Soroti Wartawan Dihalau di Kura Kura Bali, Klarifikasi; Murni Adanya Miskomunikasi
Admin - atnews
2024-12-17
Bagikan :
Kura Kura Bali (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) - Dunia pers Indonesia dihebohkan dengan peristiwa seorang wartawan dihalau oleh petugas keamanan yang diundang resmi untuk meliput acara “Tri Hita Karana Universal Reflection Journey” di Kura-Kura Bali namun mendapat perlakuan tidak layak beberapa waktu lalu.
Hal itu mendapatkan sorotan tajam dari Putu Suasta, Pengamat Sosial dan Budayawan. Ia menilai insiden ini sebagai bentuk penghinaan terhadap kebebasan pers.
“Perlakuan seperti ini menunjukkan bahwa pihak manajemen tidak menghargai wartawan yang hanya menjalankan tugas. Ini adalah bentuk pelecehan terhadap profesi jurnalistik yang dilindungi oleh undang-undang,” ungkap Putu Suasta di Denpasar, Sabtu (14/12/2024).
Lebih lanjut, ia menyoroti masalah kepemilikan tanah yang digunakan oleh Kura-Kura Bali, yang terletak di atas tanah reklamasi.
“Seharusnya tanah reklamasi tersebut dikelola dengan bijak dan memberikan manfaat kepada masyarakat Bali. Bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir pihak dengan cara-cara yang tidak transparan dan tidak ramah lingkungan,” sebutnya.
Sikap arogan ini berpotensi merusak citra perusahaan di mata investor. Ketidakramahan terhadap lingkungan dan media dapat menciptakan persepsi negatif yang sulit diperbaiki.
“Kalau perusahaan seperti ini tidak segera berubah, kita harus ganyang! Jangan biarkan perusahaan yang berdiri di tanah reklamasi terus-menerus melukai lingkungan dan meremehkan masyarakat, termasuk wartawan,” tegas Putu Suasta.
Untuk itu, pejabat dan wakil rakyat turun tangan menuntaskan permasalahan tersebut.
Upaya itu dalam mencegah Kura-Kura Bali agar tidak kesewenang-wenangan dalam terapkan kebijakan.
Apalagi Wartawan sebagai pilar demokrasi harus mendapatkan penghormatan, bukan perlakuan semena-mena.
Untuk menanggapi pemberitaan yang beredar tentang adanya seorang wartawan berinisial AD yang tertahan oleh petugas keamanan Kura Kura Bali pada tanggal 14 Desember 2024 pada saat akan bertugas untuk peliputan acara “Tri Hita Karana Universal Reflection Journey”, maka atas nama penyelenggara THK Universal Reflection Journey, Yayasan UID dan PT Bali Turtle Island Development (BTID), kami memohon maaf atas kejadian tersebut.
“Penyelenggara di hari acara tersebut sudah menyiapkan percepatan dan kenyamanan alur masuk, dengan diterapkannya jalur khusus bagi para tamu VIP dan Media melalui gerbang utama yang sudah dikomunikasikan kepada para undangan,“ ujar Tiza Soekasah, Internal and Media Communications Manager of Communications, PT BTID sebagai pengelola KEK Kura Kura Bali.
Ia menambahkan peristiwa itu murni terjadi karena adanya miskomunikasi antara petugas keamanan dan penyelenggara yang menyebabkan wartawan AD harus menunggu beberapa menit di pos kemananan gerbang masuk berbeda, di mana AD pertama tiba, sebelum dapat diarahkan ke gerbang khusus untuk undangan.
Selanjutnya pihak penyelenggara telah menghubungi kembali wartawan yang bersangkutan dan meminta maaf secara langsung pada wartawan tersebut.
“Sayangnya mungkin beliau sudah mempunyai agenda lainnya, sehingga tidak dapat bergabung bersama dengan rekan-rekan media lain pada acara ini,” ungkap Tiza.
Kedepannya, Ia menambahkan, bahwa harapannya kejadian seperti ini tidak terulang kembali. (GAB/001)