Jakarta (Atnews) - Putu Suasta, Seorang Pengelana Global, Pendiri LSM JARRAK yang Alumni UGM dan Cornell University mengatakan bahwa planet bumi ini disebut Bhārata-varṣa.
Banyak referensi mengenai nama, asal usul dan gambaran umum Bharata-varsha yang terdapat dalam sastra.
Ada juga yang disebutkan dalam riwayat yang panjang seperti yang telah disajikan, ada pula yang disebutkan secara singkat. Kata "varsha" mengacu pada negara, seperti Bharata-varsha.
Planet Bumi ini sebelumnya dikenal sebagai Ajanabha, mengacu pada masa pemerintahan Raja Nabhi, namun setelah Bharata Maharaja memerintah planet ini, planet ini kemudian dirayakan sebagai Bharata-varsa.
Rsabhadeva adalah putra Raja Nabhi dan cucu Raja Agnidhra, dan dia adalah ayah dari Raja Bharata, yang kemudian namanya planet bumi ini disebut Bharata-varsa.
Sebagaimana dikisahkan Raja Bharata sebagai kaisar dunia. Berdasarkan namanya, planet ini pun dikenal sebagai Bhārata-varṣa.
Sebenarnya, Bhārata-varṣa adalah nama untuk seluruh planet baik pada Pemerintahan Mahārāja Yudhiṣṭhira hingga Mahārāja Parīkṣit memerintah bumi.
Maka lima ribu tahun yang lalu, raja-raja atau kaisar-kaisar Hastināpura memerintah seluruh dunia. Planet ini disebut Bhārata-varṣa , seluruh planet . Tidak seperti sekarang, sebidang tanah kecil. Seluruh dunia disebut Bhārata-varṣa.
Jadi, Pandawa atau Kuru, mereka adalah penguasa dunia. Karena itu, ketika terjadi pertikaian antara dua golongan saudara sepupu (Perang Kurukshetra), dari seluruh belahan dunia, ada yang bergabung dengan pihak ini, ada yang bergabung dengan pihak itu.
Dalam Mahabharata disebutkan bahwa enam puluh empat juta orang terbunuh, dan banyak yang hilang. Tidak seorang pun tahu tentang keberadaan mereka.
Bahkan saat ini India, sejak menjadi tuan rumah KTT G20 nama Bharat (India) semakin populer di dunia dibawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi.
Sebelumnya, ribuan tahun yang lalu, planet Bumi dikenal juga sebagai Ilāvṛta-varṣa. Tetapi secara bertahap seiring berjalannya waktu, bumi ini dibagi berdasarkan batas-batas negara.
Apalagi setelah terjadilah suatu pertempuran. Itulah sejarah India Raya, Mahābhārata. Disebut Mahābhārata. Bhagavad-gītā ini merupakan bagian dari Mahābhārata.
Mahābhārata berarti India Raya atau planet yang lebih besar. Jadi dalam sejarah India Raya itu, ada suatu pertempuran antara dua saudara sepupu, Pandava dan Kuru.
Pandava dan Kuru, mereka berasal dari keluarga yang sama yang dikenal sebagai Dinasti Kuru, dan pada waktu itu, 5.000 tahun yang lalu, Dinasti Kuru berkuasa di seluruh dunia. Demikian juga dijelaskan dalam Srimad Bhagavatam.
Sekarang, apa yang dikenal sebagai Bharata-varṣa hanyalah sebagian kecil saja. Dahulu , planet ini dikenal sebagai Bharata-varṣa .
Akan tetapi, lambat laun, seiring berjalannya waktu, manusia terpecah-pecah dari satu kesatuan.
Sama seperti yang dialami di India, sebelumnya tidak ada Pakistan. Namun saat ini ada negara Pakistan dan Bangladesh.
"Jadi, sebenarnya, dahulu kala tidak ada pembagian di planet ini . Planet ini satu, dan rajanya juga satu, dan budayanya juga satu," kata Suasta di Jakarta, Minggu (12/1).
Hal itu disampaikan ketika melalukan persiapan mengikuti acara Maha Kumbh Mela Prayagraj, di Uttar Pradesh, India.
Maha Kumbh Mela 2025 akan berlangsung setelah 144 tahun karena adanya kesejajaran astronomis yang langka antara planet dan bintang, sejajar lurus. Peristiwa alam yang sangat langka.
Diperkirakan menurut pemberitaan media massa dan Youtube, sebanyak ratusan juta umat dari seluruh dunia datang untuk berpartisipasi dalam acara maha sakral ini untuk menyucikan Alam di Triveni Sangam, pertemuan sungai Gangga, Yamuna, dan sungai Saraswati.
Peristiwa ini, dengan seluruh proses selama satu setengah bulan di sungai suci ini dipercaya dapat menghapus dosa dan memperoleh keselamatan (moksha).
Berlangsung selama 45 hari, Maha Kumbh Mela 2025 dimulai dari Makar Sankranti pada tanggal 13 Januari dan berakhir pada Maha Shivaratri pada tanggal 26 Februari.
Festival ini terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO. Maha Kumbh Mela sebagai festival keagamaan terbesar di Planet Bumi, umat Hindu seluruh Dunia akan merayakan Maha Kumbh Mela di Prayagraj Uttar Pradesh, 620 km dari New Delhi.
Bahkan Perdana Menteri India Modi mengatakan bahwa itu adalah salah satu pertemuan keagamaan terbesar di dunia di mana jutaan peziarah disambut setiap hari untuk Mahayajna yang berlangsung selama 45 hari dan sebuah kota baru didirikan untuk acara tersebut.
Dahulu hanya ada satu bendera, Bhāratavarṣa, dan ibu kotanya adalah Hastināpura. Lambat laun kendali Pāṇḍava menurun. Hingga Mahārāja Parīkṣit, seluruh dunia adalah Bhāratavarṣa. Sekarang telah menjadi tanah kecil, semenanjung.
Ketika Mahārāja Yudhiṣṭhira melakukan yajña pengorbanan kuda, penduduk negara-negara ini juga hadir untuk mengambil bagian dalam perayaan tersebut, dan mereka memberikan penghormatan kepada Kaisar.
Bagian dunia ini disebut Kimpuruṣa-varṣa, atau terkadang disebut provinsi-provinsi Himalaya (Himavatī). Konon, Śukadeva Gosvāmī lahir di provinsi-provinsi Himalaya ini dan bahwa ia datang ke Bhārata-varṣa setelah melintasi negara-negara Himalaya.
Dengan kata lain, Mahārāja Parīkṣit menaklukkan seluruh dunia. Ia menaklukkan semua benua yang berbatasan dengan semua lautan dan samudra di segala penjuru, yaitu bagian timur, barat, utara, dan selatan dunia.
Memang pada masa Maharaja Yudistira atau Sri Ramacandra, manusia terbebas dari segala kekhawatiran. Bahkan tidak ada suhu dingin atau panas ekstrem.
Tiga jenis kondisi menyedihkan – adhyatmika, adhibhautika dan adhidaivika (kesengsaraan yang disebabkan oleh tubuh dan pikiran itu sendiri, yang disebabkan oleh makhluk hidup lain, dan gangguan alam) – semuanya tidak ada pada masa pemerintahan Sri Ramacandra atau Maharaja Yudhisthira.
Namun saat ini, dibandingkan dengan negara-negara lain di muka bumi, India mengalami gangguan yang dibuat-buat. Meskipun terdapat gangguan-gangguan materi, budaya negara ini sedemikian rupa sehingga seseorang dapat dengan mudah mencapai tujuan hidup, yaitu keselamatan, atau pembebasan dari belenggu materi. Oleh karena itu, untuk dapat dilahirkan di India, seseorang harus melakukan banyak kegiatan saleh di kehidupan lampau.
Dalam Bhāgavata Purāṇa menguraikan keagungan Bhārata-varṣa, dan juga menguraikan bagaimana Sri Rāmacandra disembah di wilayah yang dikenal sebagai Kimpuruṣa-varṣa.
Penduduk Kimpuruṣa-varṣa beruntung karena mereka memuja Sri Rāmacandra bersama pelayan setia-Nya, Hanumān.
Sri Rāmacandra merupakan contoh inkarnasi Tuhan yang turun untuk misi paritrāṇāya sādhūnāṁ vināśāya ca duṣkṛtām — melindungi para penyembah dan menghancurkan para penjahat.
Sri Rāmacandra memperlihatkan tujuan sebenarnya dari inkarnasi Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, dan para penyembah mengambil kesempatan untuk mempersembahkan pelayanan transendental yang penuh kasih kepada-Nya.
Seseorang harus berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan, melupakan apa yang disebut kebahagiaan material, kemewahan, dan pendidikan, yang sama sekali tidak berguna untuk menyenangkan Tuhan. Tuhan hanya senang dengan proses berserah diri kepada-Nya.
Ketika Devarṣi Nārada turun untuk mengajar Sārvaṇi Manu, ia menggambarkan kemewahan Bhārata-varṣa, India.
Sārvaṇi Manu dan penduduk Bhārata-varṣa terlibat dalam pelayanan bakti kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan asal mula penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan, dan yang selalu disembah oleh jiwa-jiwa yang telah menyadari jati dirinya.
Di planet yang dikenal sebagai Bhārata-varṣa terdapat banyak sungai dan gunung, seperti di wilayah daratan lainnya, namun Bhārata-varṣa memiliki makna khusus karena di wilayah daratan ini terdapat prinsip Weda varṇāśrama-dharma, yang membagi masyarakat menjadi empat varṇa dan empat āśrama.
Lebih jauh, pendapat Nārada Muni adalah bahwa meskipun ada beberapa gangguan sementara dalam pelaksanaan prinsip-prinsip varṇāśrama-dharma , prinsip-prinsip tersebut dapat dihidupkan kembali setiap saat.
Efek dari mengikuti lembaga varṇāśrama adalah peningkatan bertahap ke tataran spiritual dan pembebasan dari ikatan material. Dengan mengikuti prinsip-prinsip varṇāśrama-dharma, seseorang memperoleh kesempatan untuk bergaul dengan para penyembah.
Pergaulan seperti itu secara bertahap membangkitkan kecenderungan terpendam seseorang untuk melayani Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dan membebaskan seseorang dari semua prinsip dasar kehidupan yang penuh dosa.
Seseorang kemudian memperoleh kesempatan untuk mempersembahkan bakti tanpa cela kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena kesempatan ini, para penghuni Bhārata-varṣa dipuji bahkan di planet-planet surgawi. Bahkan di planet teratas alam semesta ini, Brahmaloka, kedudukan Bhārata-varṣa dibahas dengan penuh semangat.
Semua makhluk hidup yang terkondisikan berevolusi di dalam alam semesta di berbagai planet dan spesies kehidupan yang berbeda.
Jadi seseorang dapat diangkat ke Brahmaloka, tetapi kemudian ia harus turun lagi ke bumi, sebagaimana ditegaskan dalam Śrīmad Bhagavad-gītā ( ābrahma-bhuvanāl lokāḥ punar āvartino 'rjuna ).
Jika mereka yang hidup di Bhārata-varṣa dengan kaku mengikuti prinsip-prinsip varṇāśrama-dharma dan mengembangkan kesadaran Kṛṣṇa mereka yang tertidur, mereka tidak perlu kembali ke dunia material ini setelah kematian.
Setiap tempat di mana seseorang tidak dapat mendengar tentang Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dari jiwa-jiwa yang telah sadar, bahkan jika itu adalah Brahmaloka, tidak terlalu cocok untuk makhluk hidup.
Jika seseorang yang telah lahir di tanah Bhārata-varṣa sebagai manusia tidak memanfaatkan kesempatan untuk peningkatan spiritual, posisinya pastilah yang paling menyedihkan.
Di negeri yang dikenal sebagai Bhāratavarṣa, sekalipun seseorang adalah seorang sarva-kāma-bhakta, seorang penyembah yang mencari pemenuhan keinginan material tertentu, ia akan terbebas dari semua keinginan material melalui pergaulannya dengan para penyembah, dan akhirnya ia menjadi penyembah yang murni dan pulang ke rumah, kepada Tuhan, tanpa kesulitan.
Kehidupan yang singkat di tanah Bharata-varṣa lebih baik daripada kehidupan yang dicapai di Brahmaloka selama jutaan dan milyaran tahun karena meskipun seseorang telah diangkat ke Brahmaloka, ia harus kembali ke kelahiran dan kematian yang berulang.
Meskipun kehidupan di Bhārata-varṣa, di sistem planet yang lebih rendah, sangatlah singkat, seseorang yang tinggal di sana dapat mengangkat dirinya ke kesadaran Tuhan penuh dan mencapai kesempurnaan tertinggi, bahkan dalam kehidupan yang singkat ini, dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.
Bharata-varsa sangatlah bertuah. Kebudayaan Weda penuh dengan pengetahuan, dan seseorang yang lahir di India dapat memanfaatkan sepenuhnya pengetahuan budaya Weda dan sistem budaya yang dikenal sebagai varnasrama-dharma (Sanatana Dharma).
Apalagi Sanatana Dharma melihat seluruh dunia sebagai satu keluarga. Hal itu dikenal “Vasudhaiva Kutumbakam” adalah frasa bahasa Sansekerta yang berarti “Dunia adalah satu keluarga”.
Pepatah India kuno ini menyampaikan gagasan bahwa seluruh dunia saling terhubung dan semua orang adalah bagian dari satu keluarga global.
Pepatah ini mempromosikan nilai-nilai persatuan, kerja sama, dan gagasan bahwa kita harus memperlakukan semua orang dengan kebaikan dan empati, terlepas dari kebangsaan, ras, atau agama mereka. Pepatah ini sering digunakan untuk menekankan pentingnya perdamaian global dan pengertian di antara berbagai budaya dan bangsa.
Konsep "Vasudhaiva Kutumbakam" berakar pada filsafat dan teks-teks India (Bharata-varsha) kuno, khususnya dalam Maha Upanishad dan Hitopadesha. Teks-teks ini merupakan bagian dari warisan budaya dan filsafat India yang kaya, dan sudah ada sejak ribuan tahun lalu.
Perdana Menteri India Narendra Modi menggunakan frasa ini dalam pidatonya di Festival Budaya Dunia, yang diselenggarakan oleh Art of Living, seraya menambahkan bahwa "Budaya India sangat kaya dan telah menanamkan nilai-nilai luhur dalam diri kita masing-masing, kita adalah manusia yang datang dari Aham Brahmasmi ke Vasudhaiva Kutumbakam, kita adalah manusia yang datang dari Upanishad ke Upgraha (Satelit)."
Logo itu digunakan dalam Olimpiade Sains Bumi Internasional ke-7 yang diselenggarakan di Mysore, India pada tahun 2013. Logo itu dirancang untuk menekankan integrasi subsistem Bumi dalam kurikulum sekolah. Logo ini dirancang oleh R. Shankar dan Shwetha B. Shetty dari Universitas Mangalore.
Selain itu, tema dan logo untuk Presidensi G20 India dari 1 Desember 2022 hingga 30 November 2023 menyebutkan “Vasudhaiva Kutumbakam” atau “Satu Bumi-Satu Keluarga-Satu Masa Depan”. Logo tersebut dipilih setelah peninjauan terhadap 2.400 kiriman dari seluruh India yang diundang melalui kontes desain logo.
Suasta banyak belajar dari India, bahkan sudah tujuh kali keliling negara tersebut ,bertemu dengan para tokoh spiritual, intelektual kampus tokoh Hindu dan masyarakat yang tersebar di pelosok - pelosok dalam kurun waktu 30 tahun lebih. Bahkan tinggal di tempat-tempat suci bagi umat Hindu yakni Punjab, Varanasi disebut juga Benares, atau Benaras, atau Kashi atau Kasi, adalah kota suci agama Hindu di tepi sungai Gangga yang terletak di negara bagian Uttar Pradesh di India bagian utara.
Varanasi, bagi umat Hindu, adalah seperti Mekkah bagi umat Muslim atau Vatikan bagi umat Katolik. Ketika berada di India, Putu Suasta bergaul dengan para orang suci atau sadhu.
Suasta yang juga Alumni UGM dan Cornell University melakukan perjalanan spiritual ke India (Bharat) mengunjungi secara khusus tempat suci Jyotisar, Kurukshetra di negara bagian Haryana, India Utara.
Termasuk mengunjungi Akshardham yang merupakan kompleks kuil Hindu yang luasnya kira-kira 200 hektar di pinggiran metropolitan Delhi, India. Termasuk Sungai Gangga di Haridwar,Sarnath, Jaipur, Udaipur, Bharatphur, Agra, Rishikesh dan Mathura.
Begitu juga Angkor Wat di Siem Reap Kamboja komplek Candi Hindu yang luasnya 100 km persegi yang di bangun 1000 tahun yang lalu, juga sempat mengunjungi Batu Caves Temple Hindu Malaysia beberapa waktu lalu.
Putu Suasta pernah belajar di UGM, Universitas New York, dan Universitas Cornell. Pernah menjadi asisten peneliti Prof. Hildred Geertz di Universitas Princeton di New Jersey, menjadi asisten Prof. Ben Anderson dan Prof John Wolf di Univesitas Cornell.
Saat ini, mengajar paruh waktu di Pasca Sarjana UNDIKNAS. Pernah jadi dosen tamu di Universitas Kebangsaan Malaysia, universitas Songkhla,Thailand Unversitas Thaksin, Thailand.(GAB/001)