Oleh JMA I Ketut Puspa Adnyana
Pemilu dan Harapan Rakyat. Negeri kita Indonesia lahir dari beragam kebudayaan suku bangsa yang mendiami wilayah Nusantara. Kebudayaan, norma, tradisi, nilai-nilai kehidupan itu masih hidup sampai sekarang. Negeri kita baru saja memperoleh pemimpin yang menjadi harapan rakyat, melalui pilpres yang dipilih secara langsung oleh pemerintah.
Harapan rakyat terhadap keberhasilan memartabatkan Indonesia sangat tinggi. Misalnya: pemberantasan korupsi, mengurangi kemiskinan, membangun kesehatan rakyat dan kedaulatan negara.
Pada 27 November kita juga telah mensukseskan pilkada-serentak untuk mendapatkan kepada daerah: gubernur, bupati dan walikota. Harapan rakyat di daerah juga sama dengan harapan pada keberhasilan di tingkat Nasional. Tak kalah pileg juga bersamaan dengan pilpres sehingga memeperoleh waki-wakil rakyat yang memperjuangkan aspirasinya.
Mereka ini semua adalah pemimpin pada bidangnya masing-masing. Pemimpin yang sejati di Indonesia adalah Presiden dan wakil Presiden, yang dipilih langsung rakyat.
Masalah paling besar saat ini dihadapi negara kita adalah persoalan korupsi yang telah membudaya. Memberatas korupsi tidaklah mudah, bukan saja membutuhkan keberanian tetapi sistem hukum yang kuat dan dukungan rakyat. Korupsi sebenarnya tidak dapat dilakukan oleh seorang saja, tetapi memerlukan keterlibatan orang lain. Di seluruh dunia, berdasarkan laporan Transfaransi International, Indonesia berada pada urutan di bawah seratus sebagai negara terkorup di dunia.
Di tingkat ASEAN, negara kita berada pada urutan lima sebagai negara terkorup. Jadi, korupsi merupakan sebuah networking yang besar. Bahwa kejadian korupsi tidak berdiri sendiri: ada aktor utama, aktor kedua dan aktor pendukung.
Kematian Karna, Kematian Sang Pemimpim
Pelajaran hidup warga Nusantara bukan saja dari agama yang dianutnya, tetapi juga dari kisah-kisah inspiratif yang beredar di masyarakat (foklore). Kisah-kisah mahabharata sangat dikenal oleh warga Nusantara, sejak ribuan tahun lalu.
Kisah-kisah dalam Mahabharata menginspirasi berbagai tindakan manusia hampir disemua wilayah yang mengenalnya. Mahabharata mengarjarkan banyak hal. Bukan saja hal pemerintahan, peperangan, strategi, pengabdian, kesetiaan tetapi juga pemberontakan, penyangkalan, kemunafikan, muslihat dan perjudian. Sisi paling menarik Mahabharata adalah cinta dan kasih sayang, cinta segitiga, pun kecemburuan dan dendam.
Perjudian menjadi kisah tersendiri yang menjadi latar penghianatan terhadap kemulyaan wanita. Mahabharata juga mengajarkan kepemimpinan.
Karna kesatriya yang hampir tanpa tanding akhirnya mati di tangan Arjuna, Dananjaya putrakunti. Selain Rsi Ramaprasu, Rsi Drona, Karna adalah seorang “mahawira” yang keahlian berperang dan pengetahuan tentang perang dan persenjataan tidak diragukan lagi. Karna adalah seorang Master Perang, yang memiliki berbagai persenjataan utama. Kalau demikian halnya kenapa ia kalah dan mati di tangan arjuna yang bukan “Mahawira” yang bergengsi? Arjuna berhasil karena memeproleh dukungan dari orang-orang baik.
Karna gugur di pangkuan ibunya, Dewi Kunti. Kamatian yang indah sekalugus tragedi. Dalam situasi cucuran air mata sang dewi sambil melantunkan lagu meninabobokkan anak-anak. Lagu yang lirih itu membuat Panca Pandawa bergetar dan terheran-heran, karena ibunya meratapi musuh paling dibenci. Sementara Karna tersenyum bahagia tanpa mersakan panah di lehernya. Pandawa kakinya gemetar, bibirnya jatuh dan menangis histeris ketika mereka tahu bahwa Karna adalah Kakak Kandung yang berhak atas tahta Hastinapura setelah perang usai.
Arjuna sahabat Sang Awatara, mendekati Krishna menanyakan hal kematian Karna yang mana Arjunalah penyebabnya. Arjunalah paling bersalah dan menjadi dasar neraka kelak di alam baka. Krishna tersenyum dan menjelaskan bahwa kematian Karna adalah akumulasi dari banyak perisitiwa, bukan tunggal hanya Arjuna.
Arjunalah yang terakhir mengeksekusi dari himpunan perisitiwa sebelumnya, untuk menjadi jalinan karma. Krishna ingin mengajarkan kepada Arjuna (dan kita semua) bahwa tidak ada pristiwa terjadi bersifat tunggal. Perisitiwa selalu bersifat majemuk, ada peran orang lain, apakah itu keberhasilan ataupun kegagalan. Apalagi perisitwa besar seperti kematian dan persaudaraan.
Krishna menguraikan benang kusut ini, menjadi untaian pengetahuan yang sejati.
Pertama, Karna dilahirkan oleh seorang Putri yang suci. Putri yang berhati mulia ini memperoleh pengetahuan suci dewata untuk dapat memangil dewa yang manapun, dari Maharsi Druwasa. Ia telah memuja Dewa Surya karena keelokan sinarnya di pagi hari.
Kedua, Karna dikutuk oleh gurunya sendiri Rsi Ramaprasu, bahwa kelak ia melupakan semua ilmu yang diberikan ketika menghadapi situasi genting.
Ketiga, Karna telah memperoleh kututkan dari Dewa Prthiwi yang kelak saat perang keretanya akan terjebak dalam lumpur dan tida ada seorangpun bisa membantu.
Keempat, sebagai seorang dermawan Karna telah mendermakan baju sirahnya kepada Dewa Indra. Baju sirah ini pelindung otomatis yang tidak tembus oleh berbagai senjata.
Kelima, Sri Krishna telah menekan kereta sehingga amblas ke tanah sehingga panah Karna yang sakti tidak memotong leher Arjuna, karena ada keterlibatan maya dari Ular Tatsaka.
Keenam, yang paling fatal, Karna telah meminta Dewi Drupadi duduk dipangkuannya. Sebuah tindakan yang menghina dan melecehkan perempuan bersuami yang tidak bisa diamaafkan kecuali kematiannya. DI seluruh alam raya, penghinaan terhadap perempuan selalu berdampak buruk, kalau bukan kehancuran.
Sri Krishna menjelaskan kepada Arjuna, muridNya, bahwa kelima hal itulah yang memicu kematian Karna. Jadi bukan karena “keskatian” Arjuna sendiri. Arjuna tidak akan mampu bertindak sendiri dan mengeksekusi Karna, bila karna tidak memiliki jalannya. Arjuna hanyalah alatNya untuk mewujudkan karma Karna sendiri. Orang tidak bisa berhasil atau gagal karena dirinya sendiri, harus ada perisitiwa lain yang mengawalinya. Dengan penjelasan Sri Krishna tersebut, Arjuna menjadi lega dan tidak bersedih lagi. Pemimpin dimasa lalu “dinasehati” oleh seorang rohaniwan yang bijak dan mengetahu pengetahuan dengan luas tanpa tendensi untuk kepentingan dirinya sendiri.
Makna untuk Kepemimpinan Masa Kini
Pemilu telah berlalu, Indonesia telah memiliki pemimpin baik di pusat atau di daerah. Semua pemimpin ini menghendaki kemajuan dan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya. Para pemimpin ini juga memiliki watak dan katakter sejak masa kecilnya, terkait kelahirannya. Martabatnya dibentuk sejak belajar dalam keluarga, yang pertama dari ibu dan ayahnya.
Para pemimpin ini tidak sendiri dalam lingkungan fungsi dan tugas-pokoknya. Yang pertama adalah “tim-sukses” yang melahirkan pembantu pemimpin, yang suka berbisik baik atau buruk, mendukung atau mencelakai, menfitnah atau meluruskan. Para pembisik tidak sendiri, masih ada staf ahli (sahli) yang memiliki misi sendri yang tersembunyi, mungkin untuk kepentingan kelompok dan partainya, atau kepentingan dengan misi negara. Dalam atau sekitar pemimpin terdapat banyak kekuatan yang menekan atau yang mendorong keberhasilannya.
Bila pemimpin telah memaknai kisah Karna dan Arjuna, ia akan menyadari ia tidak sendiri. Manusia meskipun ia pemimpin, ia suka terpengaruh oleh pandangan, persepsi, pendapat atau situasi yang berkembang. Karena itu seorang pemimpin memang perlu bergaul dengan orang yang baik-baik. Atau sekalian membangun dinasti kekuasaan untuk melanggengkan hegemoni kooperatif, demokrasi atau oligarki. Semoga para pemimpin dapat membawa Indonesia sesuai dengan tujuan yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar. Rahayu.
*) JMA: tinggal di Kendari, pensiunan Widyaiswara Ahli Utama (IV/e), alumni DIklatpim Tingkat I LAN-RI, Alumbi S2/S3 UGM, belajar Urban Planning di HIS Roterdam-Holand, New Delhi-India, Davao-Makati Philiphines, mantan pengurus parisada Pusat dan Daerah. Kini seorang petani.