Oleh Prof I Gusti Ngurah Nitya Santhiarsa
Festival atau Fiesta merupakan kegiatan yang terdiri dari serangkaian acara yang saling berkaitan berdasarkan tema tertentu, seperti acara pentas, lomba, pameran, seminar, workshop, dan pasar atau expo. Serangkaian acara ini bertujuan agar kegiatan berlangsung secara efisien dan efektif, dengan melakukan satu kegiatan bisa meraih beberapa tujuan atau target dan sasaran khalayak yang lebih banyak.
Jika kita simak berita bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar kembali menggelar Kesanga Festival 2025, sebuah gelaran dilaksanakan untuk menyambut Hari Suci Nyepi setiap tahunnya, dimana pada tahun ini, Kesanga Festival akan dilangsungkan selama tiga hari pada 21 hingga 23 Maret mendatang di Kawasan Catur Muka, Denpasar. Ini yang ketiga kalinya, jadi respon warga kota pada acara ini cukup bagus, dengan acara pokok adalah lomba dan pameran ogoh ogoh serta pawai ogoh-ogoh.
Ogoh ogoh adalah replika atau boneka monster raksasa/kala, sebagai symbol sifat keraksasaan dalam diri manusia, yang hendak ditarnsformasikan menuju sifat kedewataan melalui proses tapabrata penyepian, atau menjadi manusia baru di tahun (Saka) yang baru. Fenomena budaya ini menjadi ciri khas masyarakat Bali dalam menyambut tahun baru.
Sesuai perkembangan waktu, sudah waktunya Kesanga Festival diperkaya dengan acara acara yang mempunyai magnet ekonomi yang kuat, sekaligus memiliki aura atau taksu Bali yang otentik dan unik. Acara yang bagaimana?
Sebelum dibahas acara ini, coba kita kaji hari Penampahan Galungan, dimana pada hari itu ada spirit untuk memotong atau mengurangi sifat kebinatangan pada diri manusia, juga sebagai bagian dari upaya melawan Sang Bhuta Tiga, sehingga kita bisa merayakan Kemenangan Dharma pada esok harinya. Mari kita kaitkan Perayaan Nyepi dan Galungan, yang sama-sama punya tujuan menjadikan manusia yang utuh dan utama. Jadi sudah terbayang, acara yang bagaimana dimaksud.
Festival ogoh-ogoh sungguh tepat jika digandengkan dengan festival budaya kuliner, yaitu festival kuliner berbasis olahan daging babi. Kuliner daging babi adalah ciri khas utama kuliner Bali, tidak banyak di Nusantara ini yang intensif mengembangkan jenis kuliner ini kecuali Bali. Makanan olahan daging babi , karena langka, sangat potensial menjadi magnet ekonomi yang kuat bagi Bali, minim competitor, namun sangat banyak peminat, ini sudah memenuhi kaidah ekonomi yang menguntungkan.
Kuliner berbasis daging babi sangat terbuka untuk dikembangkan, bisa menjadi ratusan bahkan ribuan produk, ini adalah potensi yang tidak ada batasnya.
Secara nyata, cukup banyak para UKM yang bergerak dalam usaha kuliner babi, juga yang bergerak dalam usaha minuman kadar alcohol ringan seperti tuak, wine dan arak ringan ( tidak memabukkan) yang memang sebagai penyerta ketika sedang makan daging babi, agar orang tidak mudah mual dan mabuk, serta lebih tahan terhadap gejala peningkatan kolesterol dan obesitas.
Hal ini sekaligus menempatkan kuliner daging babi dan minuman alcohol ringan sebagai tuan rumah di Bali, tidak dimarginalkan oleh kekuatan ekonomi luar yang kebetulan tidak ramah dengan kedua kuliner tersebut baik dengan alasan keyakinan maupun kesehatan.
Jadi, mari semua pihak, terutama para Yowana Denpasar, sebagai penyelenggara Kesanga Festival, sinergikan sumber daya, terutama dari kekuatan ST setiap banjar dan para UKM yang bergerak di bidang usaha kuliner daging babi, kacang dan minuman ringan, agar Kesanga Festival menjadi magnet yang kuat bagi bangkitnya ekonomi lokal Bali dan membantu menempatkan kuliner khas Bali sebagai tuan rumah atau raja di bumi sendiri. Tetap semangat! (*)