India (Atnews) - Pengelana Global Putu Suasta, Alumni UGM dan Cornell University menjadi saksi sejarah perayaan agung Maha Kumbh Mela 2025 (festival kendi suci) yang jatuh setiap 144 tahun sekali.
Menghadiri Maha Kumbh Mela 2025 menjadi pengalaman mengharukan yang dramatis, langka, yang sulit terlupakan selama hayat yang berlokasi di Prayagraj, bagian dari negara bagian Uttar Pradesh, India (Bharat).
Maha Kumbh Mela 2025 berlangsung selama 45 hari, diperkirakan akan melebihi 400 juta pengunjung selama festival dari 13 Januari 2025 hingga 26 Februari 2025.
Suasta hadir bersama Pemerhati Kehidupan Dr Wayan Sayoga yang juga Ketua DPD Prajaniti Bali, Direktur Utama PT. Pak Oles Tockcer Dr Gede Ngurah Wididana, Ni Komang Dyah Setuti, dr. Putu Laksmi Anggari Putri Duarsa, Sp.KK, Dr Yoga.
Putu Suasta mengatakan, Maha Kumbh Mela berakar pada purana Sanatana Dharma (Hindu). Hal itu sebagai pertemuan publik dan tindakan kolektif keyakinan terbesar di dunia.
Acara itu dipenuhi berjuta juta peziarah mirip lautan manusia, meliputi para petapa, orang suci, sadhu, sadhvi, kalpvasi, dan peziarah dari semua lapisan masyarakat.
"Peziarah ke Kumbh Mela datang dari semua lapisan agama, mulai dari Sadhu (orang suci) dan Naga Sadhu yang mempraktikkan sadhana dan dengan saksama mengikuti jalur disiplin spiritual yang ketat, hingga pertapa yang meninggalkan tempat pertapaannya di lereng Himalaya, mereka hanya datang turun gunung untuk perayaan Kumbh Mela, membersihkan diri, berdoa untuk keselamatan seluruh umat Manusia, Bumi.dan semesta " ujar Suasta di New Delhi, India, Sabtu (25/1).
Kumbh Mela, merupakan ziarah keagamaan yang dirayakan empat kali setiap 12 tahun. Lokasi geografis Kumbh Mela mencakup empat lokasi di India dan situs Mela terus berganti-ganti antara satu dari empat ziarah di empat sungai suci yakni 1) Haridwar, Uttarakhand, di tepi Sungai Gangga, 2) Ujjain, Madhya Pradesh di tepi Sungai Shipra, 3) Nashik, Maharashtra di tepi Sungai Godavari dan Prayagraj, Uttar Pradesh, di Triveni Sangam pertemuan Sungai Gangga, Yamuna, dan Sarasvati yang tidak terlihat.
Perayaan di setiap tempat didasarkan pada posisi astrologi Matahari, Bulan, dan Jupiter yang berbeda.
Perayaan berlangsung tepat pada saat posisi-posisi ini terisi penuh, karena dianggap sebagai waktu paling suci dalam agama Hindu.
Kumbh Mela adalah acara yang secara intrinsik merangkum ilmu astronomi, astrologi, spiritualitas, tradisi ritual, dan adat serta praktik sosial-budaya, sehingga sangat kaya akan pengetahuan.
Selama Kumbh Mela, sejumlah upacara berlangsung; prosesi tradisional Akharas yang disebut "Peshwai" di atas punggung gajah, kuda dan kereta perang, pedang bersinar dan ritual Naga Sadhus selama "Shahi Snaan", dan banyak kegiatan budaya lainnya yang menarik jutaan peziarah untuk menghadiri Kumbh Mela.
Festival besar ini butuh perencanaan bertahun-tahun dan biaya jutaan dolar untuk membangun fasilitas bagi para pengunjung.
Episentrum Maha Kumbh Mela menjadi Kota Sementara yang luas, berdiri sekitar 160.000 tenda, 150.000 toilet, 3.000 dapur, 99 tempat parkir dan jaringan pipa air minum sepanjang 776 mil (1.249 kilometer) telah dipasang di "kota tenda" yang membentang di lahan seluas 4.000 hektar di Prayagraj.
Pemerintah India juga mempersiapkan 2.700 kamera keamanan berbasis AI yang ditempatkan di seluruh kota dan dipantau para ahli. Untuk pertama kalinya, pemerintah menerbangkan drone untuk mengawasi.
Bahkan sejak tahun 1954, Kumbh Mela diselenggarakan secara teratur di India . Upaya pemerintah dalam mengelola acara ini semakin profesional dan berhasil menarik perhatian dunia internasional, yang memicu berbagai bentuk penelitian akademis dan kajian multidisiplin.
Setiap lapisan kehidupan di Kumbh Mela menyentuh banyak aspek, mulai dari astronomi Hindu, astrologi, warisan bangunan, ekologi, hingga makanan lokal. Bagi pengunjung, ada banyak hal bermakna untuk disaksikan dan dipelajari di festival ini.
Selain itu, Maha Kumbh 2025, perayaan agung persatuan dan Vasudhaiva Kutumbakam (Kita Semua Bersaudara) tanpa membedakan kasta maupun latar belakang.
Spirit Vasudhaiva Kutumbakam bergema dalam acara itu, karena banyak relawan yang terlibat termasuk militer. Mereka melalukan pelayanan pada hari suci tersebut.
Adani Group pada acara Mahakumbh 2025, Prayagraj memberikan layanan telah menawarkan lebih dari 50 lakh persembahan makanan bersama ISKCON, distribusi gratis satu crore teks keagamaan, dan fasilitas transportasi gratis untuk orang cacat, lansia, dan anak-anak.
Di Kumbh Mela 2025, kamp-kamp di ISKCON menyediakan lebih dari 300.000 makanan penuh untuk para peziarah, memastikan tidak ada peziarah yang kelaparan. Saat jutaan orang berkumpul di Mauni Amavasya untuk acara sakral ini, para relawan kami tanpa lelah membagikan prasadam (makanan), membuat pengalaman spiritual itu lebih bermakna.
Dijelaskan pula, Vasudhaiva Kutumbakam adalah frasa bahasa Sansekerta yang berarti “Dunia adalah satu keluarga”.
Konsep "Vasudhaiva Kutumbakam" berakar pada filsafat dan teks-teks Sansekerta India kuno, khususnya dalam Maha Upanishad dan Hitopadesha. Teks-teks ini merupakan bagian dari warisan budaya dan filsafat India yang kaya, dan sudah ada sejak ribuan tahun lalu.
Upanishad ini merupakan bagian dari Atharva Veda, salah satu dari empat Veda dalam agama Hindu. Maha Upanishad menekankan kesatuan semua makhluk hidup dan keterhubungan antar manusia.
Berasal dari Maha Upanishad, ungkapan “Vasudhaiva Kutumbakam” adalah bagian dari Shloka ini. "Udaara charitaanaam tu vasudhaiva kutumbhakam"
Artinya: Bagi mereka yang berpikiran terbuka, seluruh planet hanyalah sebuah keluarga
Vasudaiva Kutumbakam disebutkan dalam beberapa kitab suci Hindu, seperti dalam Maha Upanisad dan Hitopadesh
“Ayam bandhurayam neti gananā laghuchetasām, Udāracharitānām tu vasudhaiva kutumbakam”
Artinya: “Pemikiran bahwa hanya dialah saudara saya, selain dia bukan saudara saya – adalah pemikiran dari orang yang berpikiran sempit. Bagi mereka yang berwawasan luas, atau orang mulia, mereka mengatakan bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga besar. ” ( Maha Upanisad 6.72 : ).
Sedangkan, Vasudhaiva Kutumbakam juga ditemukan dalam Hitopadesha, yang merupakan kumpulan cerita dan dongeng India kuno.
“Ayam nijah paroveti gananā laghuchetasām, Udāracharitānām tu vasudhaiva kutumbakam”
“Ini adalah tempat saya dan orang yang berada di luar adalah orang asing, merupakan pemikiran sempit. gunakanlah hati nurani karena bagaimanapun, seluruh bumi adalah sebuah keluarga”. (H itopadesh 1.3.71 : )
Teks itu menggunakan cerita dan pelajaran moral untuk menanamkan kebijaksanaan dan nilai-nilai etika. Frasa tersebut muncul dalam konteks mengajarkan kasih sayang dan gagasan bahwa seseorang harus memperlakukan orang lain sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri.
Pepatah India kuno ini menyampaikan gagasan bahwa seluruh dunia saling terhubung dan semua orang adalah bagian dari satu keluarga global.
Pepatah itu mempromosikan nilai-nilai persatuan, kerja sama, dan gagasan bahwa kita harus memperlakukan semua orang dengan kebaikan dan empati, terlepas dari kebangsaan, ras, atau agama mereka.
Pepatah itu sering digunakan untuk menekankan pentingnya perdamaian global dan pengertian di antara berbagai budaya dan bangsa.
Konsep keluarga global dan keterhubungan semua orang merupakan tema yang berulang dalam filsafat dan spiritualitas India. Hal ini mencerminkan penekanan tradisi filsafat India yang lebih luas pada kasih sayang (karuna) dan kepercayaan bahwa semua makhluk hidup saling terhubung (prinsip “Vasudhaiva Kutumbakam”).
Seiring berjalannya waktu, konsep ini telah mendapatkan pengakuan di luar India dan telah diterima sebagai pesan universal tentang persatuan, toleransi, dan perdamaian global.
Konsep itu terus dikutip dan dirujuk dalam diskusi kontemporer tentang hubungan internasional, pemahaman antarbudaya, dan hak asasi manusia, yang menekankan relevansi abadi dari pesannya.
Begitu juga, ketika India sebagai tuan rumah G20 tahun 2023 setelah Indonesia tahun 2022, tema Kepresidenan G20 India, “Vasudhaiva Kutumbakam” atau “Satu Bumi, Satu Keluarga, Satu Masa Depan”.
Tema dan logo untuk Presidensi G20 India dari 1 Desember 2022 hingga 30 November 2023 menyebutkan “Vasudhaiva Kutumbakam” atau “Satu Bumi-Satu Keluarga-Satu Masa Depan”. Logo tersebut dipilih setelah peninjauan terhadap 2.400 kiriman dari seluruh India yang diundang melalui kontes desain logo.
Tema tersebut menegaskan nilai semua kehidupan, manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme serta keterkaitan mereka di Planet Bumi dan di alam semesta yang lebih luas.
Perdana Menteri India Narendra Modi menggunakan frasa ini dalam pidatonya di Festival Budaya Dunia, yang diselenggarakan oleh Art of Living, seraya menambahkan bahwa "Budaya India sangat kaya dan telah menanamkan nilai-nilai luhur dalam diri kita masing-masing, kita adalah manusia yang datang dari Aham Brahmasmi ke Vasudhaiva Kutumbakam, kita adalah manusia yang datang dari Upanishad ke Upgraha (Satelit)."
Logo itu digunakan dalam Olimpiade Sains Bumi Internasional ke-7 yang diselenggarakan di Mysore, India pada tahun 2013. Logo ini dirancang untuk menekankan integrasi subsistem Bumi dalam kurikulum sekolah. Logo ini dirancang oleh R. Shankar dan Shwetha B. Shetty dari Universitas Mangalore.
Hendaknya dimengerti bahwa segala jenis kehidupan dimungkinkan oleh kelahiran di alam material ini, dan bahwa Akulah ayah yang memberi benih, wahai putera Kuntī. (Bhagavad Gita 14.4 )
"Maka dari itu, pandangan Veda tentang Vasudhaiva Kutumbakam adalah bahwa setiap orang di planet ini tentu saja merupakan bagian dari keluarga kita. Tuhan tidak membuat diskriminasi atau memisahkan orang dengan batas-batas, ras atau warna kulit mereka," ungkapnya.
Mengingat, Planet Bumi ini sebelumnya dikenal sebagai Ajanabha, mengacu pada masa pemerintahan Raja Nabhi, namun setelah Bharata Maharaja memerintah planet ini, planet ini kemudian dirayakan sebagai Bharata-varsa.
Rsabhadeva adalah putra Raja Nabhi dan cucu Raja Agnidhra, dan dia adalah ayah dari Raja Bharata, yang kemudian namanya planet bumi ini disebut Bharata-varsa.
Sebagaimana dikisahkan Raja Bharata sebagai kaisar dunia. Berdasarkan namanya, planet ini pun dikenal sebagai Bhārata-varṣa.
Sebenarnya, Bhārata-varṣa adalah nama untuk seluruh planet baik pada Pemerintahan Mahārāja Yudhiṣṭhira hingga Mahārāja Parīkṣit memerintah bumi.
Maka lima ribu tahun yang lalu, raja-raja atau kaisar-kaisar Hastināpura memerintah seluruh dunia. Planet ini disebut Bhārata-varṣa , seluruh planet . Tidak seperti sekarang, sebidang tanah kecil. Seluruh dunia disebut Bhārata-varṣa.
Jadi, Pandawa atau Kuru, mereka adalah penguasa dunia. Karena itu, ketika terjadi pertikaian antara dua golongan saudara sepupu (Perang Kurukshetra), dari seluruh belahan dunia, ada yang bergabung dengan pihak ini, ada yang bergabung dengan pihak itu.
Dalam Mahabharata disebutkan bahwa enam puluh empat juta orang terbunuh, dan banyak yang hilang. Tidak seorang pun tahu tentang keberadaan mereka.
Bahkan saat ini India, sejak menjadi tuan rumah KTT G20 nama Bharat (India) semakin populer di dunia dibawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi.
Sebelumnya, ribuan tahun yang lalu, planet Bumi dikenal juga sebagai Ilāvṛta-varṣa. Tetapi secara bertahap seiring berjalannya waktu, bumi ini dibagi berdasarkan batas-batas negara.
Apalagi setelah terjadilah suatu pertempuran. Itulah sejarah India Raya, Mahābhārata. Disebut Mahābhārata. Bhagavad-gītā ini merupakan bagian dari Mahābhārata.
Mahābhārata berarti India Raya atau planet yang lebih besar. Jadi dalam sejarah India Raya itu, ada suatu pertempuran antara dua saudara sepupu, Pandava dan Kuru.
Pandava dan Kuru, mereka berasal dari keluarga yang sama yang dikenal sebagai Dinasti Kuru, dan pada waktu itu, 5.000 tahun yang lalu, Dinasti Kuru berkuasa di seluruh dunia. Demikian juga dijelaskan dalam Srimad Bhagavatam.
Sekarang, apa yang kita kenal sebagai Bharata-varṣa hanyalah sebagian kecil saja. Dahulu , planet ini dikenal sebagai Bharata-varṣa .
Akan tetapi, lambat laun, seiring berjalannya waktu, manusia terpecah-pecah dari satu kesatuan.
Sama seperti yang dialami di India, sebelumnya tidak ada Pakistan. Namun saat ini ada negara Pakistan dan Bangladesh.
Dalam purana dijelaskan, Keturunan Manu disebut Manawa, yang secara harfiah berarti keturunan Manu. Manu merupakan leluhur manusia pada setiap Manwantara, yaitu suatu kurun zaman dalam satu kalpa.
Keturunan Manu terdiri dari berbagai generasi, di antaranya yakni 1) Priyabrata, yang menikah dengan Warhismati dan memiliki anak bernama Agnidara; 2) Utanapada, yang memiliki istri Suruci dan Suniti; 3) Akuti, yang menikah dengan Resi Ruci dan memiliki anak bernama Yadnya dan Daksina: 4) Devahuti, yang menikah dengan Resi Kadarma dan memiliki anak bernama Kapila; 5) Prasusti, yang menikah dengan Daksa dan memiliki banyak anak perempuan; 6) Ikswaku, yang menjadi raja Kosala dan leluhur Dinasti Surya; 7) Bhagiratha, yang merupakan raja terkenal dari Dinasti Surya; Shri Rama, yang merupakan raja terkenal dari Dinasti Surya.
Ada empat belas Manwantara, sehingga ada empat belas Manu. Saat ini diperintah oleh Manu ketujuh bernama Vaivasvata Manu merupakan putra Dewa Vivasvat alias Surya hidup pada zaman Satyayuga, saat Dewa Visnu turun ke dunia dalam wujud seekor ikan (matsya).
Keturunannya memerintah sebuah kerajaan yang disebut Kosala, dengan pusat pemerintahan di Ayodhya (India). Garis keturunannya dikenal sebagai Dinasti Surya atau Suryawangsa.
Pada manwantara ketujuh (sekarang), yang menjadi para dewa adalah para Aditya, Sadhya, Basu, Wiswadewa, dan Aswin. Dimana menyandang gelar Indra adalah Purandara atau Urjaswi.
Tujuh resi agung (saptaresi) pada manwantara sekarang yakni Atri, Kasyapa, Gautama, Bharadwaja, Visvamitra, Vasista, dan Jamadagni.
Vaivasvata Manu memiliki beberapa putra yang memerintah kerajaan masing-masing. Mereka adalah Ikswaku, Karusa, Dista, Dresta, Nrega, Narisyanta, Saryati, Pransu, Persadra, Nabaga, dan Ila
Di antara para putranya, Vaivasvata Manu memilih Ikswaku sebagai raja Kosala. Keturunan Ikswaku merupakan para raja dari Dinasti Surya. Para raja yang mahsyur dalam cerita Sanatana Dharma seperti misalnya Bhagiratha dan Rama, lahir dalam dinasti ini.
Dalam kitab Mahabharata disebutkan Manu diberkati dengan kebijaksanaan yang tinggi dan bertindak sesuai darma.
Dan ia menurunkan banyak orang. Dan umat manusia ialah keturunan Manu sehingga disebut manawa. Dan dari Manu-lah seluruh manusia termasuk brahmana, kesatria, vesya, sudra, dan lain-lain berasal, sehingga disebut manawa.
Akhirnya, para brahmana bersatu dengan para kesatria. Dan para putra Manu yang menjadi brahmana mengabdikan hidup untuk mempelajari Veda.
Dan Manu memiliki sepuluh putra yang bernama Ikswaku, Dresta, Narisyanta, Dista, Nrega, Karusa, Saryati, Nabaga, Pransu, Persadra, dan seorang putri bernama Ila. Mereka semua menempuh jalan hidup sebagai kesatria. Selain mereka, Manu memiliki 50 putra lagi.
Dengan demikian pentingnya menjaga persatuan, kesatuan dan perdamaian. Diharapkan hubungan abadi India dan Indonesia menjadi teladan pemimpin dunia, setelah pertemuan Presiden Prabowo dengan PM Modi pada Hari Republik ke-76 selama tiga hari tanggal 24 hingha 26 Januari 2025. (GAB/001)