Merdeka Belajar; UNESCO dan UNICEF Kunjungi ARMA Museum, GSVI Bangun dan Tingkatkan Platform Pembelajaran Digital
Admin - atnews
2024-10-04
Bagikan :
UNESCO dan UNICEF Kunjungi ARMA Museum (Artaya/Atnews)
Gianyar (Atnews) - ARMA Museum & Resort menerima kedatangan rombongan Gateways Study Visit Indonesia (GSVI) dari UNESCO dan UNICEF bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) di Gianyar, Kamis (3/10).
Gateways tersebut merupakan inisiatif global yang dijalankan UNESCO dan UNICEF bagi negara-negara untuk membangun dan meningkatkan platform pembelajaran digital bagi publik.
Dalam kerangka Prakarsa Gerbang Pembelajaran Digital Publik UNESCO-UNICEF , Indonesia menyelenggarakan Kunjungan Studi Gerbang selama tiga hari, tanggal 1-3 Oktober di Bali.
Acara diikuti oleh lebih dari 20 negara yakni Indonesia, Australia, Brunei Darussalam, Kamboja, China, Mesir, Finlandia, India, Yordania, Jepang, Republik Demokratik Rakyat Laos, Libanon, Malawi, Malaysia, Maladewa, Mongolia, Singapura, Thailand, Timor Leste, Uni Emirat Arab (UEA), Vietnam.
Arma Museum menjadi salah satu kunjungan wisata GSVI ke Bali sekaligus ditutup dengan gala dinner. GSVI diselenggarakan dengan bertajuk “Lebih dari Intervensi Teknologi: Menavigasi Transformasi Pendidikan Indonesia” tersebut direncanakan akan dihadiri oleh delegasi lebih dari 20 negara dan organisasi internasional.
Kunjungan tersebut akan merinci bagaimana Indonesia memanfaatkan berbagai platform digital untuk meningkatkan pemerataan dan kualitas pendidikan.
Para delegasi ke ARMA Museum langsung disambut penuh kehangatan oleh Pendiri ARMA Museum & Resort Anak Agung Gde Rai didampingi General Manager ARMA Museum & Resort Made Suhartana.
Bahkan para delegasi diberikan kamen dan senteng, selanjutnya baru diperkenalkan aktivitas ARMA Museum.
Dengan membagi delapan kelompok untuk mengikuti sesi Dance, Offering, Painting, Museum Dauh, Cooking, Gamelan, Museum Daja, dan Batik Lesson. Secara bergilir mereka datang lada setiap sesi.
Suhartana merasa bangga ARMA Museum dipilih sebagai acara kunjungan internasional. Meskipun persiapan yang singkat setelah berhasil menggelar ARMA FEST l tahun ke-2, diselenggarakan pada tanggal 14-15 September 2024 dengan mengusung tema “Tradition Remagined“.
Namun ARMA Museum tetap menampilkan yang terbaik, berkat kerjasama semua pihak, khususnya bagi sekha-sekha kesenian. Termasuk delegasi juga bisa menyaksikan langsung orang melukis, pengunjung pun bisa ikut melukis. Begitu juga ada seniman ukir.
Peserta nampak antusias, paling banyak digemari yakni seni lukisan ARMA Musuem. Oleh karena ARMA Musuem menyajikan lukisan lokal hingga seniman dunia.
Museum tersebut mengoleksi karya dari pelukis ternama di Bali, Indonesia, dan luar negeri. Jenis lukisannya dikoleksi pun beragam, dari lukisan bergaya tradisional hingga kontemporer. Bahkan delegasi juga dapat melihat lukisan klasik Kamasan karya artis Batuan pada 1930 dan 1940.
Selain itu, Museum Arma juga menjadi satu-satunya museum di Bali yang memamerkan lukisan karya maestro ternama Indonesia, yakni Raden Saleh dan Syarif Bustaman. Ada pula karya pelukis ternama asal Bali, seperti I Gusti Nyoman Lempad, Ida Bagus Made, Anak Agung Gede Sobrat, dan I Gusti Made Deblog.
Selain itu, Koleksi spesial lainnya adalah karya pelukis asal Jerman, Walter Spies, Willem Gerard Hofker, Rudolf Bonnet, dan Willem Dooijewaard.
Menurutnya, kehadiran Walter Spies memberikan andil dan berkontribusi besar terhadap perkembangan kesenian di Bali.
"Sebuah kebangaan dikunjungi delegasi dalam event internasional, apalagi ARM Museum memiliki nilai tersendiri dan berkontribusi dalam melestarikan budaya Bali," ujarnya.
Diharapkan diskusi, dialog dan pameran seni dan kebudayaan lebih tingkatkan lagi sehingga adanya keberlanjutan pariwisata budaya.
Disamping itu, lukisan hingga pohon-pohon di luar gedung juga dilengkapi informasi secara digital melalui barcode baik informasi teks maupun suara.
Dengan demikian, membangun dan meningkatkan platform pembelajaran digital bagi publik yang diusung dalam agenda tersebut sudah sejalan.
Meskipun digitalisasi berkembang pesat, interaksi sosial juga tidak dilupakan yang merupakan warisan budaya luhur dalam menjaga keharmonisan. Sementara itu, Pendiri ARMA Museum & Resort Gung Rai menekankan bahwa museumnya bukan hanya pameran benda mati, tetapi sebagai museum hidup.
Para delegasi bisa menyaksikan keragaman budaya Bali, memiliki ciri khas yang unik. Kebudayaan Bali menerima berbagai budaya yang datang tanpa meninggalkan jati diri.
Apalagi saat ini, Ubud sudah menjadi desa internasional. Banyak orang asing sudah tinggal dan menetap di sana. Untuk itu, toleransi, kepercayaan dan saling menghormati selalu di kedepankan.
Pada kesempatan itu, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek Iwan Syahril memuji dedikasi ARMA Musuem dalam menjaga kebudayaaan.
Sebelumnya dikatakan acara itu menjadi kesempatan bagi Indonesia dan negara peserta dalam berbagi pengalaman, mendiskusikan tentang keberhasilan, tantangan, dan keberlanjutan transformasi pendidikan yang dilakukan, terutama dalam payung Merdeka Belajar.
“Kepercayaan UNESCO dan UNICEF kepada Indonesia sebagai tuan rumah menjadi penyemangat bagi kami karena menunjukkan bahwa transformasi pendidikan yang dilakukan sudah berjalan di arah yang tepat. Kami harap, kompleksitas dan skala transformasi pendidikan yang dilakukan Indonesia dapat menjadi pembelajaran dan pemantik aneka gagasan inovatif dalam pelaksanaan GSVI nanti untuk memperkuat upaya peningkatan kualitas pendidikan yang berfokus pada murid,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek Iwan Syahril.
Kerja sama lintas batas ini bertujuan memastikan agar semua murid, aktor pendidikan, dan keluarga memiliki akses ke platform dan konten pendidikan digital yang berkualitas. Adapun Gateways Study Visit Indonesia menjadi pertemuan kedua bagi negara-negara peserta Gateways setelah sebelumnya dilaksanakan di Mesir pada Mei lalu.
“Saya percaya, pendidikan mengubah bangsa. Sebagai penghubung informasi dan aksi terkait program transformasi pendidikan di Indonesia, Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) melihat perkembangan dan inovasi yang berjalan sudah sesuai dengan apa yang menjadi harapan UNESCO. Peran kita di panggung global juga diejawantahkan lewat terpilihnya Indonesia sebagai salah satu anggota Dewan Eksekutif UNESCO periode 2023–2027, mewakili wilayah Asia Pasifik,” kata Ketua Harian KNIU Itje Chodidjah.
Sementara itu, Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikbudristek Yudhistira Nugraha menyebutkan, Indonesia telah melakukan transformasi ekosistem pendidikan dalam lima tahun terakhir. Platform digital yang dikembangkan secara holistik, antara lain Merdeka Mengajar, Rapor Pendidikan, Kampus Merdeka, akun belajar.id, ARKAS dan SIPLAH.
“Hari ini kita melihat guru-guru yang mendapatkan akses pelatihan berkualitas melalui platform Merdeka Mengajar meningkat 7 kali lipat dibandingkan pada 2019. Selain itu, lebih dari 95 persen sekolah telah melakukan perencanaan berbasis data menggunakan platform Rapor Pendidikan. Artinya, kehadiran solusi teknologi ini membantu aktor pendidikan, seperti guru, kepala sekolah, dan kepala dinas untuk lebih fokus melakukan peningkatan kualitas pendidikan yang berfokus pada murid. Harapannya, capaian-capaian kuantitatif dan kualitatif yang sudah berlangsung ini dapat dilakukan secara berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsa,” kata Yudhistira.
Lebih lanjut, dalam GSVI nanti, terdapat beragam sub-acara termasuk sesi tingkat menteri, pendalaman strategi inovasi dan teknologi pendidikan Indonesia, lokakarya dan diskusi. Tersedia juga ragam kegiatan yang bertujuan membuka wawasan peserta delegasi terkait tantangan, capaian, dan keberlanjutan penerapan transformasi pendidikan di Indonesia. Serta, penampilan seni dari pelajar dan pelaku budaya untuk menunjukkan keberagaman Indonesia.
“Kita sebagai bangsa Indonesia harus merasa bangga diminta UNESCO dan UNICEF untuk menyelenggarakan Gateways Study Visit karena ini merupakan salah satu dari berbagai bentuk pengakuan global bahwa transformasi pendidikan kita sudah berada di jalan dan arah yang tepat. Sehingga, sangat penting upaya peningkatan kualitas pendidikan tersebut dipastikan keberlanjutannya dengan berlandaskan semangat gotong royong bangsa Indonesia,” tutup Iwan. (GAB/ART/001)