali yang sangat unik, tenang dan sehat akan kehilangan warna dan vibrasinya akibat arus yang semakin krodit dan sesak.
Wisatawan baik domestik maupun manca negara kini dan kedepan cenderung membutuhkan lebih banyak ruang terbuka, lingkungan dengan taman sari yang asri yang menjadi ciri khas Sanur. Mereka sudah penat dengan gedung tinggi, tinggal di apartemen atau pemukiman yang padat.
Mereka membutuhkan ruang terbuka dan atmosphir baru yang segar sebagai media untuk melepaskan beban rutinitas sehari hari meski hanya beberapa hari berlibur di Bali. Mereka yang semakin selaras dan mengapresiasi keindahan alam maka mereka semakin sehat, demikian pula sebaliknya.
Dengan Mall yang besar, megah dan mewah ini, lalu Sanurnya mana? Apakah kita di Bali membutuhkan begitu banyak Mall? Saya seperti sedikit menggugat dalam forum diskusi terbatas waktu itu. Sampai akhir acara tidak ada yang menanggapi kegundahan saya, meski saya tahu banyak orang Sanur yang hadir dalam ruangan tersebut.
Saya memahami, memang demikianlah kondisi kita secara umum, kita lebih memilih diam daripada bersuara. Karena ada kekhawatiran kalau ngomong akan mendatangkan masalah bagi diri sendiri. Intinya, lebih baik cari selamat saja.
Setelah Mall ini beroperasi mulailah warga pada grenggeng alias mengeluh. Mereka yang dipasar, tukang parkir, guide, para pedagang atau mereka yang memiliki usaha diarea Sanur baru mulai menyadari kenyataan yang ada didepan mata yang akan memukul kepentingan mereka.
Bahkan hingga ada yang berujar bahwa warga Sanur tidak akan mengunjungi Mall tersebut. Getaran perasaan kekecewaan ini tentu akan menambah beban tekanan pada lingkungan dan warga sekitar meski sekarang belum begitu tampak dampaknya.
Saya hanya hendak mengajak semua pihak, terutamanya para pengambil kebijakan agar selalu memikirkan dan memikirkan kembali rencana yang disusun sebelum keputusan ditetapkan. Demikian juga para pengusaha, atau penguasa yang masih bermental pedagang hendaknya didalam memutuskan sesuatu memikirkan dengan matang berbagai kepentingan lainnya terutama dampak terhadap lingkungan dan kehidupan warga sekitarnya.
Jika kita hidup hanya mementingkan keuntungan dan kepuasan ego sendiri maka Mall baru ini barangkali akan menambahi beban dan deretan masalah di Bali, bukannya menjadi berkah. Semoga Bali makin sehat dan warganya semua diberkahi kebahagiaan.
*) Wayan Sayoga, Pemerhati masalah sosial