Yatra Maha Kumbh Mela 2025;
Jalan Panjang Berliku Menuju Darshan Sri Ram Ayodhya
Admin - atnews
2025-01-28
Bagikan :
Wayan Sayoga bersama Putu Suasta (ist/Atnews)
India (Atnews) - Pemerhati Kehidupan Wayan Sayoga yang juga Ketua DPD Prajaniti Bali mengatakan, Tirta Yatra menuju Prayagraj, lokasi Maha Kumbh Mela 2025 banyak sekali jalan raya yang tiba-tiba ditutup aparat karena dilokasi festival sudah penuh sesak pengunjung.
"Hari ini kami meninggalkan Prayagraj untuk melanjutkan Yatra ke Ayodhya," kata Sayoga bersama Putu Suasta, Gede Ngurah Wididana dikenal Pak Oles didampingi istri, dr. Putu Laksmi Anggari Putri Duarsa, Sp.KK didampingi suami di India, Senin (27/1).
Karena jarak tidak begitu jauh maka harapan sampai ditujuan akan terjadi lebih cepat. Mendapatkan dharsan di tempat yg sangat bersejarah, Janmabhoomi temple-tempat kelahiran Shri Rama adalah harapan dari setiap pengunjung.
Shri Rama disebutkan dalam sastra Veda, khususnya Ramayana adalah sosok Avatara yang sempurna, Purusotaam (manusia sempurna).
Sempurna sebagai pemimpin keluarga dan negara, sekaligus sempurna sebagai pembimbing spiritual.
Oleh karena itu, sejarahnya sangat menakjubkan dan penuh dengan prestasi yang menakjubkan. Shri Rama adalah putra Raja Dasarath, dari garis keturunan Raja Ikshaku, penguasa pertama Bumi, dan penerima pertama wahyu dari Bhagavad Gita.
Sebelumnya Bhagavad Gita untuk pertama kali disabdakan kepada Dewa Matahari (Vivasvan), lalu Dewa Matahari menjelaskan Bhagavad Gita kepada Manu (manusia pertama), baru Manu menjelaskan kepada putranya yakni Iksvaku.
Shri Rama adalah kesayangan ayah dan ibunya, Ratu Kausalya, serta pahlawan dan kesayangan seluruh Ayodha, ibu kota dari apa yang saat itu merupakan kerajaan dunia tunggal.
Rama memiliki semua kualitas kepemimpinan yang mengagumkan, bahkan sejak masa mudanya.
Rama Chandra memiliki semua kekuatan fisik, semua kecantikan, kebijaksanaan agama dalam ketundukan pada Kebenaran, ketenaran karena kehebatannya menggunakan senjata, kekayaan kerajaan, dan penolakan total.
Ia memainkan peran sebagai manusia, namun kedudukannya sebagai manusia dipuji oleh semua orang sezamannya sebagai sesuatu yang layak bagi para dewa.
Rama Chandra digambarkan memiliki warna kehijauan, tubuhnya berkilau seperti rumput hijau segar. Dan Laksmana memiliki warna emas. Laksmana sama menariknya dan sama tangguhnya dengan Rama sendiri.
Berbagai sumber menyebutkan waktu tempuh dari Prayagraj ke Ayodhya sekitar 4-5 jam dengan angkutan darat. Namun sudah bisa juga menuju Ayodhya lewat udara. Putaran kehidupan sehari - hari disini sangat dinamis, banyak hal tak terduga terjadi. Oleh karena itu kita semua mesti menyiapkan diri atas segala kemungkinan yang bisa terjadi .
"Kami berangkat pagi dari Prayagraj dan tengah malam baru tiba di Ayodhya. Kejadian menuju Ayodhya hampir sama dengan kejadian menuju Maha Kumbh Mela di Prayagraj. Banyak jalanan ditutup menuju Ayodhya, karena di area temple yang sudah begitu luasnya ternyata sudah penuh sesak oleh pengunjung," ujarnya.
Ia baru menempuh separuh perjalanan, tiba - tiba sudah dihadapkan dengan kemacetan luar biasa. Kendaraan sama sekali tidak bergerak selama tiga jam lebih dan di sepanjang lebih dari lima puluh kilo meter. Diam total, tidak bergerak sama sekali. "Kita hanya bisa menunggu dan sesekali keluar dari kendaraan untuk sekadar melepas penat dan lelah," bebernya
Singkat cerita, pihaknya akhirnya tiba di penginapan menjelang dini hari dan langsung istirahat. Dan esok paginya agenda kami menuju titik utama yakni Ram Janmabhoomi temple.
Waktu tempuh menuju temple biasanya tiga puluh menit dari penginapan. Sekali lagi, ternyata meleset. Gelombang berbagai kendaraan di jalanan menuju temple demikian padat. "Kami akhirnya turun di ruas parkiran yang seadanya, selanjutnya berjalan kaki lagi beberapa kilo meter. Jalan kaki bagi saya adalah hal menyenangkan," ungkapnya.
Selanjutnya ternyata demikian banyak pintu pemeriksaan yang harus dilewati dengan aparat siaga penuh. Karena pihaknya bukan warga lokal maka tidak mudah bisa mencapai temple Ram Janmabhoomi.
Hal ini bukan saja karena pihaknya warga asing, tetapi yang utama adalah karena disepanjang jalan yang puluhan kilometer dan sudah bebas kendaraan, dipenuhi oleh arus deras massa jutaan manusia menuju titik yang sama. Dari anak -anak, tua muda, ada banyak yang dibantu kursi roda, semua berhasrat memperoleh darshan.
Setelah menempuh jalan panjang berliku dan dengan berbagai pendekatan, pemeriksaan ketat dan pasport pihaknya ditahan, kemudian pihaknya diizinkan memasuki mandala utama Ram Janmabhoomi Temple.
"Saat ada didalam dan mendapatkan darshan saya hanya bisa mencakupkan kedua telapak tangan didepan kening sambil mengucap syukur, dan air mata pun tumpah tidak bisa ditahan," ujarnya.
Sementara warga lokal hanya diberikan kesempatan memutar didepan Arca (Pretima) Shri Rama, tidak boleh diam kemudian langsung diarahkan keluar secara cepat. Semua ini ditempuh aparat karena jutaan yang antre dibelakang dan kepanasan di sepanjang puluhan kilo meter harus segera didorong maju.
"Kami diberikan cukup waktu oleh aparat di mandala utama, lalu keluar mengambil prasadam dan akhirnya pamit," ungkapnya.
Satu pelajaran penting Yatra ke Ayodhya adalah ternyata tidak mudah mencapai tujuan, banyak liku tantangan dan hambatan. "Kita mesti menyiapkan diri menerima segala kemungkinan yang ada didepan mata. Namun tetap fokus, dan niat yang kuat menuju tujuan. Jai Shri Ram," pungkasnya. (GAB/001)