Kompak Kelian Pengempon Pura Tirtha Harum dan BTID Bantah Pemedek Masuk Pura Perlihatkan KTP
Admin - atnews
2024-12-19
Bagikan :
Pura Tirtha Harum (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) - PT Bali Turtle Island Development (BTID) di Serangan, Denpasar sebagai Pengelola Kura Kura Bali tengah menjadi perhatian publik pasca peristiwa seorang wartawan dihalau oleh petugas keamanan yang diundang resmi untuk meliput acara “Tri Hita Karana Universal Reflection Journey” di Kura-Kura Bali namun mendapat perlakuan tidak layak beberapa waktu lalu.
Berikutnya justru beredar pemberitaan media massa dan tesebar di media sosial yang menyudutkan pihak keamanan dari Kura Kura Bali mengenai pemedek (orang yang sembahyang ke Pura) yang hendak bersembahyang di salah satu Pura di Serangan harus memperlihatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Dalam kawasan Kura Kura Bali memang ada Pura Tirtha Harum yang dilakukan upacara atau odalan setiap Anggara Kasih Prangbakat. Bahkan odalan akan segera dilaksanakan pada Hari Selasa, tanggal 24 Desember 2024.
Untuk itu, Kelian Pengempon Pura Tirtha Harum Jro I Nyoman Nada langsung membantah pemberitaan yang menyatakan pemedek ke Pura harus memperlihatkan KTP.
"Itu tidak benar dimintai KTP, pemedek yang ke Pura harus menggunakan pakaian adat," kata Nyoman Nada di Denpasar, Kamis (19/12).
Ia pun merasa keberatan dengan kondisi tersebut. Banyak isu yang dipelintir - pelintir oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Mengenai pemberitaan yang beredar ia juga merasa disudutkan.
"Tidak ada itu, apalagi mereka sudah menggunakan pakaian adat ke Pura, silahkan sembahyang atau menuju Pura," tegasnya kembali.
Pada kesempatan itu, pihaknya mengungkapkan pihak BTID justru membantu kelancaran pemedek malakukan upakara, bahkan sudah dibuatkan jalan khusus sehingga tidak saling mengganggu baik pemedek maupun proses pengembangan Kura Kura Bali.
Bahkan pada acara "Memintar" atau umumnya disebut "Ngelawang" untuk menolak bala memang perlu melakukan koordinasi dengan pihak Kura Kura Bali.
Upaya itu memastikan keamaan agar tidak saling mengggangu. Karena proses pengembangan dan pembangunan masih jalan.
Upakara Memintar tentu krama akan masuk Kawasan Kura Kura Bali ketika melakukan purwadaksina. Mengingat Kura Kura Bali masuk dalam wewidangan Desa Adat Serangan. Upakara itu juga akan dilaksanakan pada tanggal 30 Desember mendatang.
"Keamanan ini bukan untuk mengamankan upakara tetapi memastikan safety para pemedek agar tidak terganggu dari kendaraan proyek," tegasnya.
Ia juga bercerita tentang kawasan BTID, keberadaan Pura Tirtha Harum sudah banyak dibantu, reklamasi untuk tanah sebagai kebutuhan Pura, seperti air bersih dan akses jalan menuju Pura Tirtha Harum.
"Sehingga para pemedek bisa merasa nyaman untuk datang ke Pura ini, " ujarnya.
Bahkan dari sisi keamanan saat berada di kawasan ini, Pretima yang terbuat dari logam mulia dan berharga pun bisa aman.
Pretima merupakan salah satu perlengkapan upacara keagamaan yang ada sejak dari dahulu khususnya di Bali.
Sedangkan Wayan Leder merupakan tokoh lama di lingkungan desa Adat Serangan, ia pernah menjabat sebagai Bendesa Adat Serangan dan juga Kepala Lingkungan Desa Adat Serangan.
Menurut penuturannya bahwa PT BTID telah banyak berbuat bagi desanya. Ia menerangkan bahwa jalan menuju Pura Tirtha Harum juga telah diperbaiki dan layak untuk dilewati secara baik.
"Dulu agak susah akses ke Pura ini dan BTID banyak berbuat untuk perbaikan ini, " ungkapnya, Rabu (18/12/2024).
Ditanya soal "pemedek" yang hendak "tangkil" (sembahyang) ke Pura Tirtha Harum dirinya menyebutkan biasa - biasa saja layak seperti di Pura - Pura lainnya.
"Tidak ada itu, bila orang berpakaian adat Bali dan terlihat sembahyang tidak ada pertanyaan, tapi ada juga klenteng disini pemedek yang berpakaian biasa kami bertanya biasa saja, itu suatu kewajaran, " jelasnya.
Ia juga pernah bercerita sejarah dulu bahwa ada keluarganya yang sempat melahirkan karena belum ada akses jalan seperti sekarang ini, melahirkan di hutan bakau.
Belum lagi pembangunan yang harus ditempuh perahu berbiaya berlipat bisa terpangkas banyak.
"Bisa hemat sampai 50% lah saat ini, " ungkapnya.
Begitu juga, I Made Pasek Sentana Putra selaku Jro Dasaran Pura Tirtha Harum juga berhasil ditemui menyebutkan hal yang sama. Bahwa yang terjadi itu adalah berita bohong atau hoax.
"Selama saya di Pura, sebagai pengempon Pura, saya juga seorang security di BTID, saya sering jaga didepan dan tidak ada pengecekan apalagi dimintai data seperti KTP, " jelasnya.
Soal "pemedek" karena di lokasi Pura tersebut ada sebuah Konco dan mereka yang datang biasanya tidak menggunakan pakaian adat sembahyang khas Bali baru ada pertanyaan.
"Apakah ada janji dengan pak Mangkunya? Kalo sudah Izin ya silahkan masuk. Pura di wilayah BTID (Kura Kura Bali-red) ini juga banyak ada macam - macam, " sebutnya.
Dari segi keamanan, dirinya mengatakan sangat bagus dan penjagaan pagi dan sore serta keliling patroli ke Pura - Pura yang ada di wilayah BTID.
"Saya kesel ya kesel dengan pemberitaan yang jelek itu, kami sebagai pengempon dan warga dan saya sekuriti juga, itu semua tidak ada pemeriksaan seperti itu bila mereka berpakaian ke Pura, tidak boleh kita melarang orang beragama pak, " pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Komunikasi PT Bali Turtle Island Development (BTID), Master Developer dari Kura Kura Bali Zakki Hakim juga menepis isu mengenai kewajiban warga Desa Serangan atau pemedek untuk menyerahkan KTP saat hendak sembahyang di Pura Tirtha Harum.
“Itu tidak ada. Kalau warga Desa Serangan dengan pakaian adat ingin sembahyang, mereka bisa langsung masuk tanpa kendala. Informasi itu mungkin berasal dari zaman dahulu sekali, tetapi tiga tahun terakhir hal tersebut tidak terjadi, ” ujar Zaky Hakim, di Denpasar, Selasa, 17/12/2024.
Pemedek hanya menggunakan pakaian adat, tidak ada kewajiban menunjukkan KTP.
“Kalau untuk upacara sehari-hari, warga bisa masuk dengan aman. Mungkin hanya untuk upacara besar, seperti membawa rombongan atau alat musik tradisional baleganjur, diperlukan pemberitahuan kepada desa adat atau surat untuk koordinasi, ” tambahnya.
Hal itu dilakukan dalam menjaga keselamatan bersama. Kawasan KEK Kura-Kura Bali masih dalam tahap konstruksi dengan banyak alat berat yang keluar masuk lokasi.
“Ini semua untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Kami berkomitmen menjaga keselamatan warga yang hendak melaksanakan persembahyangan, ” katanya.
Selain itu, pihaknya juga merespon isu kawasan KEK yang dinilai eksklusif, warga lokal, terdapat juga keluhan dari masyarakat umum terkait larangan masuk.
Menanggapi hal ini, Zaky mengatakan bahwa area seluas 498 hektare tersebut masih dalam tahap pengembangan dan pengawasan ketat diberlakukan untuk kenyamanan serta keamanan bersama.
Namun, masyarakat tetap diizinkan mengunjungi area tertentu seperti Kampus United In Diversity atau outlet kopi Starbucks yang sudah beroperasi di kawasan tersebut.
Rencana Pengembangan Kawasan
KEK Kura-Kura Bali dirancang sebagai kawasan pariwisata yang mendukung berbagai aktivitas publik dan privat. Pada 2025 mendatang, investor akan melanjutkan pembangunan marina, sekolah internasional, dan hunian mewah.
“Kami pastikan, ketika semua sudah siap, kawasan ini akan lebih terbuka untuk masyarakat. Namun, ada beberapa area yang memang dirancang khusus untuk menjaga kesunyian, sementara area lain didedikasikan untuk keramaian atau acara pesta, ” jelas Zaky.
Kura Kura Bali terus memperkuat posisinya sebagai destinasi investasi unggulan dengan mematuhi prinsip pembangunan yang bertanggung jawab. Pada 14 Desember 2024, sejumlah investor global telah meresmikan kemitraan baru dengan KEK Kura Kura Bali melalui penandatanganan beberapa Nota Kesepahaman (MoU). Kemitraan ini antara lain: 1) Mitsubishi Estate Co. Ltd. (Jepang): Mitra strategis yang akan berkontribusi pada keahlian dan jaringan untuk mendukung pengembangan berbagai area di pulau ini, termasuk marina, promenade, hunian, dan vila; 2) Frederick Tsao, TPC Group (Singapura): Sebuah bisnis keluarga generasi ke-4 yang bertujuan melayani well-being dan menciptakan kekayaan sekaligus, sebagai mitra strategis untuk mengeksplorasi peluang investasi yang berfokus pada dampak di bidang Mindfulness dan Wellness yang terintegrasi dengan mulus dalam rencana induk dan visi keberlanjutan Kura Kura Bali; 3) Pegasus Capital (Amerika Serikat): Mitra strategis yang mengembangkan hotel bintang lima berkelanjutan yang menggabungkan kemewahan dengan keseimbangan alam, serta menciptakan tolok ukur baru untuk perhotelan ramah lingkungan.
Selain itu, Kura Kura Bali juga sedang dalam tahap diskusi lebih lanjut dengan investor lain untuk inisiatif yang mempromosikan praktek berkelanjutan, seperti desain bangunan hemat energi dan pembangunan yang ramah lingkungan.
Kemitraan ini menunjukkan kemampuan proyek untuk menarik minat investor global di Singapura, Jepang, AS, dan negara lainnya, sekaligus memperkuat komitmennya terhadap pelestarian budaya dan lingkungan.
Kemajuan pembangunan telah terlihat di berbagai proyek unggulan, termasuk di antaranya: 1) Grand Outlet Bali (GOB): Kolaborasi dengan Mitsubishi Estate untuk menciptakan destinasi ritel kelas atas; 2) ACS Bali: Sekolah antarbudaya yang mendorong keunggulan dalam pendidikan; 3) Hotel: Hotel empat lantai dengan setidaknya 140 kamar, dan direncanakan untuk mulai beroperasi pada Q4 2026 atau di awal 2027, bersinergi dengan fasilitas dan amenitas GOB.
Kura Kura Bali tetap teguh pada misinya untuk menginspirasi dan berinovasi. Sebagai prototipe master developer yang bertumpu pada prinsip pembangunan berkelanjutan, Kura Kura Bali akan terus berkontribusi pada dampak jangka panjang di Bali, Indonesia, dan dunia, menunjukkan bagaimana kemajuan dan pelestarian dapat berjalan harmonis. (GAB/001)